Roots Rock Rebel #1

  • By: Kimun666
  • Kamis, 8 October 2015
  • 11666 Views
  • 1 Likes
  • 0 Shares

Kembali ke tahun 1980an sampai 1990an, ketika saya masih begitu belia dan takjub dengan para rocker yang wara-wiri di atas panggung. Terbiasa dengan musik tradisional serta pop yang disebut mentri Harmoko sebagai lagu-lagu cengeng yang lazim di TVRI, kehadiran mereka seketika mengalihkan dunia saya.

Ada Power Metal, Rudal Rock Band, Grass Rock, Jamrock, Elpamas, Andromedha, Kaisar, Roxx. Yang membuat saya semakin jatuh cinta adalah hadirnya juga para lady rocker seperti Sylvia Saartje, Renny Djajoesman, Euis Darliah, Nicky Astria, Hilda Ridwan Mas, Mel Shandy, Ita Purnamasari, Anggung C. Sasmi, Atiek CB, Connie Dio, Inka Christie, dan tentu saja favorit saya sepanjang masa, Nike Ardilla. Para rocker ini tampil garang, energik, liar, seksi, dan lebih jauh dari itu mereka tampil bebas.

Menyebutkan nama-nama tadi, tentu saja tak bisa lepas dari satu festival musik legendaris pada masa itu, yaitu Festival Rock Se-Indonesia yang digelar oleh promotor yang tak kalah legendaris, Log Zhelebour.

Tokoh kita ini adalah trubadour bagi festival musik rock di Indonesia sekaligus industri musik yang terbentuk di masa-masa selanjutnya—bahkan ketika pola yang dibangun Log lalu dikritisi para musisi selanjutnya dan disempurnakan oleh pola-pola yang baru.

Log, lahir 1959, aktif menjadi promotor pergelaran musik rock sejak 1977 di Surabaya dan memiliki jaringan yang luas dengan kalangan radio, satu media paling efektif dan gaul pada masa itu. Log lalu bergerak di Surabaya dan Malang dengan menggelar pergelaran-pergelaran musik rock sehingga Surabaya pada masa ini sering disebut sebagai barometer musik rock Indonesia. Sementara Malang adalah kawah candradimuka buat mereka yang merasa jadi musisi. Ada ungkapan saat itu, belum menjadi rocker sejati para rocker itu, jika belum manggung di Malang.

Antara tahun 1978 sampai awal 1980-an, Log meroketkan nama-nama Super Kid, SAS, Rollies, Giant Step, Euis Darliah, Sylvia Saartje, sampai Farid & Bani Adam melalui festival-festival musik rock yang ia gelar secara bergerilya. Mereka tampil di bawah tenda dengan panggung yang disangga dengan drum minyak dan dengan tata suara serta tata panggung seadanya.

Namun satu yang bisa dikelola Log, semua pergelaran yang ia garap semua aman, tak ada kerusuhan, dan bahkan semakin berkembang. Tahun 1980, Log menggelar konser besar bertajuk Rock Power yang digelar dengan sukses di panggung terbuka, menampilkan dua bintang grup rock besar saat itu, SAS Band dan Superkid.

Dari sini, rock semakin menggema dan bergairah. Tahun 1984 muncul semacam kegairahan baru bagi perkembangan musik rock karena di beberapa kota diadakan festival musik rock. Masa ini muncullah grup-grup baru yang membawakan warna musik rock baru di Indonesia dan kita kenal sebagai heavy metal.

Masa ini jaringan Log dengan radio-radio semakin memperkukuh musik rock di blantika musik Indonesia. Kerja samanya dengan sponsor rokok Djarum Super di masa selanjutnyalah yang kemudian semakin mendominasi warna musik Indonesia saat itu dengan digelarnya Djarum Super Rock Festival tahun 1984, 1985, 1986, 1987, 1989, dan 1993.

Gagasan digelarnya festival rock saat itu karena ia ingin mendobrak citra musik rock yang seakan-akan harus membawakan lagu berbahasa Inggris. Yang lebih parah lagi, band rock Indonesia seolah-olah wajib membawakan atau bahkan meniru grup rock Barat. Sekadar ilustrasi, saat itu God Bless identik dengan Kansas, Cockpit meniru Genesis, atau SAS yang mengacu ELP.

Log mendobrak iklim tersebut dengan mewajibkan band-band rock yang tampil di panggungnya untuk membawakan lagu sendiri. Dari festival-festival inilah muncul nama-nama yang saya sebutkan di awal kisah.

