Soleh Solihun: Sensual Itu Menjual

  • By: Soleh Solihun
  • Senin, 31 August 2015
  • 6087 Views
  • 1 Likes
  • 0 Shares

Anda pasti pernah dengar dong, ungkapan yang terkenal itu. Don’t judge a book by its cover, alias jangan menilai buku dari sampul. Ungkapan yang sangat naïf, karena bahkan buku pun seringkali, laku karena sampulnya. Kalau buku jangan dinilai dari sampulnya, buat apa penerbit memikirkan baik-baik sampul buku sebelum diterbitkan? Buat kepribadian seseorang, mungkin ungkapan itu berlaku. Tapi buat yang lainnya, agak susah. Apalagi buat dunia hiburan, termasuk di industri musik.

Saya pernah mendengar cerita soal penyanyi perempuan Indonesia yang tak kunjun dikeluarkan albumnya oleh perusahaan rekaman karena badannya sedang menggelembung. Maka, ketika berat badannya sudah menurun, si penyanyi bisa mengeluarkan albumnya. Terdengar kejam? Memang. Tapi yah itulah kerasnya dunia hiburan.

Saya mau menulis topik yang lebih spesifik di tulisan ini. Penyanyi perempuan. Dua hal yang saya suka ada di situ: musik, dan perempuan. Hehe.

Ada beberapa nama penyanyi perempuan yang saya sukai. Dari era 70-an, ada Debbie Harry, vokalis Blondie yang sekarang masih aktif bernyanyi dan sudah jadi nenek-nenek. Era ’80-an, ada Madonna, yang sekarang juga masih aktif bernyanyi dan badannya terlihat lebih atletis dibandingkan saya. Haha. Lalu, di era 2000-an, ada Avril Lavigne yang dulu pertama kali terkenal karena lagu “Sk8r Boi” dan “Complicated.” Belakangan, saya suka Katy Perry, Lana Del Rey, dan Taylor Swift. Kesamaan mereka adalah semuanya berwajah cantik.

Oke, Anda boleh bilang, “Ah, itu kan musik pop. Di musik rock tak berlaku dong.”

Eh, jangan salah. Di musik rock pun tetap butuh. Tadi saya sudah tulis soal Debbie Harry kan. Blondie jadi salah satu band yang jadi popular, di antara sekian banyak band punk yang tumbuh di akhir ’70-an di New York City. Itu sebabnya juga, banyak yang kemudian iri dengki terhadap kesuksesan Blondie dan menganggap bahwa itu karena pesona Debbie Harry saja.

Salah satu band rock n’ roll yang kaya akan sensualitas adalah The Runaways. Vokalis Cherry Currie… pada masanya. Wiih. Bikin deg-degan yang melihatnya. Gitaris Joan Jett, meskipun tomboy, tetap saja dia sensual. The Runaways adalah salah satu band yang sukses menggabungkan sensualitas dengan liarnya musik rock n’ roll.

Lalu ada band-band rock yang vokalis perempuannya punya daya tarik tak hanya suara yang bagus. Ada Shirley Manson dari Garbage, Dolores O Riordan dari Cranberries, hingga Hayley Williams dari Paramore. Mau tak mau, kita harus mengakui bahwa salah satu yang membuat band-band itu terkenal adalah sensualitas sang vokalis perempuan.

Kalau di Indonesia, salah satu contoh paling baru sih, Kotak. Dua personel perempuannya, jadi salah satu daya tarik band itu. Sebelum era Tantri dan Chua, nama Kotak tak sepopuler sekarang. Saya berani berkata, bukan hanya lagunya yang membuat Kotak sekarang sukses. Tapi daya tarik Tantri dan Cua, salah satu penyebabnya. Apalagi sekarang, sedang ada kekosongan di sosok perempuan dalam rock. Coba, Anda sebutkan siapa sosok penyanyi masa kini yang identic dengan rock? Susah kan. Pasti Tantri ada di urutan pertama dalam daftar yang ada di benak Anda, tapi di bawah Tantri ada susah mencari nama lain.

Tapi, sensualitas saja tak cukup.

Sensual itu menjual, selama didukung oleh musik. Dari era ’80-an, selain Anggun ketika masih jadi Anggun C Sasmi dan memakai baret, nama Nicky Astria adalah salah satu idola saya kalau bicara soal musik rock. Vokalnya bagus, lagunya enak, dan secara visual juga sungguh membuat hati senang. Daya tarik Nicky dipadu dengan aransemen musik Ian Antono, menghadirkan musik rock yang memuaskan mata dan telinga.

Kalau bicara soal konteks band lokal, mungkin Anda pernah mendengar yang namanya Geger.  Sebuah band rock yang semua personelnya perempuan. Secara visual cukup sensual. Konsep band nya pun bagus. Rock band yang semuanya perempuan. Saat mereka muncul, di Indonesia tak ada lagi yang bisa menembus industri musik seperti Geger. Tapi mereka tak bertahan lama. Saya tak tahu apakah ada persoalan internal di antara mereka, tapi kalau bicara soal sisi musik, sesensual apapun penampilan Geger, mereka tak punya lagu hits yang bisa membuat publik terus menyukai mereka.

Beda dengan Kotak misalnya. Lagu hits nya ada. Tetap terasa rock nya. Dan tetap terlihat sensualitasnya. Nah, sebenarnya sekarang ada kekosongan di segmen penyanyi solo perempuan yang membawakan lagu rock. Nicky Astria memang sempat punya single baru lagi, tapi entah karena kurang dipromosikan atau karena dia tak sesensual ketika muda, makanya lagunya tak jadi hits. Tapi ya Nicky Astria adalah sosok lama. Sosok masa kini di segmen penyanyi solo perempuan yang menyanyikan rock, belum ada.

Jadi, pesan saya buat para penyanyi atau calon penyanyi perempuan—mau nyanyi rock atau pop, sama saja. Musik saja tak cukup. Kalau cuma lagunya yang enak didengar, tapi penyanyinya tak enak dilihat, kemungkinan besar akan lebih berat bersaing di industri musik. Manfaatkan sensualitas dalam diri Anda. Bukan berarti Anda harus murahan ya. Sensual itu tak berarti murahan. Ingat, bukan cuma kepribadian yang penting. Penampilan juga.

Jangan jadi naïf, lah. Lagipula, Naif mah sudah milik David, Jarwo, Emil, dan Pepeng.

 

Foto : www.legendfire.com

0 COMMENTS

Info Terkait

supernoize
859 views
supernoize
859 views
supernoize
859 views
supernoize
859 views
supernoize
859 views
supernoize
3094 views

Saat Venue Musik Gugur Perlahan