Seni Di Era Industri

  • By: Yuki Arifin Martawidjaja
  • Senin, 31 August 2015
  • 3511 Views
  • 1 Likes
  • 0 Shares

Dunia kesenian itu kan dunia yang subjektif. Makanya kenapa itu juga tidak bisa disebut ilmu, banyak sekali dipertnyakan pada awal abad 19. Karena bila ingin disebut ilmu itu harus objektif dan juga sistematis. Setiap suku banngsa punya ciri khas masing-masing terhadap seni itu. Nah apapun yang terjadi dengan keterikatan aturan ilmu dan sebagainya. Walaupun diakui sebagai ilmu, ada ikatan yang begitu-begitu saja tidak pernah berubah. Yaitu hubungan antara latar belakang kehidupan senimannya dan karyanya. Itu dasarnya, tapi ketika industri berkembang di dunia musik, banyak orang yang menghancurkan itu. Semuanya serba dikuasai hingga akhirnya hanya satu yang dijadikan komoditas yakni yang bersifat lebih menyentuh orang-orang kelas menengah ke bawah guna mendapatkan pasar yang besar. Makanya dari situ juga banyak bermunculan kritikus dan pemerhati musik yang idealis dan mereka berpendapat musik setelah tahun 60an bukan lagi kesenian, setelah industri berkembang di Amerika.

Tapi kalau melihat apa yang dibangun dari budaya musik yang lahir di setiap eranya juga tak bisa memandang mata bahwa musik hanya sebatas industri. Walaupun memang banyak musik yang konvensional, tapi tak sedikit juga yang inovatif an itu berpengaruh besar pada zaman. Contohnya ketika orang-orang hanya memainkan musik yang biasa tiba-tiba datang Elvis Presley dan semua orang ingin menjadi seperti dia. Tetapi ketika semua bergaya ala Elvis tiba-tiba ada sekelompok orang yang memainkan musik 'asal' dengan berteriak-teriak, rambut poni, goyang twist yaitu The Beatles dan ya mereka merombak dunia. Sampai orang-orang  yang berada di pelosok dunia pin berbondong-bondong ingin seperti The Beatles. Di tahun 90an ketika orang lain memainkan musik secara rapi, bening dan berskill dengan style rambut disaksak, muka didanadan manis ala Sebastian Bach Skid Rown, tiba-tiba datang skelompok yang berpenampilan kucel dengan flanel, kaos oblong, celana robek dengan gaya grungenya. SEmua orang saat itu ingin menjadi Kurt Cobain, Mike Patton maupun Pearl Jam. Dan itu musik yang mewakili generasi X ketika itu. Itu makanya musik itu engga hanya dinggap sebagai barang komoditi industri, tetapi inovator seperti yang disebutkan tadi punya pengaruh besar dan mengubah dunia.

foto : tvguide.co.id, saraleuiismusic.weebly.com

1 COMMENTS
  • dvendy

    Nice infoh gan.

Info Terkait