Stepnhanus Adjie: (BELUM) BERHENTI DI 15!

Stephanus Adjie: (BELUM) BERHENTI DI 15!

Saat Supermusic meminta saya menulis lagi tentang prediksi musik keras di tahun 2021, jujur saya bingung. Saya hanya pelaku dan penikmat musik keras, bukan pengamat musik. Jadi saya merasa tidak berkompeten untuk menulis prediksi. Kalau saya bisa memprediksi atau malah bisa meramal seperti Mbak You atau Nostradamus pasti saya sudah kaya raya karena judi bola. Ya kalau sekedar menebak skor dengan analisa asal ya bisa saja dan hasilnya tentu sering melesat. Karena prediksi saya tentang sesuatu yang saya sukai pasti sangat subyektif, padahal lebih baik untuk membuat suatu prediksi harus obyektif dan mengesampingkan hal – hal yang bersifat subyektif. Tapi kemudian saya berpikir ah toh ini cuma sekedar tulisan opini saya pribadi, jadi gak papa lah anggap aja ini juga bukan prediksi. Tulisan panjang lebar sampai 4 halaman, padahal permintaannya hanya 3 halaman. Hehehe..terlalu bersemangat menuliskan segala omong kosong dan kesoktahuan saya. Pas di bagian akhir kemudian saya tersadar, selera musik dan referensi saya kayaknya bisa dikatakan tidak berkembang. Terlintas lagu “Berhenti Di 15” milik Seringai, mungkin selera musik saya berhenti saat remaja di umur 15 tahun? 

Saya bingung saat mendengarkan Poppy dengan album “I Disagree” yang masuk nominasi Grammy tahun 2021 bersaing dengan nama – nama yang lebih familiar bagi saya, seperti In This Moment, Code Orange, Power Trip dan Body Count. Dengan musik yang bagi saya sangat pop diberi balutan distorsi gitar dan sesekali suara scream, apalagi dengan balutan visual yang tidak metal bagi saya. Ya, saya tumbuh dan besar dalam paradigma metal yang didominasi cowok – cowok macho dengan rambut gondrong, brewok, celana kulit atau celana kargo selutut dengan sepatu boots atau sneaker, gitar dengan ujung runcing dan segala atribut bergambar seram seperti tengkorak atau simbol –simbol okultisme. Kalaupun wanita di metal dalam pikiran saya pasti ya vokalis – vokalis bersuara tinggi dari band symphonc metal seperti Nina Simone (Epica), Christina Scabbia (Lacuna Coil) atau Floor Jansen (Nightwish) atau Alissa White-Gulz nya Arch Enemy dan Maria Brink nya In This Moment yang cantik dan elegan. Ya tipikal cewek metal lah, Poppy adalah antitesis dari itu semua. Cantik sih iya tapi gak terlihat metal sama sekali. Kejadian ini sama saat Baby Metal mulai mengejutkan dunia metal. Dengan penampilan ala girl band AKB48 atau malah JKT48, mereka berhasil meraih kesuksesan dan popularitas yang luar biasa. Lirik dan musiknya juga sangat unik diiringi dengan band berdistorsi dan double pedal drum. Secara perlahan akhirnya mereka diterima di skena metal, mungkin karena setelah band – band besar seperti Slayer, Judas Priest dan lainnya memberikan pengakuan? Bisa jadi, karena sepertinya di metal faktor legitimasi ini sangat berpengaruh. Tapi saya sampai sekarang saya masih belum bisa menikmati Baby Metal apalagi Poppy. Apa saya tidak dapat mengikuti perkembangan musik yang berjalan sangat cepat ya. 

Apalagi musik pop musik pop yang tentu lebih cepat melaju dengan inovasinya. Nama – nama seperti Billie Eilish, Hindia, Honne, Pamungkas dan seabrek nama baru lainnya sangat asing bagi saya. Saya lebih mengenal Beyonce, Marcell, Rihanna, Tupac, Efek Rumah Kaca, Enimen, U2, Johnny Cash, Slank dan nama – nama lawas lainnya. Penasaran tentang perkembangan musik, saya membaca beberapa tulisan di Rolling Stone, Billboard, Vice dan media lainnya, ternyata sekarang hampir bisa dikatakan tidak ada lagi batasan genre. Sekat – sekat itu semakin bias dengan hadirnya artis baru seperti Lil Nas X yang mencampurkan trap, rap dan country, juga nama lain seperti Sofia Reyes, Dominic Fike, Billie Eilish dan termasuk juga Poppy. 

