SOLEH SOLIHUN: Menanti Riuhnya Film Lokal Bertema Musik

  • By: Soleh Solihun
  • Kamis, 30 March 2017
  • 5007 Views
  • 2 Likes
  • 0 Shares

Hari ini, Hari Film Nasional.

Buat yang belum tahu, 30 Maret ditetapkan sebagai Hari Film Nasional, karena pada 30 Maret 1950 adalah hari pertama pengambilan gambar Darah dan Doa atau Long March of Siliwangi karya sutradara Usmar Ismail. Film itu dianggap sebagai film lokal pertama yang bercirikan Indonesia: benar-benar disutradarai orang Indonesia asli, juga diproduksi oleh perusahaan film milik orang Indonesia asli bernama Perfini (Perusahaan Film Nasional Indonesia) yang didirikan oleh Usmar Ismail.

Buat yang belum tahu, saya juga sudah beberapa kali main film. Yang terakhir, Hangout masuk ke satu dari 10 film Indonesia terlaris sepanjang masa, dengan jumlah penonton lebih dari 2,6 juta orang, hehe. Maaf, memang ini bermaksud riya alias ingin dipuji. Dan enam dari daftar itu adalah film komedi. Sebagai pelawak, saya senang, artinya masyarakat mencintai film komedi. Sebagai mantan wartawan musik, saya kurang senang, karena sebagian besar tema film yang laku, masih seputar itu-itu saja. Kalau tak komedi, cinta-cintaan, ya horor.

Sebagai orang yang cinta musik, saya selalu senang jika menyaksikan film bertema musik. Maksudnya, ceritanya kental dengan musik. Bisa cerita tentang pencinta musik, tentang grup musik, atau tentang majalah musik. Kalau bicara konteks film impor, ada banyak film bertema musik yang memenuhi harapan saya akan serunya film tentang musik. Diantaranya: Wayne’s World (1992) dan Wayne’s World 2 (1993), sebuah komedi tentang dua pencinta musik yang punya acara TV sendiri—ini mengingatkan saya pada duo Gebeg dan Ebenz Burgerkill dengan program Extreme Moshpit TV di Youtube; Airheads (1994), tentang grup musik yang membajak stasiun radio supaya lagu mereka diputar; The Doors (1991) yang bercerita tentang grup musik The Doors; High Fidelity (2000), tentang pemilik toko rekaman yang patah hati, dan Almost Famous (2000), tentang jurnalis musik yang mengikuti tur sebuah band rock terkenal.

Semua film yang saya sebutkan tadi punya satu kesamaan: saya bisa merasakan betapa karakter-karakter di film itu mencintai musik. Bukan hanya soal penampilan para karakternya, tapi dari sisi cerita, dari sisi dialog, motivasi para pemain, terasa sekali bahwa film-film itu serius mengangkat musik sebagai tema besarnya. Di Wayne’s World 2, Wayne bahkan mimpi bertemu Jim Morrison dan bertanya soal bagaimana kalau mau mengajak band tampil di festival musik. “If you booked them, they will come,” kata Jim Morrison di mimpi itu. Kalau kamu pesan, mereka bakal datang. Saya suka sekali dialog itu. Komedi yang erat berhubungan dengan musik.

Atau, di Airheads, ketika mereka dihampiri oleh orang perusahaan rekaman yang membujuk mereka supaya membebaskan radio itu, untuk mengecek apakah orang itu polisi atau dari perusahaan rekaman, dia ditanya lebih milih mana: David Lee Roth atau Sammy Hagar di Van Halen? Sedangkan di High Fidelity, ada adegan soal menyusun koleksi piringan hitam.

Ini yang masih saya jarang temui di film lokal. Jangan bicara dulu soal hal-hal yang saya tulis di paragraf sebelum ini lah, tema musiknya saja masih sangat jarang. Coba Anda ingat-ingat, kapan terakhir kali Anda menonton film lokal bertema musik? Film musikal sih mungkin baru tahun kemarin, di Ini Kisah Tiga Dara (2016), tapi itu kan tak bercerita tentang musik.

