Adjie konser metal pandemi

Stephanus Adjie: Mungkinkah Konser Musik Keras Tanpa Moshing?

Setelah beberapa bulan awan gelap menyelimuti industri  kreatif dan budaya tanah air karena pandemi, secercah harapan timbul saat Kapolri Ildham Aziz mencabut maklumat nomor MAK/ 2/ III/ 2020 bertanggal 19 Maret 2020 tentang Kepatuhan terhadap Kebijakan Pemerintah Dalam Penanganan Penyebaran Virus Corona (Covid-19). Dalam maklumat tersebut salah satu yang dilarang adalah membuat keramaian yang melibatkan kerumuman massa. Pada tanggal 25 Juni 2020 Kapolri mengeluarkan surat telegram nomor STR/ 364/ VI / OPS.2./ 2020 sebagai upaya mendukung kenormalan baru.

Kemudian disusul Surat Keputusan Bersama Meteri Pendidikan dan Kebudayaan dan Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif/ Kepala Badan Pariwisata dan Ekonomi Kreatif tentang Panduan Teknis Pencegahan dan Pengendalian Virus Corona di Bidang kebudayaan dan ekonomi Kreatif beberapa hari kemudian. Angin segar bagi para pelaku kebudayaan dan industri kreatif termasuk musik tentunya. Meski ini juga tergantung pemangku kebijakan daerah masing-masing dalam memberikan izin sesuai situasi di daerahnya.

Beberapa promotor, event organizer, dan kolektif segera menyusun rencana menggelar pertunjukan termasuk yang tertunda. Sederet aturan protokol kesehatan dan perijinan terdapat di SKB tersebut. Itu menjadi acuan bagi para penyelenggara event dalam adaptasi kebiasaan baru. Sebelumnya marak juga konser virtual baik live, taping maupun playthrough. Itu semua menunjukkan daya kreasi dari para pelaku industri musik yang tidak menyerah begitu saja dengan keadaan. Meski tidak mudah dan banyak kendala, baik teknis maupun non-teknis. Salah satu inovasi dalam menggelar pertujukan adalah konser drive in. Sebelumnya di beberapa negara juga sudah mengadakan hal yang serupa. Seperti konser lady rocker Doro di Jerman tanggal 13 Juni kemarin. Meski hal itu juga menuai kritikan keras dari kalangan musisi metal sendiri. Salah satu ketidaksetujuan dilontarkan oleh Rob Flynn, pentolan Machine Head, yang menyebutkan kalau konser metal drive in adalah hal terbodoh yang pernah dia lihat.

Bagaimana dengan gigs, konser atau festival musik keras di Indonesia? Kekecewaan metalhead di Indonesia tentu karena tertundanya salah satu festival musik keras terbesar di Asia yaitu Hammersonic. Harapan untuk melihat Slipknot, Amon Amarth, Lacuna Coil dan sederet band cadas lainnya terpaksa harus ditahan dulu. Meski kemudian keluarlah jadwal baru festival ini akan digelar di Januari 2021 dengan sederet peraturan megikuti protokol kesehatan yang ditetapkan pihak berwenang. Tapi akan bagaimana aturan ini akan diterapkan di festival seseru Hammersonic juga pertunjukan musik keras lainnya?

Penonton yang atraktif dan responsif adalah nyawa bagi pertunjukan musik keras. Moshing, slam dance, circle pit, headbang, circle pit, crowd surfing, sing a long adalah bagian yang tak terpisahkan bahakan menjadi daya tarik tersendiri. Sementara dengan keadaan wabah pandemi belum berakhir dan aturan protokol kesehatan hal – hal tersebut akan sulit dilakukan. Ravel Junardy, promotor Hammersonic, menjelaskan pihaknya masih menunggu perkembangan situasi. Harapannya keadaan membaik sehingga Hammersonic bisa diselenggarakan seperti dalam keadaan normal seperti dulu. Tapi apabila keadaan belum membaik pasti akan diterapkan protokolnya.

