adjie

Stephanus Adjie: Musisi Pop Lokal Ini Pernah Main Band Cadas

Musik keras, cadas, metal, ekstrem, underground, berisik, hingar bingar atau apapun sebutannya, bahkan ada yang bilang musik setan (Ngeri, ternyata setan punya musik). Meski terkesan memekakkan telinga tapi mempunyai daya tarik luar biasa, sehingga mempunyai banyak penggemar dari berbagai kalangan di seluruh penjuru dunia. Dari bintang film, musisi, atlit, pengusaha, karyawan sampai presiden dengan bangga mengaku menjadi metalhead.

Ok kalau sekedar menjadi penikmat pasti banyak. Tapi kalau pernah atau masih sampai sekarang juga main di band cadas? Ada beberapa nama dari deretan artis internasional seperti Skrillex, DJ dubstep kondang itu dulunya vokalis band emo core From First To Last. Bintang John Wick, Keanue Reeves, dulu sempat punya band alternative rock bernama Dogstar yang sering manggung di sekitaran Hollywood. Mantan bintang WWE, Chris Jericho, membentuk band heavy metal bernama Fozzy sampai sekarang. Dan masih banyak nama–nama lainnya.

Bagaimana dengan artis dan musisi pop Indonesia? Vicky Prasetyo yang dikenal sebagai artis dan pembawa acara TV sekarang juga menjadi vokalis band metalcore bersama Kudeta. Fachri Albar dulu juga sempat main drum bersama band rock Jibriel dan merilis album Memecah Kesunyian”. Kalau dari kalangan musisi pop jauh lebih banyak lagi. Bahkan masih aktif dengan band cadasnya. Menyebut nama Stevie Item pasti tidak asing lagi. Selain di Andra & The Backbone dia juga bermain di raksasa death metal Deadsquad.

Penyanyi Marcell dulu dikenal sebagai drummer band hardcore legendaris Bandung, Puppen, dan sempat bermain di band grunge bernama Konspirasi. Sekarang dia sedang sibuk juga dengan Syc Minded, sebuah band rock industrial. Jebolan Indonesia Idol, Hussein Alatas, juga sedang menyiapkan album bersama band lamanya Children of Gaza yang memainkan metal seperti Orphane Land. Sementara dua personil Payung Teduh, Comi dan Cito di sela kesibukan band folk-nya juga sibuk dengan LogaMulia, band metal hardcore.

Tidak ketinggalan juga musisi jazz kenamaan Indonesia, Indra Lesmana, beberapa waktu lalu membuat heboh dunia musik Indonesia dengan sebuah proyekannya yang cukup serius bernama ILP yang bergenre progressive rock/metal yang sudah merilis album Sacred Geometry.  Fiersa Besari dulu punya band pop punk bernama Eat Well Earl yang sempat merilis album juga sebelum kemudian dikenal dengan karir solo folk-nya.

Selain nama–nama di atas ternyata masih banyak lagi musisi pop yang lain. Saya mencoba menghubungi dan berbincang dengan mereka meski lewat chatting. Mungkin banyak yang tidak mengira kalau sederet nama–nama ini pernah bermain musik keras.

Mohammad Istiqamah Djamad atau sering dipanggil Is, namanya melambung saat bermain bersama band lamanya Payung Teduh. Dengan deretan lagu folk dengan balutan lirik puistis yang membuai kalbu. Sebut saja lagu "Akad" yang sangat fenomenal itu, "Untuk Perempuan yang Sedang Dalam Pelukan", "Menuju Senja" dan lagu hits lainnya. Tapi kemudian memutuskan mundur dari bandnya dan sekarang bersolo karir dengan nama Pusakata. Lagu yang catchy dan lirik puitis masih menjadi kekuatan dan digemari banyak orang.

Meski di album terbarunya Dua Buku, Pusakata menunjukkan sisi rocknya tapi tidak banyak yang tau kalau jaman SMA di Kabupaten Soppeng, Sulawesi Selatan, Is pernah membawakan lagu "Bendera Kuning" milik Betrayer bersama bandnya. Menurutnya “Harus diakui lagu itu membahana seluruh negeri Indonesia sampai pelosok”. Selain itu bandnya juga mengcover lagu dari Guns N’ Roses, Red Hot Chilli Peppers, Green Day, sampai Padi dan Tipe X juga. Di bandnya Is bermain gitar dan nyanyi tapi kadang juga main drum karena susah nyari drummer.

