ANALOG V DIGITAL: Stevi 'DEADSQUAD' Item Bercerita di Antara Dua Pilihan

  • By: Stevi Item
  • Rabu, 30 November 2016
  • 9508 Views
  • 1 Likes
  • 0 Shares

‘Kalau disuruh milih, ya jelas analog lah. Lebih warm’

Ngerti enggak maksud dari percakapan di atas? Untuk beberapa orang mungkin ngerti, tapi kalau kita menanyakan ke anak jaman sekarang, pasti mayoritas tidak mengerti maksud dari kata “warm” tersebut. Terlebih kalau kita membahas topi seputar audio atau dunia rekaman.

Sebagai sebuah teknik atau metode merekam, perpindahan dari analog ke format digital ini tidak hanya terjadi saat merekam suara – tapi juga rekam gambar. Keduanya sama-sama menjadi bahan perdebatan bagi pelaku audio visual, di antara dua pilihan format analog atau digital. Namun pada kenyataannya, era digital serta proses digitalisasi mengubah cara kita memproduksi musik, memainkan instrumen hingga cara menikmatinya.

 

‘Digitalisasi tidak bisa dihindari’

Mau tidak mau, saya setuju dengan pernyataan ini. Saat ini secara tidak langsung kita (red: pelaku musik) sudah sangat bergantung dengan instrumen yang serba digital. Pertanyaannya, apakah digital jauh lebih unggul? Jawabannya, BENAR!

Alasan kenapa digital jauh lebih unggul ketimbang analog bisa dilihat dari data storage – tempat penyimpanan data setelah merekam. Teknologi digital yang memungkinkan kita menyimpan, mengubah atau memanipulasi semua data yang terekam dalam jumlah besar dengan ruang penyimpanan yang kecil. Hal ini jelas tidak bisa dilakukan pada format analog.

Tapi lebih unggul belum tentu lebih baik. Nah, makin bingung kan? Karena sebenarnya perdebatan soal analog atau digital lebih ke persoalan kreativitas serta selera dalam berkarya dan menghargai karya. Pada kenyataannya, selera seseorang pasti berbeda-beda. Cara pandang yang terbentuk dari latar belakang lingkungan, keluarga, ilmu pengetahuan hingga berbagai faktor lainnya. Pokoknya, akan sangat panjang jika kita membahas sejarah di balik terbentuknya “selera” seseorang. Selain sangat luas pembahasannya, satu artikel sendiri mungkin tidak akan cukup.

Jadi kita bahas yang seru-seru saja ya. Misalnya di tahun 2016 ini, makin banyak kolektor piringan hitam atau cakram padat yang lebih dikenal dengan sebutan vinyl. Entah memang sekarang trend kembali mengarah ke era retro, atau ingin terkesan berbeda, yang pasti cakram ini lebih susah untuk ditemukan. Kalaupun ada, harganya pasti selangit. Sama halnya dengan wanita cantik, bro. Susah didapat dan biaya maintenance-nya kebanyakan tinggi. Nah, kenyataan bisa mengumpulkan puluhan, ratusan, bahkan ribuan plat piringan hitam belum tentu menjadikan seseorang menjadi lebih unggul, apalagi menjadi musisi yang lebih baik? Selain membutuhkan waktu, uang, dan ruang yang besar, gelar pertama yang bisa langsung disandang yang paling sekadar menjadi seorang kolektor. Menjadi sosok keren yang bisa membuat banyak orang terkagum-kagum, terlebih lagi kalau kita bisa mengumpulkan koleksi yang super langka dan mahal. Apalagi buat dunia pergaulan, format analog terlihat lebih keren dan bisa jadi modal utama untuk sebagian orang.

 

Fans Analog dan Digital

‘Analog itu lebih Warm’

Kalimat ini pasti sering terdengar di dalam percakapan antara seorang kolektor cakram padat yang berusaha meyakinkan kawannya, kalau format analog lebih baik daripada digital. Sementara yang dijadikan contoh adalah plat dari sebuah band dari album yang rilis di tahun 2009. Sudah bisa dipastikan kemungkinan besar kalau album tersebut direkam terlebih dahulu dengan menggunakan teknologi digital. Metode yang digunakan untuk memproduksi master digital sound terlebih dahulu, yang kemudian dipindahkan ke dalam format cakram vinyl.

Nah, pemahaman terhadap analog-digital bagi sebagian orang hanya berhenti pada bentuk format ketimbang proses produksi yang menyeluruh. Lihat saja masbro kolektor yang kekeuh kalau format analog lebih baik sound-nya. Tapi sayangnya maksud si kolektor lebih ke perangkat yang dipakai untuk mendengarkan, ketimbang proses mastering-nya. Biasanya kolektor vinyl tidak hanya rajin mengoleksi plat, tapi juga punya pemutar cakram, amplifier tabung dan speaker yang hi-end. Harganya sudah pasti luar biasa mahal. Sekarang sudah semakin jelas perbedaannya. Sudah pasti mengengarkan musik dengan perangkat kualitas hi-end jauh berbeda dengan proses mendengarkan musik dari pemutar file MP3 melalui speaker kualitas komputer rakitan.

