Stephanus Adjie: MANGGUNG VIRTUAL ITU MELELAHKAN!

Stephanus Adjie: MANGGUNG VIRTUAL ITU MELELAHKAN!

Tiga minggu lalu, saya bersama down for life berada di Bandung, tentu bukan untuk liburan atau staycation, tapi melakukan syuting manggung virtual untuk program Hellprint Reunited yang didukung oleh Super Music. Itu adalah konser virtual pertama kami yang benar – benar manggung bareng dalam satu band selama pandemi ini.

Sebelumnya kami pernah main tapi konsepnya lebih seperti quarantine taping, untuk sebuah festival virtual amal untuk para pekerja panggung di Solo. Saat itu kami syuting dari rumah masing – masing kemudian diedit jadi satu. Itu menjadi opsi karena domisili kami yang tinggal berjauhan antar kota antar provinsi. 

Sebelumnya kami pernah dua kali melakukan syuting juga untuk sebuah program musik di salah satu televisi swasta nasional sebelum pandemi, yang konsep dan eksekusinya kurang lebih sama dengan konser virtual saat ini. Jadi bisa dikatakan itu menjadi pengalaman melakukan konser virtual pertama kali dan menjadi konser yang benar – benar bersama dalam satu tahun lebih ini.

Terakhir kali kami manggung di Jogjarockarta Festival 2019 di akhir bulan November, setelah itu kami belum manggung lagi bahkan tidak latihan bersama juga. Memang di bulan Desember 2020 kami berkumpul di Dark Tones Studio milik Blackandje Records di Jakarta Timur untuk menggarap dan merekam materi lagu untuk album keempat. Tapi itu hanya rekaman track by track tidak ada sesi bermain bersama.

Proses penggarapan dan pengumpulan materi juga diskusinya secara virtual menggunakan zoom dan google hangouts tanpa ada jamming workshop bersama di studio. Mau gak mau kami jadi sedikit lebih melek teknologi. Sederhana sih tapi bagi kami itu sudah prestasi luar biasa..hahaha, Maklum kami band purba dengan keterbatasan pengetahuan tentang teknologi. Beruntung ada Mamat (Mattheus Aditirtono) yang cukup mengerti dan paham teknologi. 

Karena domisili tempat tinggal yang berbeda, saya dan Mamat tinggal di Jakarta, dan Rio Baskara Muhammad ‘Abdul’ Latief di Solo, dan Isa Mahendrajati di Jogja, membuat kami jarang latihan bersama yang komplit, di luar jadwal latihan sebelum konser, yang biasanya di lakukan di Solo kalau jadwalnya manggung di sekitar area Jawa Tengah dan Jawa Timur, atau di Jakarta kalau di area DKI Jakarta dan Jawa Barat.

Nah..ketika pandemi yang otomatis tidak ada jadwal manggung tentu kami tidak latihan bersama lebih dari satu tahun. Chronic Studio di Bandung, milik Eben Burgerkill, menjadi studio pilihan kami untuk melakukan latihan perdana selama pandemi sekaligus persiapan untuk syuting konser virtual keesokan harinya. Equipment yang sangat memadai membuat latihan berjalan dengan lancar meski tentu awalnya ada rasa kagok dan canggung. Mungkin bagi Latief dan Mamat yang setiap hari masih mengajar dan memegang alat musik, tidak terlalu sulit lagi. Rio dan Isa meski tidak serutin mereka, pasti masih lebih sering bermain gitar dibanding saya yang lebih dari satu tahun tidak teriak – teriak. Eh..sebenarnya saya sempat teriak –teriak di awal pandemi, bulan Maret, saat rekaman vokal untuk single “Apokaliptika” tapi ya rasanya tetap berbeda. Dua jam latihan cukup menyenangkan dan melelahkan. Ada 2 lagu yang belum pernah kami bawakan di latihan apalagi dibawakan untuk manggung, jadi ada tantangan besar. Jujur saya belum terlalu hafal lirik kedua lagu tersebut karena lagu itu memang akan ada di album baru nantinya. Jadi mau gak mau saya mempunyai tugas yang cukup berat, bagi saya pribadi tentunya, belum tentu untuk orang lain.

Hari H akhirnya tiba, setelah istirahat cukup meski setelah latihan sempat diajak nongkrong dan ditraktir Andre Vinsens, gitaris ganteng dari Jeruji, tapi kami cukup fit pagi itu. Syuting dilakukan di sebuah studio yang cukup besar dengan peralatan broadcast yang memadai. Kami bertemu dengan banyak teman yang biasanya bertemu di perhelatan konser, Dani Kajul dari Hellprint sebagai promotor, Forgotten yang juga melakukan syuting di hari yang sama, Andyan Gorust dari Hellcrust yang menjadi host dan seorang kawan dari band deathcore berbahaya yang menjadi mystery guest untuk berkolaborasi bersama kami. Menyenangkan bertemu teman – teman, mengobati kerinduan suasana backstage saat konser biasanya.

Setelah briefing dan persiapan teknis tiba saatnya untuk syuting. Jeng jeng.. jeng jeng.. jeng jeng..! Setahun lebih tidak manggung dan apalagi ini syuting virtual pertama tentu ada perasaan grogi, takut dan juga senang. Dimulai dengan sesi interview yang santai membuat lebih tenang dan lebih percaya diri. Setiap program pasti mempunyai cara dan sistem sendiri yang berbeda satu dengan lainnya. Untuk program ini kami diminta 2 kali memainkan lagu yang sama untuk kebutuhan gambar agar maksimal. Jadi dengan setlist 4 lagu kami akan bermain 8 kali.. ya saya pikir ini seperti saat manggung biasa yang biasanya 8-10 lagu. Masih bisa pikir saya tapi kenyataannya sangat sungguh berbeda!