Di ranah rock/ metal sebenarnya kalau membicarakan mencampurkan genre bukanlah hal yang aneh. Bukankah musik rock/ metal adalah bentuk perlawanan dari kaidah apapun, jangan kan cuma genre, norma dan agamapun ditabrak dengan suka ria. Mungkin yang paling fenomenal adalah ketika Aerosmith berkolaborasi dengan Run DMC dengan menghasilkan lagu “Walk This Way” yang kemudian diikuti banyak band lain berkolaborasi dengan para rapper seperti Biohazard dengan Onyx, Slayer dengan Ice-T, yang kemudian Ice-T berlanjut bikin band metal Body Count, Fear Factory dengan Cypress Hill dan masih banyak lagi yang kemudian melahirkan sub genre baru yang kemudian disebut hip metal dengan band – band seperti Limp Bizkit, Rage Against The Machine atau Linkin Park

Ministry, White Zombie, Marilyn Manson dan Rammstein yang kemudian sukses menggabungkan metal dengan elektronika yang banyak yang kemudian menyebutnya industrial atau apapun itulah namanya. Atau melihat lebih ke belakang saat hardcore lahir disebut sebagai hasil perkawinan antara metal dan punk dengan menyebut nama – nama seperti Minor Threat, Gorilla Biscuit, Warzone, Agnostic Front dan lainnya. Metalcore dengan band – band seperti Killswitch Engage, Bleeding Through, As I Lay Dying, Avenged Sevenfold dan lainnya, menggabungkan vokal growl atau scream dengan vokal clean di bagian reffrain. Ini seperti saat lagu – lagu R&B dengan rap dan vokal clean di refrain juga. Eranya juga hampir bersamaan, di awal tahun 2000 an. Death metal dengan hardcore yang kemudian banyak disebut deathcore, yang kadang ditambah dengan suara syntheziser sebagai elemen pelengkapnya, seperti Bring Me The Horizon era awal, Despised Icon, Suicide Silence dan band lain. Metal dan shougaze yang banyak disebut sebagai post metal atau apalah itu seperti Russian Circle, Explosion In The Sky, Godspeed You! Black Emperor dan lainnya yang jadi kesukaan pacar saya meski saya ya tidak terlalu ngerti hahaha. Blackmetal dan hardcore yang menghasilkan band blackend hardcore seperti Deafheaven, Klevertak dan lainnnya. Metal dan rockabilly kemudian menghasilkan band seperti Volbeat. Masih sangat banyak lagi kalau mau disebutkan semua. Begitu banyak campur aduk yang kemudian menghasilkan sesuatu yang benar – benar baru atau yang menarik. 

Segala sesuatu yang baru pasti akan menimbulkan pro dan kontra. Ada yang bisa menerimanya dengan senang hati atau ada juga yang langsung menolaknya. Hal ini terjadi mungkin karena tidak sesuai selera atau juga karena hal lain. Seperti saat emo atau screamo muncul dan menimbulkan banyak perdebatan di skena. Waktu itu saya juga bingung dengan sekumpulan cowok kurus, dengan baju ketat, kaos warna warni dan rambut di catok, smoothing atau direbonding dan lirik lagu patah hati. Tapi perlahan saya bisa menikmati, meski tidak semuanya juga. Dashboard Confessional, Funeral For A Friend, Thrice, From Autumn To Ashesh atau The Used yang saya bisa menikmatinya. Ini mungkin hampir sama saat pop punk ala Green Day, Blink 182 atau SUM 41 muncul dan mendapatkan banyak pertentangan di skena punk di masa itu, yang lebih terbiasa dengan Exploited, Total Chaos, Rancid dan lainnya atau mungkin lebih familiar dengan band melodic seperti Bad Religion, NOFX, The Offspring dan lainnya. Tapi seiring waktu akhirnya diterima juga.

Saya memang sungguh kolot, jarang menengarkan lagu di Spotify, lebih suka mencari lagu di Youtube setelah mendapatkan info ada rilisan terbaru. Setelah suka baru merusaha mencari dan membeli CD nya. Karena penasaran dengan lagu – lagu baru untuk melihat sejauh mana perkembangan musik rock/ metal dan apakah saya benar – benar ketinggalan jaman. Saya mendengarkan di Spotify dengan search New Metal Track di bulan Januari 2021, muncullah deretan lagu – lagu rilisan terbaru, masih banyak nama yang saya tidak asing untuk saya seperti Architects, Moonspell, Tribulation, Deeds Of Flesh, Of Mice And Men, Asphyx, Accept dan masih banyak lagi. Tentu juga nama – nama baru seperti Dust in Mind, Silent Season, Rev Theory dan banyak lagi. Saya cukup bisa menarik nafas lega, ternyata saya gak terlalu ketinggalan jaman banget. Lagu – lagu metal terbaru pun masih hampir sama dengan yang saya dengarkan 5 bahkan 10 tahun lalu. Band – band lama masih rajin mengeluarkan karyanya. Jadi musik keras sepertinya ya gitu – gitu aja. Jangan – jangan memang musik metal sebenarnya gak berkembang sebegitu pesatnya seperti pop? 

