Sadness Is Bliss

Sadness Is Bliss

  • By: Alvin Yunata
  • Jumat, 15 January 2021
  • 466 Views
  • 0 Likes
  • 0 Shares

My 10 loveliest timeless depression songs in pandemic, sebuah catatan tentang adiksi terhadap musik depresi (in a good way). 

Sebagian besar orang seperti saya yang tumbuh berkembang dan puber di tahun 1990 sangat dekat dengan term music yang cenderung keras. Khususnya di Indonesia tahun-tahun ini musik macam metal sedang digandrungi oleh kawula muda. Di era ini pula turunan musik keras yang sempat disapa dengan sebutan Underground ini mulai berkembang, salah satunya musik macam Punk Rock pun mulai merebak. Tak lama kemudian diikuti dengan term brit pop dan musik alternative menyusul masuk mewabah, yang menyeret istilah “indie” kemudian menggantikan pamor “underground”.

Anak generasi 90-an seperti saya ini adalah salah satu contoh cetakan westernisasi yang berhasil dan biasanya sarat akan penyuka musik keras dari barat. Track records bermusik saya pun tak pernah keluar dari area musik keras, namun ada satu term yang mengubah hidup saya yaitu term Britpop dan Alternative. Ada orientasi yang baru setelah saya mendengarkannya lebih jauh, entah sisi melankolis saya tiba-tiba terusik lewat term ini. Hingga saat ini sisi “melankolis” itu tak pernah bisa pergi terus membayangi saya seakan-akan saya selalu memiliki dua sisi.

Sisi melankolis itu makin menjalar ketika saya kerap mendalami term Britpop, saya gali terus hingga ke akar. Lima tahun sejak tahun 1995 semua semakin menjadi-jadi saya benar-benar rela melepaskan atribut metal saya yang saya anggap sudah usang dan tidak bisa saya terima lagi, untungnya sisi Punk Rock saya mengakar kuat maka setidaknya sisi keras saya masih menggantung disana. Awal jatuh hati ketika pertama kali mendengarkan Morrissey saat SMA sebelum mundur ke era The Smiths, saya mulai menggemari lirik-lirik sarkasnya, baru kali ini merasa rasa pesimis ini sangat bisa dinikmati lebih syahdu lagi. Beautifully depressing komentar pertama saya ketika perdana mendengarkan album debut Suede lagu “The Next Life” untuk hal yang paling gelap dan depresif terdengar indah. Certain sadness is bliss! Ini zat adiktif baru, lalu fase penggalian pun dimulai semakin dalam dan tenggelam. Tentunya kondisi masa ABG saya yang labil mendukung proses penggalian saya, seperti mendapuk lagu “This Love” milik Craig Amstrong featuring Elizabeth Fraser (Cocteau Twins) menjadi ikon Mars putus cinta. 

Mendengarkan Blue Boy dan Trembling Blue Stars ternyata malah memperparah keadaan saya semakin tenggelam, “I am a loser, so what?!”

Sedikit kita singgung secara keilmuan ada hal yang menarik dalam kasus ini, pada tahun 2015 silam sebuah tim penelitian dari University of Florida yang dipimpin oleh Sunkyun Yoon telah melansir kesimpulannya dalam Journal Emotion. Dinyatakan bahwa lagu-lagu sedih lebih menenangkan ketimbang lagu yang bersemangat, malah dari ketenangan itulah nantinya mampu menimbulkan rasa semangat.

Para peneliti kembali membuktikan orang dengan depresi memiliki preferensi yang jauh lebih besar untuk musik yang sedih dan berenergi rendah. Hasil riset membuktikan, orang yang merasa sedih --meski tidak menderita depresi, merasakan memiliki teman yang mendukung saat mendengarkan lagu sedih. 

Namun seiring dengan waktu euphoria mendengarkan lagu tipe tersebut malah membawa sensasi yang abadi dalam diri saya, hingga kepada titik ini seperti adiksi tanpa peduli dengan suasana hati saya tertarik oleh magnet besar untuk selalu mendengarkannya. Tanpa disadari hingga saya membutuhkan untuk mendengarkannya.

Sensasi ini memang selalu ada dalam DNA algoritma saya dalam mendengarkan musik, namun tahun 2020 berbeda repertoire macam ini menarik berkali kali lipat. Pandemi bukan hal yang baik walaupun selalu ada sisi positif yang nyatanya ada. Masuk tahun 2021 ternyata wabah masih meradang banyak pihak harus ekstra keras untuk bisa bertahan dan sepertinya saya akan share 10 lagu bernuansa sedih dan depresif versi saya sepanjang masa untuk menemani perjuangan di era pandemic, semoga kesedihan ini berbuah ketenangan dan semangat baru.

