Tiga pelajaran dasar untuk Indonesia: Hear, Listen and Feel

  • By: Rektivianto Yoewono
  • Selasa, 25 August 2015
  • 5922 Views
  • 1 Likes
  • 1 Shares

Semenjak industri musik Indonesia dibangun dari zaman bung Karno sampai saat ini, kita sering mendengar ucapan harus mencintai karya anak bangsa atau jargon seperti ‘memajukan industri musik Indonesia’. Saya yakin di negara manapun ungkapan semacam itu wara-wiri digembar-gemborkan, baik di Amerika, Inggris, Jepang, Korea Selatan atau bahkan Malaysia sekalipun. Pada kenyataannya dari tahun 1950-an, industri musik dunia dikuasai oleh Negara adikuasa seperti Inggris dan Amerika. Walaupun memasuki era 2000-an industri musik dunia mulai diramaikan oleh Jepang bahkan dewasa ini oleh Korea Selatan.

Ya, beberapa tahun terakhir Korea Selatan menyita perhatian industri musik dunia. Dari situ saya berpikir, apa yang menyebabkan Korea Selatan yang notaben nya bekas jajahan Jepang seperti Indonesia, dan Jepang yang sama-sama terpuruk pasca perang dunia ke-2 itu lebih sukses dari negara kita, bukan di bidang ilmu dan teknologi saja, tetapi juga bidang musik dan hiburan? Mungkin setelah diingat-ingat, sepertinya ada perbedaan cara mengajarkan musik dalam sistem pendidikan masing-masing negara.

Saya pribadi pernah bersekolah di Jepang semasa Sekolah Dasar (SD) dan kembali ke Indonesia ketika saya memasuki Sekolah Menengah Pertama (SMP). Saat saya mendapatkan pendidikan di Sekolah Dasar di Jepang, pelajaran seni musik yang diajarkan jauh berbeda dengan apa yang diajarkan di sini, seperti yang saya terima saat belajar seni musik di SMPN 5 Bandung. Sewaktu SD di Jepang, pengenalan alat musik memang hampir sama, contohnya menggunakan suling recorder. Perbedaan yang signifikan yang saya rasakan adalah saat saya mendapatkan materi pelajaran tentang karya-karya Mozart, Bethoven dan komposer klasik lainnya di bangku SD.

Materi yang diajarkan bukan melulu soal bagaimana teknik bermain alat musik ataupun tangga nadanya saja, tapi lebih kepada interpretasi karya mereka. Dalam pelajaran seni musik ini, saya diajarkan sejarah bagaimana para maestro ini berkarya, seperti; kondisi politik saat komposisinya sedang dibuat, kondisi kehidupan para komposer, kemudian menyelam lebih dalam pada perasaan yang coba mereka timbulkan dari komposisi yang mereka buat. Penjelasan itu cukup rinci dan dijelaskan dari setiap bagan. Jadi, kita tidak hanya mendapatkan pendidikan cara bermain musik, melainkan sejarah yang menyertai sebuah karya serta bagaimana meng-interpretasikan karya tersebut sesuai dengan konteks sejarahnya.

Sewaktu saya kembali ke Indonesia, jujur saya terkesan dengan kemampuan musikalitas yang dimiliki oleh masyarakat Indonesia. Semua orang di negara ini bisa menyanyi. Banyak juga yang bisa bermain gitar, saya pun mulai belajar bermain gitar di Indonesia. Bermain band pun saya mulai di Indonesia, karena lingkungan saya sangat sadar dan mencintai musik. Dari segi itu, saya sangat senang dengan Indonesia, karena semua orang di sini seakan-akan sadar dengan musik.

Adanya kecintaan dan kesadaran musik dari pribadi masyarakat Indonesia ini juga dapat kita lihat dari kayanya budaya yang dimiliki suku-suku bangsa ini. Tentunya adalah musik tradisional yang berasal dari berbagai daerah yang telah diajarkan sejak SD bahkan TK. Batak, Sunda sampai Jawa, semua memiliki alat musik dan lagu tradisional masing-masing. Orang Ambon dan Manado pun mahir bernyanyi.