Setelah lulus SMA dan menginjakkan kaki di Jakarta di tahun 2002, Is kembali ngeband dengan memainkan lagu Incubus juga lagu pop lainnya bahkan juga nge-rap. Tapi jiwanya tetap nge-rock.  “Tahun 2002 – 2004 aku main di band bernama Segi Empat yang memainkan progressive rock tapi kental unsur popnya, dengan pengaruh besar Mr. Big, dengan harapan tetap main di musik kenceng tapi bisa diterima industri. Berulang kali ngajuin demo tapi ditolak terus,” tuturnya.

Tahun 2004 – 2010 Is bergabung sebagai vokalis di band Mirror, personilnya sama dengan Segi Empat hanya beda bassis dan ada tambahan keyboardis karena spesialis membawakan lagu - lagu Dream Theater. Tapi menurut Is “Ikut festival ampe capek soalnya keseringan menang tapi aku merasa gak ada progres dalam diri pribadi. Hanya repitisi yang melelahkan”.

Sembari terus bermain band, Is juga aktif di teater UI sambil juga mengajar teater di SMA 28 Jakarta dari tahun 2007 – 2012. Dari kegiatan teater inilah kemudian lahir Payung Teduh yang awalnya lagu – lagunya diperuntukan untuk beberapa pertunjukan teater seperti “Salam Dari Kampung” tahun 2008, “Bandung Biru” tahun 2011, Metropole yang dipentaskan di Lotte Avenue tahun 2015 dan lainnya.

Tapi terlepas dari itu semua, musik keras justru yang mengawali perjalanan bermusiknya. Is sangat mengidolakan almarhum vokalis Soundgarden, Chris Cornell, selain Lenny Kravitz dan Mike Patton dari Faith No More. Is menuturkan “Lagu Faith No More berjudul The Gentle Art of Making Enemies tuh lagu jenius dan album King for a Day.. Fool for a Lifetime itu super jenius! Album favoritku lainnya adalah “Van Hallen III” dan album Insomniac dan Nimrod milik Green Day. Dua album Green Day itu mengubah hidupku.”

Beberapa waktu lalu saat pandemi ini, jagad dunia maya skena musik keras Indonesia juga dibikin makin seru. Winky Wiryawan, yang dikenal sebagai dj dan bintang film, mengunggah video playthrough bermain gitar lagu – lagu metal di akun instagramnya. Lagu band metal dunia seperti Slipknot, Lamb of God, Anthrax, Annihilator dimainkan dengan lancar.

Tidak berhenti disitu, DJ yang tergabung di label Junko, ini juga memainkan lagu milik jagoan metal nasional seperti Burgerkill, Deadsquad, Dead Vertical, Down For Life, Forgotten dan masih banyak lagi. Ini tentu membuat metalhead girang, hiburan menyenangkan di masa PSBB.

Sebenarnya Winky saat ini masih juga mempunyai band metal bernama Rahasia Intelijen yang sedang menyiapkan single baru yang terpengaruh old school thrash metal. Pada tahun 2018 album Rahasia Intelijen masuk 10 album terbaik versi CNN.

Tentang kesukaannya terhadap musik metal ini, dia bercerita “Gue sebenarnya dari SMP kelas 1 udah suka musik keras. Start dari Metallica dan Sepultura. Terus masuk era death metal kayak Napalm Death, Morbid Angel dan lainnya.” Saat itu Winky tinggal di Bandung dan rata – rata teman sekolah angkatannya suka metal jadi dia ikut terpengaruh.                            

Band pertamanya saat SMP bernama Inferno dan nge cover lagu – lagu Sepultura. “Waktu itu juga bawain lagu sendiri dan liriknya ngawur banget deh. Tentang satpam sekolah lah, Perek tinggal deket rumah guru lah..hahaha. Gak jelas!”  lanjutnya. Tapi saat kelas 2 SMP pindah ke Jakarta dan karena pergaulan jadi dengerin hip-hop dan pop. Bahkan pas SMA pernah ngeband pop tapi gak serius.

“Burgerkill dan album Adamantine adalah favorit gue. Jujur energi yang kena banget buat gue, salah satunya Burgerkill,” jawabnya ketika saya tanyakan band metal dan album favoritnya. Sementara band internasional favoritnya adalah Sepultura.

Kalo untuk nge-DJ sebenarnya metal gak begitu berpengaruh di permainannya. Dia pernah berusaha mencoba tapi hasilnya kayak maksa dan gak asyik. Hip hop, funk dan indie pop kayak The Cure lebih bisa dimasukkan dalam unsur permainan nge-DJ-nya. Menurutnya “Gak tau kenapa gue ngerasa metal dan keluarganya kayak berdiri sendiri aja… kayak haram gitu di-remix. Hahaha. Tapi ada beberapa yang masih bisa sih. Kaya RATM bisa banget diapa–apain. Tapi kalo misalkan Sepultura gitu aneh sih.”