Lagu pertama “Apokaliptika” yang belum pernah kami bawakan untuk manggung, memang beberapa kali saat masih berjudul “Dead Shall Rise” beberapa kami bawakan tapi aransemen, komposisi dan liriknya berbeda, jadi benar – benar seperti baru pertama kali dimainkan untuk manggung. Rasa canggung harus langsung ditendang jauh – jauh karena kami harus bermain lepas seperti biasanya. Hasilnya lagu yang harusnya dimainkan 2 kali, dengan memohon kepada seluruh kru produksi, kami mainkan 3 kali untuk hasil yang lebih baik. Kalau sempurna kayaknya gak mungkin tapi setidaknya kami berusaha untuk semaksimal mungkin.

Sungguh rasanya berbeda dengan manggung biasanya. Kalau panggung biasanya kami berhadapan dengan penonton yang apresiatif dan atraktif yang tentunya bisa memberikan energi tambahan pada penampilan kami, saat ini tidak ada hal seperti itu. Kami berhadapan dengan kamera dan tim produksi yang melihat kami yang seolah menjadi juri atau hakim yang siap menghukum kami kalau melakukan kesalahan. Hampir mirip dengan syuting video klip tapi kalau itu kru produksi memang bekerja eksklusif untuk proyek klip itu saja, sementara ini tidak. Ada durasi juga yang harus diperhatikan jadi kami harus benar – benar tampil maksimal untuk tidak mengganggu rundown dan ritme kerja tim produksi. Jangan sampai durasi waktu molor hanya karena keteledoran kami, sebab juga berimbas pada jadwal band lain juga jam kerja tim produksi.

Akhirnya lagu pertama selesai dan menuju ke lagu kedua “Mantra Bentala”. Single pertama untuk album keempat ini benar – benar belum pernah kami bawakan untuk manggung. Dalam versi rekamannya , bagian reff dibantu beberapa vokal latar tapi saat manggung ini hanya saya dan Mamat yang mengisi vokal, jadi hasilnya sungguh sangat melelahkan. Sepertinya saya salah nih karena pas rekaman kan take-nya bisa berulang-ulang tapi saat manggung gak bisa. Bagian reff yang panjang dan sangat menguras tenaga. Gila ini adalah salah satu lagu yang berat, mungkin juga karena baru pertama kali dibawakan secara live. Beruntung saya cukup rajin berolahraga , kalau tidak mungkin saya sudah pingsan. Saya lihat raut muka Rio, Isa, Latief dan Mamat juga mulai pucat pasi hahaha..usia tidak berbohong. Ya syuting sudah separuh jalan, tinggal 2 lagu lagu.

Lagu ketiga ini, sudah sangat sering kami bawakan, yaitu “Pesta Partai Barbar’ jadi tidak terlalu khawatir. Kami cukup yakin dan percaya diri, meski ada featuring dengan seorang kawan dan kemarin dia tidak bisa ikut latihan tapi kami yakin dia pasti bisa. Dan terbukti benar, lagu ini lancar kami hajar. Disusul lagu terakhir “Liturgi Penyesatan” yang kami aransemen berbeda karena rencananya juga featuring dengan seorang vokalis wanita tapi beliau dengan terpaksa harus membatalkan tampil karena harus melakukan tes Covid-29. Semoga sehat selalu Teh! Konsep ini tetap kami bawakan dengan sedikit improvisasi dengan menjadikan teman kami fotografer yang juga drummer band hardcore Mossak, Marungkup Tua Hutauruk menjadi vokal latar. Aransemen ini pernah kami bawakan di Jogjarockarta 2019 dan Solo City Jazz 2019 berkolaborasi dengan kelompok paduan suara Kurawa Voice. 

Akhirnya selesai juga kami syuting manggung virtual hari itu. Total 9 lagu yang kami mainkan tapi rasanya sungguh seperti memainkan 100 lagu dalam konser biasa. Lega, senang, bahagia dan capek bercampur menjadi satu. Dari syuting ini kami semakin yakin bahwa Pasukan Babi Neraka, metalhead dan penonton yang selalu mendukung dan memberi energi sangatlah berperan sangat besar bagi kami saat manggung. Bagi saya pribadi pengaruh mereka lebih dari 50% bahkan mungkin 99,9%. Biasanya kami selesai manggung masih bisa sekedar nongkrong atau jalan – jalan tapi ini hanya ingin mandi air panas dan tidur di kasur empuk. Entah faktor lama gak manggung atau faktor usia, sepertinya keduanya adalah kombinasi yang pas untuk menjadi alasan. 

Manggung virtual itu sangat melelahkan tapi tentu juga menyenangkan karena menjadi tantangan tersendiri juga. Menurut saya dibutuhkan energi lebih, stamina prima dan mental yang kuat untuk menghasilkan pertunjukan yang maksimal dalam manggung virtual. Kalau disuruh memilih tentu kami lebih menyukai manggung seperti biasa. Kami sungguh merindukan Pasukan Babi Neraka dan metalhead yang meliar di area moshpit. Semoga kita segera bertemu!

Jakarta, awal April 2021

Tulisan ini saya persembahkan untuk semua metalhead yang merindukan konser langsung.

Stephanus Adjie

0 COMMENTS