Marcell: Sidestream atau Mainstream, Jadilah Musisi Waras Bertanggungjawab

Silahkan panggil saya terbelakang, tertinggal, kuno, kolot, konservatif, enggak 'hipster' atau apapun itu, saya hanya merasa kurang sreg dengan yang namanya 'pergerakan musik independen' negeri ini yang menurut saya jadi agak melenceng filosofinya.

Pergerakan musik independen, sering juga disebut sebagai pergerakan musik sidestream, suka diidentikan dengan idealisme bermusik yang bebas dan 'liar', tidak mau dikontrol pasar, anti mainstream, anti major label, anti kemapanan dan segala-gala anti-anti lainnya.

Apakah begitu? Hmm, gini.

Setelah sempat menyicipi peran sebagai musisi sidestream independen sejak umur 13 tahun sebagai drummer sebuah band yang (katanya) legendaris sampai akhirnya menjadi salah satu penyanyi di 'blantika' industri musik mainstream tanah air, saya merasa perlu memberikan sedikit perspektif bahwa memang terdapat banyak perbedaan cukup signifikan mengenai konsep 'independen' yang saya tangkap dengan konsep yang saat ini diimani oleh kebanyakan musisi independen tanah air.

Mengenai masalah terminologi dan peristilahan pergerakannya sendiri, saya ingin tegaskan bahwa independen atau 'indie' itu pergerakan, bukan jenis musik, apalagi ada yang sampai bilang aliran 'musik underground'. Itu bukan aliran musik, jang (red – panggilan laki-laki dalam bahasa Sunda). Itu pergerakan. Entah siapa yang bikin ide 'aliran musik underground' sampai semua melatah ikut-ikutan tidak karuan. Kalau ketemu orangnya, pasti saya toyor. Belegug kalau kata orang Bandung.

Pergerakan 'indie' di masa saya dulu terlahir dengan istilah DIY, singkatan dari Do-It-Yourself. Semua dilakukan sendiri secara mandiri, sebagai contoh beberapa teman saya di awal era 1990-an pernah memprakarsai sebuah festival band yang mana dananya diambil dari dana yang dikumpulkan secara kolektif atau patungan atau dipungut secara door to door dari mereka-mereka yang dirasa mampu mensupport secara finansial. Ya, door to door. Dengan proposal. Seperti acara tujuh belas agustusan. Sekarang? Festival musik indie dengan sponsor produk. Sudah tentu lain hasilnya. Dan menurut saya, ini juga berangkat dari paradigma awal 'indie sebagai genre' yang salah kaprah.

Kini, konsep salah kaprah yang saya tangkap juga adalah bahwa yang disebut sebagai musik independen yang kekinian adalah musik yang tidak boleh enak didengar, harus aneh, harus beda, harus nyeleneh, harus nyentrik, tidak boleh laku, harus kontra dengan selera pasar. Kalau terdengar enak maka menjadi tidak idealis, alay, selling out, komersil, menye-menye dan sebutan-sebutan lainnya yang justru menurut saya malah terlihat sok kece dan sok eksklusif.

Ada sebuah cerita: seorang sahabat saya, yang juga adalah musisi, sound engineer, produser dan juga pemilik sebuah studio rekaman pernah mengalami hal sangat lucu, yaitu ketika dia sedang bertugas men-direct sebuah 'band independen' yang tengah rekaman di studionya, di tengah proses salah satu musisinya bertanya padanya pendapat mengenai hasil rekaman mereka. Dan sahabat saya berpendapat, “Enak kok, udah pas”. Sang musisi menjawab, “Wah? Enak? Ganti deh pattern-nya!”. Sahabat saya cuman nyengir. Menurut mereka, 'enak' itu ngikutin pasar jadi harus diubah, selera pasar menurut mereka tidak keren. Dan, secara tidak langsung musisi itu 'menghina' kuping sahabat saya karena kupingnya komersil, tidak keren.

Aneh menurut saya, malah cenderung, maaf, tidak waras.

Dulu, ada sikap sejenis itu di saya. Sikap ingin terlihat beda, terlihat unik. Jujur, harus ada sikap seperti itu, karena akan membawa kita untuk terus menggali potensi diri dan menjadikan kualitas kita semakin baik. Namun bukan juga kemudian dengan memaksakan diri untuk harus terlihat nyentrik, lain dan aneh.

Ketika sudah memaksakan diri, tentunya sudah berkurang ketulusan dalam bermusik. Apalagi memaksakan diri tampil nyentrik, ingin beda dan lain secara lebai menurut saya sudah menjadi tidak tulus lagi bermusiknya, dengan kata lain ketidaktulusan disini bukan lagi hanya masalah terlalu komersil, terlalu ngikutin pasar, terlalu jualan atau apapun itu yang selalu digaung-gaungkan mereka yang katanya 'idealis' dalam bermusik, yang seringkali akhirnya malah menciptakan jurang-jurang ideologi tidak penting bahkan 'perpecahan' antar musisi. Jika mereka bilang musisi mainstream norak, mereka juga sama noraknya.[pagebreak]

Apa salahnya bikin musik enak didengar? Apa salahnya lagu kita didengarkan luas termasuk didengarkan para alay? Apa yang salah dengan bikin lagu enak terus jadi komersil? Apa salahnya lagu kita jadi trending topic dimana-mana hanya karena alasan sangat simpel yaitu enak didengar dan bukan karena kita 'anak indie' atau 'pentolan scene indie'?