Di sini kita bisa lihat kalau kolektor punya komitmen yang lebih tinggi dan jauh lebih baik daripada kawannya, yang senangnya dapat CD promo, Earpods Beats by Dr.Dre yang dibeli pas diskon buat mendengarkan track format MP3. Terlihat masbro kolektor lebih “niat” dalam mengapresiasi musik, lebih bergairah sampai menjalankan ritual mendengarkan musik di ruangan dengan sistem akustik yang sudah di-set sebelumnya. Mulai dari rangkaian sinyal dari pemutar cakram ke amplifier ke instalasi speaker dengan akulasi akurat, sampai menggunakan kabel khusus – yang konon terbuat dari material emas – yang dipercaya bisa menjadi penghantar sinyal terbaik. Belum lagi pemilihan power amplifier yang disesuaikan dengan musik yang didengar. Seperti musik classic atau jazz yang membutuhkan clarity yang baik lewat amplifier tabung. Sementara untuk musik rock, biasanya masbro kolektor menggunakan power transistor yang lebih stabil atau terkadang bisa dipadukan dengan transistor dan tube.

Terdengar kompleks, keren dan mendetil bukan? Sangat! Semua dilakukan supaya bisa mencapai hasil yang maksimal! Kenapa langkah serta selera mendengarkan musik menjadi sangat penting? Jawabannya, ya kerena memiliki cita rasa yang tinggi sangat penting bagi semua seniman dan produser dalam menciptakan karya-karya yang sedap didengar.

 

Generasi Lawas dan kaum Millennial

‘Rekaman di pita tuh beda dengan rekaman digital, lebih berasa rekamannya’

Kalimat ini meluncur dari Ayah saya, seorang musisi di era 70’an yang rajin wara-wiri studio rekaman di seluruh Jakarta dengan berbagai proyek rekamannya. Pernah suatu hari beliau mengeluh soal rekaman digital, ‘masa papa disuruh main clean aja, nanti delay-nya belakangan pas mixing’. ‘Rekaman sekarang tuh kayak main-main, tidak benar-benar rekakaman,’ lanjutnya. Maksud beliau, pada masa rekaman dengan pita seorang musisi benar-benar merekam permainan langsung, tidak ada cut-copy-paste dengan software recording. Sudah pasti jumlah track dan storage penyimpanan terbatas. Namun keterbatasan ini yang membentuk musisi pada jamannya, keterbatasan yang mengharuskan mereka menguasai materi musik dan eksekusi yang prima. Dengan kata lain, musisi sudah pantas dianggap handal dan jago kalau mereka sudah berhasil masuk “dapur rekaman”. Yang artinya permainan dan kualitas rekamannya sudah bisa masuk kategori pro dan karya yang dihasilkan bisa dipertanggung jawabkan.

Studio rekaman merupakan barang mewah, karena hanya pihak berduit yang mampu memiliki studio rekaman yang mumpuni. Pada akhirnya, para pemilik studio pun harus selektif dalam memilih proyek, screening dan mengontrol kualitas dengan ketat untuk memilih pihak yang pantas jadi musisi “dapur rekaman.” Beda dengan sekarang, di mana perangkat merekam bisa sangat terjangkau dan bisa dilakukan di manapun, kapanpun, dan untuk siapapun. Maka kejadiannya adalah penyanyi yang tidak benar-benar bisa nyanyi bisa rekaman dan punya album. Semua karena format digital memungkinkan seseorang untuk memanipulasi input data yang direkam. Sumber yang salah bisa dijadikan benar. Sekarang seorang operator rekaman digital sudah bisa melakukan kegiatan tersebut dengan perangkat yang ada. Alasan utama mereka, efisiensi. Tidak pakai lama untuk ngebuat si penyanyi terdengar bernyanyi dengan perfect. Jadi operator atau sound engineer / produser musik era millennium ini sudah seperti pesulap, mampu menghasilan karya magis dalam sekejap.

Tapi lagi-lagi, cerita tadi bukan mutlak membuktikan kalau musisi lawas lebih unggul dari kaum millennial. Contohnya Skrillex, seorang DJ yang populer dengan genre Dubstep – sub genre dari dance music. Untuk menghasilkan satu sound yang otentik, Skrillex bereksperimen dengan menjahit track-to-track yang hanya bisa dilakukan secara digital. Proses ngulik ini pasti susah dilakukan dengan proses analog yang terbatas track dan storage-nya. Artinya, di tangan orang yang tepat teknologi bisa menghasilkan karya yang maksimal. Bahkan bisa melampaui standar dan menghasilkan ranting sub-genre musik baru. Kreativitas tanpa batas. Saya pribadi selalu salut dengan siapapun yang berkreasi tanpa kompromi, yang bisa mempengaruhi kehidupan dan publik.

 

Pertanyaan kembali, jadi pilih yang mana – analog atau digital? Masing-masing punya fans sendiri dengan alasan yang kuat, dan pilihan ini tidak jadi masalah selama karya yang dihasilkan bagus dan dapat dinikmati bersama. Karena sebenarnya teknologi software tercanggih sekalipun hanya bisa bekerja maksimal dengan hardware yang mumpuni, serta orang yang passionate di belakangnya. Tak lupa, musisi yang handal pasti harus bisa terus maju dan melek perkembangan teknologi, namun tidak lupa dengan akar musik sebelumnya yang diwakili oleh teknologi analog. Bisa disimpulkan, keduanya saling membutuhkan dan saling melengkapi, baik dari sisi hardware ataupun semangat dalam berkarya.  

2 COMMENTS
  • resha1694

    Terbaiiiikk

  • rikysubagza31

    Good

Info Terkait

supernoize
1362 views
supernoize
1448 views
supernoize
1573 views
supernoize
3391 views
superbuzz
2431 views

5 Negara Eropa Tercadas