Dulu, ada Realita, Cinta dan Rock and Roll (2006), tapi film itu kurang menggali karakter dua pemeran utama pria yang katanya cinta rock and roll. Kalau dari sisi pakaian sih, mereka sudah rock and roll sekali. Celana jeans ketat, rambut agak mullet, kaus band, dan mengendarai sedan tua. Meskipun ada adegan membeli CD atau berlatih band, tapi secara keseluruhan belum mampu menghadirkan dialog-dialog yang saya harapkan seperti yang ada di film-film impor yang saya sebutkan tadi. Tak ada hal-hal detail yang begitu kuat menggambarkan bahwa mereka pencinta musik.

Lalu ada D’ Bijis (2007) yang cukup oke lah, bercerita tentang grup musik yang pernah berjaya di 90-an dan ingin bangkit kembali. Dua film itu diselamatkan oleh pembuat musiknya: Didit Saad dan Bongky Marcel. Di tahun 2006 juga ada film Garasi, yang bercerita tentang perjuangan band indie, tapi dari sisi cerita kurang berhasil menggambarkan perjuangan sebuah band. Konflik antar personelnya kurang meyakinkan sehingga bisa membuat band pecah.

Tahun 2013, ada film Slank Gak Ada Matinya. Kurang laris dari sisi penjualan. Dari sisi cerita pun, saya sebagai pencinta Slank kurang terpuaskan. Mungkin si pembuat film terlalu memadatkan film sehingga jadinya kurang mendalam dan kurang terarah dari sisi cerita.

Ketika tulisan ini dibuat, film tentang almarhum Chrisye sedang dibuat. Katanya sih, Vino G Bastian yang akan memerankan Chrisye. Kalau film itu sukses, semoga bisa memicu para produser untuk membuat film bertema musik. Dan saya harap, para penulis skenario yang memang aslinya pencinta musik, bisa menulis skenario yang bagus untuk film bertema musik. Bukan apa-apa, kalau sudah bicara musik, akan terasa sekali, jika orang yang membuatnya tak begitu cinta musik. Sebagai perbandingan, tulisan wartawan yang cinta dan mengerti musik, akan berbeda dengan tulisan wartawan yang tak cinta dan hanya menulis berdasarkan perintah. Begitu juga dengan skenario film. Kalau si penulis skenario tak cinta musik, maka kecintaan itu tak akan terasa di karakter-karakternya, di jalan ceritanya, dan di dialog-dialognya.  

Makanya, cuma ada dua penyebab sepinya film lokal bertema musik: belum ada penulis skenario yang bisa menulis cerita bertema musik yang bagus, serta belum banyak produser yang mau mengeluarkan uang untuk membuat film bertema musik.

Jangankan di film, di media massa cetak dan elektronik saja—kecuali majalah musik ya—musik belum jadi sesuatu yang dianggap penting. Berita musik hanya sebatas selingan. Apalagi di TV, musik lokal baru masuk berita biasanya kalau ada kerusuhan di konser. Kalaupun tak ada perkelahian, kadang disebut saja ada kerusuhan meskipun aslinya tak begitu. Berita rilis album baru, seringnya hanya dibahas sekelibat. Apalagi kalau mengundang infotainment, kalau masih bisa digali kehidupan pribadinya, maka berita soal rilis album kemungkinan kecil tak akan dikeluarkan.

Mari kita berdoa supaya musik dianggap penting bukan hanya saya, Anda pembaca tulisan ini, serta pengelola situs ini, tapi juga oleh lebih banyak orang. Kalau itu terjadi, maka harapan akan datangnya lebih banyak film lokal bertema musik, bisa segera terwujud. Yah, siapa tahu jadinya akan banyak film lokal kita yang komedi tapi bertema musik, cinta-cintaan tentang pencinta musik, tentang hantu-hantu pencinta musik, atau hantu-hantu yang bisa dibasmi dengan musik, haha.

Kan, kata Titiek Puspa, Saskia, dan Geofanny juga, “Sik sik musik saya suka musik, kamu suka musik, seluruh dunia suka musik.”

0 COMMENTS

Info Terkait