Ini seperti saat saya mendengarkan generasi baru nu metal seperti Omerta yang mengingkatkan pada Slipknot dan Guerella Warfare dengan Limp Bizkit, Sederatan band – band baru yang memainkan old school death metal seperti Blood Incantation, Gatecreeper, Skeletal Remains atau Venom Prison yang seperti membawa saya kembali ke pertengahan 90 an, lengkap dengan outfit dan sound di era Morbid Angel, Caniibal Coprse, Dismember, Bolt Thrower dan Entombed masih beringas dan ugal – ugalan. Jagoan metalcore masa kini seperti Architects, Of Mice And Men, Polaris, Crystal Lake dan lainnya yang berhasil meneruskan tongkat estafet dan meggunakan konsep yang kurang lebih dengan para seniornya. Tentu dengan sound juga kemasan yang lebih kekinian. Musik rock/ metal memang berkembang tapi harus diakui perkembangannya tidak secepat musik pop. Setiap sub genre mempunyai penggemar dan pasar sendiri. Tidak ada sub genre yang lebih keren dibanding sub genre yang lain, karena ini masalah selera. Tidak bisa dihitung secara matematis kecuali penjualan album fisik atau digitalnya atau laris tidaknya merchandise dan tiket konsernya. 

Saya jadi teringat saat dulu ketika saya menganggap orang tua atau generasi diatas saya ketinggalan jaman karena tidak bisa menikmati musik saya. Ibu tiri saya menganggap musik band saya, down for life gak jelas, gak bisa dinikmati. Waktu itu saya mencibir, dalam hati tentunya, huuuu kolot. Tapi biarlah itu urusan selera beliau. Hal itu juga terjadi saat saya sebelum bermain band, saat masih kelas 2 SMP, kebetulan tinggal di Jogja bersama keluarga pakdhe. Waktu itu saya mulai mendengarkan musik rock dan metal, budhe saya bingung dan bertanya kenapa saya mendengarkan musik gedubrakan berisik. Bahkan saya sering diberi artikel tentang bahaya musik rock bagi remaja dan hal – hal buruk lainnya dari musik ini. Hahaha.. itu malah bikin saya makin tertarik dengan musik keras. Ya sebagai bentuk perlawanan kecil – kecilan lah. 

Syukurlah saya tidak sekolot ibu tiri atau budhe saya. Meski saya tidak bisa menikmati semua hal baru seperti Poppy, Baby Metal, Deafheaven, Sun(O), Neck Deep dan lainnya. Tapi saya bisa dan suka mendengarkan Thy Art Is Murder, Omerta dan band – band yang bisa dikatakan baru. Tapi itu lebih ke selera saja dan saya setidaknya masih mencoba mendengarkannya. Setiap generasi dan periode mempunyai selera musiknya sendiri. Mungkin itu juga yang membuat kadang kita tidak bisa menerima hal baru apalagi berkaitan dengan selera yang sangat subyektif. Apalagi selera ini juga dipengaruhi banyak faktor baik internal maupun eksternal dari diri masing – masing. Wuis..serius banget nih. Kayaknya kalau mau bahas ini harus bertanya ke teman saya Yuka Narendra dan Idhar Resmadi. Tulisan mereka tentang ini sangat luar biasa dan lebih bisa dipertanggungjawabkan secara akademisi dan ilmiah karena berdasarkan riset. 

Setelah saya pikir – pikir ternyata saya bisa dikatakan mengikuti perkembangan jaman sekaligus juga tidak bisa dan mengikuti perkembangan jaman itu. Bingung kan? Terus bagaimana prediksi trend musik rock/ metal di 2021 seperti permintaan Supermusic? Lha ya gak tahu. Sudahlah, yang pasti musik keras akan tetap keras dengan segala hal dinamikanya. Pasti akan banyak band baru yang memanikan musik baru dan musik lama. Masih banyak band lama yang mengeluarkan rilisannya. Jadi persetan dengan trend. Pilih yang kita suka dan nikmati saja. Tidak perlu memaksakan diri mengikuti trend atau selera orang lain, cuma untuk sekedar biar gak dianggap ketinggalan jaman. Atau memaksa diri untuk terlihat cult dan edgy dengan mendengarkan band – band underated dan memakai kaos yang rare padahal gak menikmatinya? Persetan dengan cult dan edgy! Sudahlah bung, jujur saja dan menjadi diri sendiri itu jauh lebih menyenangkan kok. Jadi ternyata saya belum berhenti di 15 tapi nanti entah kapan. 

Stephanus Adjie

Jakarta, 25 Januari 2021

Saya masih senang mendengarkan System Of Down, Slipknot dan Lamb of God!

0 COMMENTS