 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 

WE ARE BACK STRONGER : Hammersonic 2021 proudly announce @slipknot as the first headliner. On Sunday 17 January 2021 Corey Taylor & co. will quench your thirst Hammerhead ????????⁣ ⁣ In a complicated pandemic times like this, or already known as a NEW NORMAL we must do the health protocols as we knew like using a disinfectant spray at the entry gate of festival area, wearing a mask at the entire festival area and don’t forget to wash your hands more frequently. We will provide the hand washer in every corner of the festival area, mind the gap to keep the distance and always carry your own hand sanitizer.⁣ ⁣ We do really hope to see you on the pit, Ticket selling will be available soon!⁣ So stay safe & stay healthy Hammerhead ????????⁣ ⁣ #RiseOfTheEmpire #Hammersonic2021 #HammersonicSlipknot

A post shared by HAMMERSONIC FESTIVAL (@hammersonicfest) on

Pihak Hammersonic juga sudah mengumumkan akan menerapakan peraturan seperti penonton wajib memakai masker, cek suhu tubuh, menyemprotan disinfektan, menyediakan area cuci tangan di area festival, sampai aturan jaga jarak. Sementara anjuran dan aturan untuk penonton duduk agar mempermudah pengaturan jaga jarak masih dibicarakan dengan pihak berwenang dan terkait. Demikian juga, menurut Ravel, pihaknya juga sedang mempertimbangkan untuk membuat area moshpit terbatas dengan syarat penonton yang akan masuk harus registrasi terlebih dahulu dan menunjukan surat keterangan bebas covid baik rapid atau swap test yang masih berlaku. Sementara aturan penonton dibawah 50% dari kapasitas venue masih bisa dilalukan karena area Pantai Karnaval Ancol sangat besar bisa menampung lebih dari 70 ribu orang. Ketatnya peraturan lebih ketat berlaku juga untuk artis penampil dan crew event-nya.

Bagaimana tanggapan dari musisi metalnya? Stevi Item, gitaris Deadsquad, berpendapat sebagai pencinta musik keras harus bisa beradapatasi dengan keadaan yang ada, baik musisi atau penontonnya. Bersyukur pertunjukan musik sudah bisa diadakan lagi dan kita bisa menikmatinya meski bukan keadaan yang ideal. Penonton dengan segala tingkah atraktifnya adalah salah satu daya tarik dalam pertunjukan, bukan hanya sound, lighting atau permainan musik saja. Baginya ini pasti akan meraskan kehilangan salah satu elemen penting dari pertunjukan musik keras itu sendiri. Itu tidak hanya akan dirasakan oleh penonton tapi juga musisinya. Menurutnya memang akan butuh waktu untuk berdaptasi dengan kenormalan baru ini dalam segala aspek kehidupan, termasuk juga di pertunjukan musik keras.

 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 

Percayalah , pasti bisa begini lagi ... #deadsquad #pasukanmati

A post shared by Stevi Item (@stevi.item) on

Hal menarik dikatakan Eben dari Burgerkill, menurutnya sebenarnya skena dan industri musik keras di Indonesia sedang berkembang dengan cukup masif sampai pandemi datang menghantam. Api pergerakan ini dikhawatirkan akan meredup kalau semuanya berhenti begitu saja. Jadi menggelar pertujukan dalam tatanan adaptasi kebiasaan baru adalah salah satu cara mengobarkan api tersebut. Band – band harus tetap melakukan sesuatu seperti merilis album, single atau apapun itu. Dan konser adalah salah media paling efektif.

Dia juga menanggapi pendapat Randy Blythe, dari Lamb of God, dan Robb Flynn yang mengatakan sebaiknya kita menunggu sampai keadaan benar-benar membaik sehingga konser bisa diadakan seperti keadaan normal. Bagi Eben itu karena industri di Amerika dan Eropa sudah berjalan dengan baik sejak lama meski ada pandemi sekalipun. Seperti sistem royalti, baik dari penjualan fisik dan digital, merchandise, konser virtual dan lainnya sudah tertata . Sementara di Indonesia masih baru tumbuh berkembang, jadi bisa dikatakan industri metal di sana bisa menunggu tapi kalau di sini seperti harus berjalan menyesuaian keadaan yang ada.