Tapi, jika kita tarik kembali ke soal fenomena industri musik Jepang dan Korea Selatan tadi, Indonesia yang memiliki beragam musik tradisional dan kesadaran tinggi, belum bisa mengalahkan industri musik mereka. Perbedaan yang begitu kentara ini, mungkin saja disebabkan oleh perbedaan kurikulum pendidikan musik tadi.

Saya percaya kalau kita mempelajari sejarah, lalu kita mempelajari manusianya, artinya kita mempelajari perasaan juga. Dan perasaan lah yang akan menjadi bekal penting dalam berkarya seni. Dari situ saya pikir, derajat yang begitu berbeda ini lah yang membuat proses berkarya musisi Indonesia dengan musisi Jepang dan Korea itu sangat berbeda. Memang orang Indonesia memiliki kelebihan warisan budaya, tapi warisan budaya ini mulai terkikis. Jepang dan Korea Selatan pun punya warisan juga, tapi hal itu diperkuat lagi dengan sistem pendidikan yang mengajarkan musik dan interpretasinya.

Kalau ada argumen yang mengatakan musik Indonesia harus maju, maka hal itu harus disertai dengan rancangan kurikulum pendidikan yang lebih tertata dan dalam. Saya pernah belajar seni tari dan musik di SMPN 5 Bandung, tapi esensinya belum bisa saya dapatkan pada saat itu. Nampaknya, masih harus ada pendalaman lagi, seperti esensi dari permainan gamelan dan instrumen musik tradisional lainnya dalam seni tari. Dalam komposisi lagu Sunda pun saya yakin ada arti dan pemaknaan yang dalam, dan pastinya ada yang bisa dibahas lebih jauh dibaliknya.

Tidak hanya dalam pelajaran seni musik, bahkan penerapan pendidikan yang mendalam dari pelajaran lain seperti kalkulus dan fisika pun penting. Jika penemuan hukum Newton dianggap penting karena dapat mengubah pola pikir seluruh ilmuwan di dunia, maka seharusnya sedalam itu juga penilaian pendidikan terhadap dalam seni musik. Sayangnya, hampir seluruh pelajaran dasar dalam kurikulum pendidikan di Indonesia hanya mengajarkan sesuatu pada permukaannya saja. Pakem pendidikan di Indonesia kurang lebih adalah semacam; belajar sejarah tau tanggal dan peristiwa, sudah. Mereka tidak membahas apa dampak dan pentingnya sebuah peristiwa terhadap kehidupan politik, kehidupan ekonomi dan sosial. Padahal jika sejak kecil masyarakat Indonesia dididik dan dilatih untuk berpikir mendalam dan memahami sesuatu lebih dari yang tertulis di dalam buku, mereka pun bisa memahami musik lebih baik lagi.

Walaupun saya tidak ingin mengeneralisir, menurut sepengamatan saya yang terjun dalam industri musik sekaligus menikmatiny, bisa saya katakana mungkin hanya nol koma satu persen dari 250 juta orang di Indonesia yang benar-benar mendalami esensi musik itu sendiri. Ambil contoh pada band Efek Rumah Kaca. Bereapa banyak orang yang mau memikirkan makna lagu mereka? Memaknai lirik lagu nya saja enggan, apalagi mengamalkan nilai positifnya. Kalau semua orang bisa berpikir seperti fanbase nya Efek Rumah Kaca, saya yakin kita semua bisa membuat movement dalam industri musik.

Permasalahannya bukan pada tingkat kecerdasan, tetapi pada kemauan untuk mendengarkan dan menelaah. Orang yang tidak cerdas pun harusnya punya hati nurani dan bisa mengerti sebuah perasaan. Musik berawal dari telinga dan turun ke hati. Jika tidak mau mulai mendengarkan, bagaimana bisa merasakan esensi sebuah karya musik.

Hear, listen and feel. Dangukeun, bandungan, jeung rasakeun!

0 COMMENTS

Info Terkait

supernoize
883 views
supernoize
883 views
supernoize
883 views
supernoize
883 views
supernoize
883 views
supernoize
3106 views

Saat Venue Musik Gugur Perlahan