List lagu yang akan saya sebut dibawah ini bukan urutan, tidak menandakan mana yang lebih utama. 10 adalah angka yang sedikit diantara lagu-lagu sedih terbaik versi saya, tak muyngkin saya umbar satu persatu, ini hanya sebagian kecil yang mewakili saja saya ambil dalam rentang waktu periode awal 90-an hingga awal 2000-an.

Mazzy Star – Fade Into You

Ini lagu terkeren yang memang layak untuk populer, beberapa film menggunakan lagu ini sebagai soundtracknya. Vokal Hope Sandoval yang dingin dan seksi adalah daya tariknya, Nico versi 2.0. Diambil dari album So Tonight That I Might See.

Suede – The Next Life

Seperti yang saya ceritakan diatas, ini lagu yang sangat personal bagi saya, lewat lagu inilah akhirnya saya terjun bebas. Diambil dari debut album self-titled mereka.

Blue Boy – Boys Don’t Matter

Perkenalan dengan Blue Boy benar-benar menakjubkan, lagu ini mampu mengasah sisi melankolis saya lebih tajam lagi. Saya menemukan ketertarikan khusus dengan lagu ini hal pesimis ternyata bisa membawa saya dalam ketenangan. Diambil dari album Unisex.

The Sundays – Wild Horses

Album kedua The Sundays ini penuh kenangan, poster berukuran raksasa terpampang di kamar kos-kosan tongkrongan yang kelak akan menjadi brand clothing besar di Bandung, 347. Seiring dengan bermulanya karir Cherry Bombshell di Alexandra Wuisan era. Blind album terbaik The Sundays, semua materi lagunya kuat, namun yang menarik di track terakhir mereka membawa ulang lagu Wild Horses milik The Stones dengan brilliant!

Cocteau Twins – My Truth

Jujur awalnya saya tidak mengerti apa yang mereka katakan dalam liriknya, cara Elizabeth Fraser bernyanyi memang unik, polesan Robin Guthrie menjadi alasan saya tidak peduli akan liriknya sepanjang nada-nada yang tersuguhkan begitu lirih mengalahkan semuanya. Diambil dari album terakhir mereka Four Calendar Café, Cocteau Twins goes to pop siapa peduli mereka tetap terbaik.

Mojave 3 – My Life In Art

Saya mengerti pasti kalian bertanya kenapa tidak Slowdive saja? Bagi Neil Halstead di Slowdive memang sudah cukup personal namun lagu ini punya cerita lain bagi saya. Setelah Slowdive bubar Neil memutuskan untuk bersolo karir dan saya adalah Neil’s stalker dan khususnya di lagu ini seperti spesial bagi saya, mencerminkan momen solitude yang sempurna. Diambil dari album Excuses For Travelers.

Red House Painters – Mistress (Piano Version)

Selalu menyukai atmosfir band ini, esensi kesendirian yang mirip dengan Mojave 3 mungkin lebih dingin salah satu album yang selalu menemani perjalanan tour di bis di era album pertama ketika saya masih bersama band Harapan Jaya. Perjalanan tour yang panjang berakhir dengan kesendirian, good memory indeed.Diambil dari album Rollercoaster atau dikenal juga dengan Red House Painters I.

Saint Etienne – Hobart Paving

Nuff said siapa sangka lagu semelankolis ini muncul dari band keriaan macam Saint Etienne, so personal. Diambil dari album kedua mereka So Tough.

Dot Allison – Message Personel (Try both original version and Arab Strap version)

Lagu sedih yang paling sakit (dalam hal penulisan lagu) sekaligus paling menghipnotis ada dua versi yang menarik selain versi originalnya, yaitu hasil edit Arab Strap. Album debut solo Dot Allison berjudul Afterglow ini memang patut diacungi jempol. 

The Cure – Plainsong

Ketika wabah Britpop menyerang Indonesia The Cure menjadi salah satu nama yang besar dikalangan anak muda, semua murid sekolah memiliki band yang meng-cover band ini. Dan lagu ini mampu menghantarkan listrik bermuatan cukup besar kedalam hati saya, kesedihan yang agung. Diambil dari album Disintegration.

0 COMMENTS