Soulvibe dikenal sebagai band pop yang kental elemen soul dan R&B. Tapi siapa sangka kalau bassisnya ternyata seorang metalhead. Ramadhan Handy saat SMA bikin band bernama Pinneaple Octopus yang sering meng cover lagu Deftones, Finch, Filter dan A Perfect Circle. “Gak sempet bikin lagu sendiri, emang band cover aja. Buat main di pensi – pensi dan festival band antar sekolah,” ujarnya.

Berlanjut ketika jaman kuliah, Handy ngeband dengan teman – teman kampusnya ngebawain lagu Soulfly, Machine Head, Prong dan lainnya tapi tidak terlalu serius hanya bermain di lingkungan internal kampus. Sampai sekarang Handy masih sering mendengarkan Soulfly, Slipknot, Korn, Tool, Mastodon, Gojira dan lainnya.

Tidak hanya itu dia juga suka band – band cadas Indonesia seperti Burgerkill, Down For Life, Seringai, Puppen, Forgotten dan Beside. Ketika ditanya siapa idolanya, Handy menjawab “Soulfly sih. Entah ya, mungkin dulu tumbuh pas Max Cavalera bikin itu.”

Menurut Handy rock/ metal berpengaruh bagi karier musiknya sampai sekarang meski tidak terlalu bisa diaplikasikan ke dalam musik Soulvibe. “Kalau untuk Soulvibe belakangan sih kita lagi pakai formula era rock 80 an untuk treatment gitar di beberapa lagu. Sebenarnya adapatasi ala Van Halen di lead gitarnya,” tuturnya. Kebetulan juga drummer Soulvibe, Riza, juga penggemar musik keras dan mengidolakan Mike Portnoy. Untuk live Soulvibe memasukkan unsur progesif rock di beberapa bagian. Beberapa lagu Soulvibe yang ada sentuhan rock contohnya di bagian lead gitar lagu Penjaga Hati dan Dia Bisa.

Handy masih menyimpan keinginannya untuk bikin proyek band metal lagi suatu saat nanti. Ketika saya tanyakan jangan – jangan nama Soulvibe terinspirasi dari Soulfly, dia menjawab “Hahaha yang ini bisa jadi mungkin alam bawah sadar kebawa, tapi dulu sih gak ada kepikiran dari situ.”

Menyebut band indie papan atas Indonesia pasti tidak ketinggalan nama The Adams. Band power pop yang terbentuk di tahun 2001 ini sudah merilis 3 album dan terakhir album Agterplaas yang dirilis tahun lalu. Selain Saleh Husein yang dikenal penyuka musik keras ternyata pemain drum Gigih Suryo Prayogo juga seorang metalhead.

Saat SMA, Gigih membentuk sebuah band metal bernama Favouritesin tapi di band ini dia menjadi gitaris. Band ini biasa membawakan lagu – lagu Deftones seperti "My Own Summer", "Be Quite and Drive" juga lagu dari Soulfly dan lainnya. Di masa itu memang lagu jamannya nu metal. Sekitar akhir tahun 1999 - 2000 Favouritesin sudah menggarap lagu sendiri dan merekam demo. Band ini berlanjut sampai kuliah, Gigih dan kawan – kawannya tahun 2003 mulai nyicil bikin demo multi track.

Akhirnya di tahun 2009 terkumpul beberapa lagu, termasuk satu lagu berjudul "A Sight Of A Fallen" featuring David Rafael Tandayu dari Kripikpeudeus, dan siap rilis sekitar tahun 2014. “Eh… sang vokalis kena kasus narkoba. Mungkin barang buktinya cukup banyak dan menjalani hukuman penjara yang cukup panjang pula, Ya udah..langsung hilang aja,” cerita Gigih. Kemudian karena kesibukan kuliah dan lainnya akhirnya band ini terbelengkalai dan album belum jadi dirilis. Tapi masternya masih tersimpan dan Gigih mengirimkannya kepada saya.

Dia melanjutkan ceritanya “Gue gabung di The Adams awalnya jadi additional drummer, diajakin Ale dan Ario kalo gak salah 2004 atau 2005. Nah banyak yang bilang The Adams tuh Weezer banget pada saat itu. Tapi gue blas gak ngikutin Weezer. Suatu saat di kampus gue pakai kaos Deftones, Ale sempat bilang “keren kaos lo!”, dan ternyata tas Ale yang dipake tiap hari untuk ke kampus juga ada patch Deftones. Dari situ kami ngobrol panjang tentang metal dari Deftones sampai Meshuggah. Ternyata Ale lebih metal dari gue.. hahaha.”