Seringkali juga alasan independen dan idealis menjadi pelarian dan kedok bagi mereka yang ditolak musiknya oleh label (major) ataupun pasar mainstream, yang bukan karena kurang komersil atau tidak sesuai pasar tapi karena memang lagunya tidak enak, kualitas demo yang payah, skill rekaman yang terbatuk-batuk bahkan live performance-nya pun hancur-hancuran. 
Katanya ingin menyampaikan pesan kedalaman lirik yang anti kemapanan sesuai semangat indie lewat karya musik tapi dieksekusi secara asal-asalan, kurang fokus latihan, skill pas-pasan, cenderung menganggap enteng karena toh fans-nya banyak yang mana kebanyakan fans-nya adalah juga teman-teman sendiri yang sudah 'terhipnotis' dengan 'kemegahan ideologi indie' sehingga sulit untuk objektif terhadap karya, lalu apa gunanya jadi musisi?

Mending pasang lagu instrumental-nya Yanni atau Kenny G atau apa gitu, terus liriknya dijadikan puisi dan tinggal kita bacakan saja. Simpel.

Musisi independen jenis ini juga yang banyak  bekoar bilang musik Indonesia sekarang sudah rusak karena pola pikir komersil mainstream, tapi tanpa mereka sadari mereka juga sudah sama-sama merusak dengan menciptakan suatu 'stream' musisi-musisi yang pola pikirnya cupet sok eksklusif sok idealis tapi hancur lebur. “Biar fals, manggung jelek yang penting indie”. Pola pikir macam apa ini?

Jangan bilang 'idealis' kalau nyata-nyata lagumu jelek. Jelek disini adalah tidak sesuai kaidah-kaidah musikal. Ya, saya paham bahwa bermain musik itu bukan hanya teori tapi juga kebebasan berekspresi, tapi bukan berarti karena semata-mata kebebasan berekspresi lalu kemudian mengesampingkan kaidah-kaidah musikal yang mau tidak mau menjadi parameter musikalitas. Untuk rekaman contohnya, perlu standar kemampuan tertentu untuk bisa rekaman sekalipun di abad sekarang ini sudah begitu banyak software untuk rekaman yang bahkan bisa dipakai untuk menyulap seekor monyet menjadi biduan terkenal. Kenapa perlu standar? Simpel: hasil rekaman itu nantinya harus dipertanggungjawabkan dihadapan publik saat kita tampil. Pertanggung jawaban musikal dari musisi yang bertanggung jawab di ranah musik, apalagi kalau dari awal memang niatnya untuk jualan, supaya banyak job, supaya banyak fans. Apa yang salah dengan menjadi jualan? Jualan itu komersil, kan? Enggak salah kok.

Jangan bilang musik mainstream itu jelek kalau kamu belum pernah merasakan menjadi salah satu musisi pelakunya. Pengalaman tidak berjodoh mendapatkan label mainstream yang cocok dan sepola pikir jangan kemudian digeneralisir dan ditransformasi sebagai 'ketidakberpihakan' mainstream pada idealisme bermusik. Siapa bilang pola mainstream jelek? Pola mainstream itu sadar kualitas, sadar tanggung jawab, ada parameter standarnya dan bukan asal-asalan ekspresif karena dirinya sudah dibentuk menjadi produk yang bukan hanya harus ekspresif tapi juga representable, layak secara kualitas baik layak rekam maupun layak tonton. Hal-hal ini yang perlu diserap oleh musisi-musisi indie.

Serap kebaikan-kebaikan dan kelebihan-kelebihan pola mainstream lalu kawinkan dengan idealisme dan ekspresi pola sidestream independen. Jadilah musisi yang waras, seimbang dan bertanggung jawab. Ingat, idealisme bermusik saja tidak cukup. Kalau begini yang terjadi, idealisme hanyalah sebatas niat, sebatas teori kosong dengan praktek NOL besar.

[bacajuga]

Terakhir, apakah saya idealis? Ya, saya idealis. Dan idealisme saya adalah menjadi musisi yang terus berkarya, bertanggungjawab terhadap karya dan performance, senantiasa memperbaiki 
kekurangan dan melatih diri untuk menjadi semakin baik sehingga membahagiakan keluarga dan sahabat saya, manajemen saya, label saya, crew dan staf saya, penonton dan pendengar saya, sponsor-sponsor saya termasuk hewan-hewan peliharaan saya.

Kamu?

Foto: dok. Marcell, last.fm, musik.kapanlagi.com, besttuna.blogspot.com, ajournalofmusicalthing.com, tiger.towson.edu

6 COMMENTS
  • miftahariss15@gmail.com

    saluted

  • eddiemohammad

    Like! This article should be well spread to our hopefully soon to be local heroes, music artists wishing to appear on the various stages across Indonesia : ) The thought of mainstream versus sidestream, or as young / starting music artists commonly perceive as commercialism versus idealism, often becomes a certain limitation towards making good music. The content of this article can certainly be explaining how music can easily be natural and less pretentious. Cheers, Marcell. : )

  • Kriyux

    straight to the point meaning

  • erdyfardian

    Sangat setuju..

  • abuproud

    alus ..

  • gio

    tajam ...