 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 

Abis covid masih boleh jilat-jilat gak? ???? . ???? by @anggrabagja #burgerkill #begundal #adamantine

A post shared by True Megabenz (@ebenbkhc) on

Bagaimana tanggapan para metalhead yang notabene mereka yang akan menjadi penonton dari konser yang akan digelar nantinya? Saya mencoba menanyakan melalui beberapa grup WhatsApp Metal Warrior, Metal Fun Football dan Pasukan Babi Neraka. Grup itu terdiri dari ratusan metalhead Indonesia yang tersebar di seluruh negeri dan beberapa juga tinggal di luar negeri. Beragam pendapat menarik dilontarkan baik pro dan kontra. Yoyo, salah metalhead senior dari Jakarta, mengatakan mungkin lebih baik menunggu wabah berakhir. Selain faktor kesehatan, akan aneh kalau nonton konser musik metal harus duduk dan tanpa impresi atraktif dari penonton. Ini juga diamini beberapa metalhead yang lain karena mereka datang ke konser untuk melampiaskan kepenatan rutinitas dengan menikmati musik yang mereka sukai dan meresponnya di area moshpit. Sebagai konsumen mereka merasa sedikit dirugikan karena tidak dapat mendapatkan hal yang mereka inginkan.

Namun, banyak juga yang setuju dengan konser dengan protokol kesehatan daripada tidak ada konser sama sekali. Sanu Kurniawan, salah seorang Pasukan Babi Neraka yang juga seorang tenaga medis, mengatakan menikmati konser tidak harus dengan moshing dan lainnya. Mendengarkan musik keras dengan sound menggelegar, permainan lighting, visual yang memukau dan aksi band secara langsung merupakan sensasi tersendiri yang berbeda dengan menonton secara virtual.

Memang semua konser musik pasti harus terkena imbas dari adaptasi kebiasaan baru ini, meski mungkin musik keras yang akan sangat merasakan sekali dampaknya. Membayangkan konser tanpa moshing atau headbanging saja tidak pernah terlintas dalam benak saya dan juga semua metalhead. Tapi bukan berarti tidak bisa. Semua pasti akan ada solusinya.

Band black metal kenamaan Norwegia, Satyricon, pernah menggelar konser di Oslo Opera House bersama The Chorus of The Norwegian Opera and Ballet di tahun 2013. Bayangkan konser black metal berkolaborasi dengan paduan suara di gedung opera dengan semua penonton duduk atau berdiri di depan kursinya masing-masing. Di tahun 1999 Metallica juga pernah mengadakan salah satu konser yang selalu diingat semua metalhead yaitu Metallica S&M. Mereka bersama The San Fransico Symphony-nya Michael Kamen bermain di The Berkeley Community Theatre, yang kemudian direkam dalam sebuah album live yang luar biasa. Di Indonesia, Burgerkill juga pernah melakukannya di Hellshow beberapa tahun lalu di Bandung. Beberapa contoh tadi dilakukan dengan konsep dan kolaborasi yang spesial.

Bagaimana yang tanpa konsep? Mungkin memang memerlukan venue yang khusus, seperti gedung pertunjukan, teater atau stadion yang sudah ada tempat duduknya jadi lebih mempermudah pengaturan jarak penonton. Seperti konser Gojira di Red Rocks Colorado Amerika Serikat di tahun 2017. Dengan venue menunjang pasti sangat bisa dilakukan. Bagaiman dengan gigs kecil, show di bar dan café? Perlu penangan berbeda lagi tentunya. Beradaptasi, berkompromi dan membiasakan dengan keadaan harus dilakukan. Semua tidak mudah dan itu kembali lagi adalah pilihan kita masing-masing. Selama tidak merugikan diri sendiri dan orang lain tentunya. Semua pihak, baik penyelenggara, band dan penonton harus berjalan beriringan dan saling bersinergi untuk terus memanaskan api skena dan industri musik keras ini . Saya dan pasti semua metalhead mengharapkan keadaan akan kembali normal seperti dulu. Saya, kamu dan kalian pasti merindukan beradu badan di area moshpit yang penuh peluh dan keringat, membuat lingkaran dalam pusaran circle pit, dan bersama mengacungkan 2 jari ke udara sambil berteriak: Hell Yeaaaahh..!

0 COMMENTS