Menurutnya rock/ metal pasti mempengaruhi musik The Adams. Karena selain dia dan Ale yang suka musik keras, Ario yang otak musikalitas band ini, juga suka mainin beberapa riff dari lagu - lagu Metallica saat latihan dan sempat membahas beats band chaotic metal Dillinger Escape Plan. Di album kedua The Adams “V2.05” di lagu instrumental Pahlawan Lokal dan 15/8, dan album ketiga “Agterplaas” di lagu Pesona Persona featuring Turi Kaliandra dari Pendulum Gigih memainkan beat ganjil dan progresif. Sementara ditanya siapa musisi metal favoritnya, dia menyebut Max Cavalera dan "Roots Bloody Roots" sebagai lagu favorit. “Beat beat nya Igor Cavalera di Sepultura juga bikin nempel di otak gue dan selalu gue mainin kalo lagi main drum. Bahkan part solo drum yang gue mainin di Synchronize Fest 2019 itu ngambil dari beliau hahaha..” lanjutnya.

Tidak kalah dari para musisi pria, Endah Widiastuti dari duo folk kenamaan Endah N Rhesa juga penggemar musik keras. Dia menyebut album Testament, Practice What You Preach adalah salah satu album favoritnya. Wow.. ternyata Endah memang penggemar Alex Skolnick dan shredder – shredder lainnya bahkan cita – citanya bermain gitar seperti  Paul Gilbert dari Mr. Big.

Bahkan dulu jaman SMP sampai lulus SMA Endah menjadi gitaris di band bernama Grade yang sering membawakan lagu – lagu rock milik Dream Theater, Mr. Big, White Lion dan Van Halen. “Dulu Grade sering juara festival. Bassisnya dulu Donny Sundjoyo, sekarang jadi bassis jazz”. Pernah bawain Pull Me Under menang di festival Mercubuana. Trus menang di festival Bakrevia mainin lagu Mr. Big. Di festival itu juga ketemu Iman, J Rock, saat itu dia mainin Godbless dan menang juga bandnya”, cerita Endah panjang. Sementara suaminya, Rhesa, pernah bermain di band progresif rock bernama Pendulum.

Mungkin karena itu juga musik rock berpengaruh banget di musik Endah N Rhesa. Menurutnya album mereka ketiga “Escape” sangat dipengaruhi musik rock. Kata Endah “Sebenarnya aku dan Rhesa suka progresif ya. Referensi yang beririsan antara kami berdua adalah Primus. Lagu Silence Island itu lagi Primus – Primus nya..hehehe.

Album itu memang filosofis dan lebih poetic. Album itu kemudian diganjar penghargaan AMI Awards untuk kategori Lintas Bidang..mungkin maksudnya crossover ya? Meski album itu album yang paling nggak laku..hehehe tapi album itu yang bikin aku dan Rhesa proud”. Ternyata secara audio album “Escape” sangat mandiri, mereka kerjakan sendiri proses mixing dan mastering. Menurutnya lagi “Songwriting dan komposisi album itu berasa banget feel dan soul rock nya. Gaya nyanyiku juga lebih terasa solid. Ada gaya Anthony Kiedis nya RHCP, Evanescence, Primus dan Alanis Morrisette. Liriknya banyak metafora gaya Rush dan Yes. Berat dan gelap. Kayaknya fans Endah N Rhesa lebih suka yang terang – terang. Kurang berhasil. Tapi jadi album yang membanggakan. Karena buat kami itu album keren banget.” Ketika saya tanya apakah nantinya akan ada album Endah N Rhesa seperti “Escape” lagi, jawabnya mungkin tidak akan sama tapi akan mengeksplorasi rock lagi. Kita tunggu.

Ngomongin musik keras bagi saya memang gak ada habisnya, bisa dari segi apa sama. Apalagi dengan bumbu nostalgia pasti menyenangkan. Saya yakin pasti masih banyak artis atau musisi pop yang mempunyai pengalaman seperti mereka. Endah dari Endah N Rhesa sangat yakin Isyana Sasraswati pasti suka musik rock atau metal. Jujur saya tidak mendengarkan lagunya Isyana tapi ketika saya ngobrolin ini ke produser Down For Life, Adria Sarvianto, dia memutarkan salah satu lagu Isyana berjudul Lexicon” dari album terbarunya. Saya langsung merespon “Wah Dream Theater banget. Progresif!” Tapi saya tidak punya kontak dengan Isyana. Semoga suatu saat nanti saya bisa bertanya apakah dia menyukai musik keras. Mungkin saja. Sekali lagi kata Endah Widiastuti “Everybody wants to be a rockstar.”

0 COMMENTS