Satu catatan penting pada masa ini adalah mengenai pola festival musik rock yang ada pada masa itu. Festival-festival ini digelar dengan napas industri musik besar sehingga arah musik di panggung ditentukan dan disesuaikan dengan angin pasar yang berhembus di ranah industri musik. Band-band tampil dengan lagu wajib serta lagu pilihan, dan band yang bagus adalah band yang paling mirip menirukan band-band dari luar negeri.

Pada masa ini muncullah sebutan-sebutan seperti “Bon Jovinya Indonesia”, “Guns N’ Rosesnya Indonesia”, “Metallicanya Indonesia”, “Sepulturanya Indonesia”, dan sebagainya. Band-band pemenang festival secara otomatis mendapatkan tiket untuk tur dan rekaman.

Walau pun demikian, Log sendiri bukannya tak sadar akan akar musik rock Indonesia. Ia tahu betul bahwa ranah ini harus menjadi industri yang berkelanjutan. Hal ini tak bisa terbentuk jika band rock Indonesia tidak memiliki akar yang kuat, minimal dalam diri mereka sendiri.

Maka Log sendiri yang kemudian melarapkan antitesis dari pola di atas. Selain kewajiban dan pilihan band-band rock, ia mencari alternatif akar musik rock Indonesia untuk ditampilkan di panggungnya melalui kewajiban band untuk membawakan lagu-lagu ciptaannya sendiri. Karya-karya musik rock yang tercipta pada era ini lalu Log rilis lewat Logiss Records, perusahan rekaman milik Log dan kawannya Iwan Sutadi Sidarta.

Iwan sendiri merupakan pemilik Indo Semar Sakti, yang memayungi perusahaan rekaman King Records, Billboard, Aruna dan Buletin Intrernasional. Sejak 1989, para pemenang festival musik rock kemudian secara otomatis terikat kontrak rekaman dengan Logiss Records.

Keterlibatan sponsor perusahaan rokok juga sangat mewarnai rock pada masa ini. Dari konser-konser musik rock tingkat kampus hingga tingkat nasional, bahkan dunia, perusahaan rokok selalu tampil menjadi sponsor utama pergelaran-pergearan musik rock Indonesia.

Kehadiran sponsor ini tentu saja memberikan angin segar, memungkinkan para promotor untuk mewujudkan angan-angan mereka mengenai panggung musik rock yang megah, berani, liar, namun tetap dalam koridor kaidah pergaralan yang aman dan nyaman.

***

Satu festival musik rock yang paling saya ingat adalah yang dielar di Alun Alun Ujungberung tahun 1990. Saat itu, di tengah musik rock yang melengking-melengking dengan segala macho-centil khas rock saat itu, tampillah satu band yang tampil garang menggeram.

Musiknya menghentak cepat dan hingar, dan di tengah bingarnya pada saat itu saya sama sekali tidak mengerti di mana harmonisasi musik yang mereka mainkan selazimnya musik rock yang biasa saya dengarkan. Namun saya tertegun, pandangan saya tak lepas sedikitpun dari empat musisi yang tampil di atas panggung, telinga saya mencoba untuk terus mencerna apa yang sebetulnya mereka mainkan.

Ada satu semangat baru yang ditampilkan band yang kemudian saya tahu dari kawan saya memainkan satu hasrat musik baru bernama thrash metal. Ada satu hentakan dalam musik yang mereka mainkan yang menggugah saya bahwa rock itu tak cuma sebuah hasrat musik belaka namun lebih jauh dari itu : sebuah media pembebas.

Band yang saya saksikan di Alun Alun Ujungberung tersebut adalah Jasad. Band yang kemudian secara personal membangun konsep-konsep dasar musik metal di dalam diri saya sekaligus menarik saya untuk masuk ke dalam ranah musik metal lebih jauh lagi sehingga di pertengahan 1990an sampailah saya—dan kawan-kawan di Ujungberung—pada satu titik : rock adalah keragaman dan dalam keragaman, inovasi mutlak harus terus dilakukan.

Di tengah segala keterbatasan yang ada di ranah musik thrash metal dan death metal saat itu, termasuk termarjinalnya musik ini di ranah arus utama musik rock dan metal Indonesia, lahirlah satu semangat dan pola baru membangun musik rock : komunalisme, independensi, dan kebebasan yang perlahan menyeimbangkan pola musik rock yang sudah mapan 20 tahun sebelumnya.

Bersambung

 

Foto: wallpaperlepi.com, apuyizma.com, aga-kareba.asia, gerilyamagazine.com

0 COMMENTS

Info Terkait

superbuzz
27 views
superbuzz
188 views
superbuzz
89 views
superbuzz
178 views