NIGHTMARE ON STAGE: Tantangan Menjadi Sound Engineer

  • By: Norman Hajadi
  • Rabu, 19 October 2016
  • 4590 Views
  • 2 Likes
  • 0 Shares

Mimpi buruk bisa terjadi pada semua orang. Tetapi cara mengatasinya sebenarnya sangat mudah. Kita hanya perlu untuk bangun dari tidur, atau tidak tidur sama sekali seperti cerita di film Nightmare on Elmstreet.

Namun bila mimpi tersebut menjadi kenyataan, terlebih jika berkaitan dengan pekerjaan, tentunya tidak semudah itu solusinya. Bagi beberapa orang yang bekerja kantoran, mimpi buruk mungkin datang saat diadakannya audit atau inspeksi mendadak. Namun bagi pekerja lapangan seperti saya, yang bergelut dengan kondisi yang selalu berubah-ubah, mimpi buruk bisa terjadi kapanpun, dimanapun, dan melalui hal apapun.

 

Berikut adalah beberapa faktor yang menjadi mimpi buruk bagi seorang sound engineer:

1. Kondisi Alam

Sementara mimpi yang 'basah' mungkin menjadi cita-cita luhur setiap lelaki bujang yang enggan mengeluarkan dana ekstra atau menjaga agar dirinya terhindar dari dosa, kondisi basah dalam dunia sound engineer lebih tepat diibaratkan pertemuan dengan sosok Freddy Krueger ketimbang Julia Perez. Entah siapa yang pertama kali memulai untuk menggunakan jasa pawang hujan dalam setiap pagelaran acara terbuka. Namun profesi ini dipercaya cukup ampuh untuk mengatasi laporan BMG mengenai prakiraan turunnya hujan meskipun instrumen yang digunakan menurut saya cukup purbakala, karena hanya melibatkan bahan-bahan dapur dan sepotong celana dalam. Saya mengalami beberapa acara yang harus dihentikan dikarenakan hujan deras yang tak kunjung henti, sehingga jadwal soundcheck menjadi molor dan mengakibatkan acara keseluruhan menjadi ikut mundur. Padahal perizinan hanya memberi waktu yang sangat terbatas. Akhirnya waktu performer untuk tampil terpaksa dipangkas. Belum lagi masalah equipment yang basah sehingga tidak dapat berfungsi maksimal.

2. Ruangan

Di musim penghujan seperti bulan-bulan ini, perhelatan acara di ruangan tertutup menjadi pilihan utama guna menghindari cuaca yang kurang mendukung. Namun pemilihan tempat yang salah seringkali malah menambah daftar mimpi buruk dari seorang sound engineer. GOR atau sering diplesetkan menjadi ‘Gelanggang Olah Reverb’ menjadi salah satu venue favorit untuk menggelar sebuah pertunjukkan tertutup. Tentunya bukan sebuah tempat yang ideal karena sebuah gedung yang didesain untuk pertandingan olahraga, selain panas juga akan terlihat janggal apabila seluruh isi ruangannya dilapisi dengan karpet.

3. Equipment

Peralatan yang mumpuni pasti sangat didambakan oleh para pekerja di bidang apapun. Di dunia sound engineer yang seringkali harus berkutat dengan medan yang kurang bersahabat, peralatan yang sehat dan handal akan sangat membantu kinerja seorang sound engineer. Di samping faktor keuangan yang pas-pasan, saya pribadi lebih memilih menggunakan mobil keluarga yang bisa diajak kemana-mana ketimbang supercar sekelas Ferrari sekalipun yang hanya optimal di aspal mulus.

4. Teamwork

Bidang kerja sound engineer ini membutuhkan teamwork yang baik. Ibarat menjalankan bisnis restoran, seorang koki akan mendelegasikan seseorang untuk berbelanja kebutuhan. Untuk itu diperlukan orang yang mengerti akan kualitas bahan yang dibutuhkan. Bayangkan apabila sang koki harus memasak semangkok soto ayam namun yang tersedia hanya daging sapi, karena orang yang ditugaskan untuk berbelanja melewatkan kelas biologi dan bersikeras bahwa sapi adalah hewan yang termasuk dalam famili unggas.

5. Source

Jangan banyak berharap bahwa sebuah penampilan sensual mampu mengubah persepsi penonton tentang suara fals yang keluar dari mulut sang biduan. Suara sumbang adalah salah satu mimpi terburuk yang belum ada obatnya.

 

Solusi:

1. Ungkapan sedia payung sebelum hujan terdengar kuno untuk sebagian orang. Namun pepatah ini masih cukup mujarab untuk diterapkan dalam dunia pertunjukan berjenis outdoor. Percayalah bahwa tenda pertunjukan yang dipasang dengan baik dan beberapa lembar kantong plastik dapat lebih diandalkan ketimbang mantra ajaib yang keluar dari mulut dukun yang komat-kamit.

2. Meskipun warna hijau scotch light metallic dipercaya memiliki efek yang sama, kain hitam masih menjadi pilihan utama sebagai benda sakral yang mampu mengubah akustik sebuah gedung menjadi lebih baik. Entah berapa biaya yang harus dikeluarkan untuk menutupi seluruh interior gedung dengan kain tersebut. Menurut saya lebih baik biaya tersebut digunakan untuk mencari gedung yang memiliki perlakuan akustik lebih serius.

3. Pilih peralatan yang bisa diandalkan. Jangan terlalu silau akan fitur dan bujuk rayu untuk membeli alat-alat dengan merk yang kurang bertanggung jawab. Luangkan waktu untuk merawat peralatan yang akan digunakan. Perangkat drum anda tidak mungkin berjalan sendiri ke sebuah klinik kecantikan untuk menjahit kulit snare yang robek akibat show sebelumnya.

4. Komunikasikan kebutuhan dari masing-masing anggota tim. Informasikan kepada pemain gitar dari band yang anda pegang bahwa penggunaan selusin amplifier Marshall adalah kurang bijak untuk dipakai pada acara 17-an dengan panggung ukuran 6x8 meter.

5. Seorang sound engineer tidak bisa naik ke panggung untuk menggantikan anda bernyanyi. Jadi untuk poin ini, banyak-banyaklah berdoa dan berharap agar sang biduan bisa lebih banyak berlatih dan lebih bertanggung jawab atas profesinya.

0 COMMENTS

Info Terkait

supernoize
883 views
supernoize
883 views
supernoize
883 views
supernoize
883 views
supernoize
883 views
supernoize
3106 views

Saat Venue Musik Gugur Perlahan