REKTIVIANTO YOEWONO: Vinyl Masuk Swalayan

  • By: Rektivianto Yoewono
  • Selasa, 1 September 2015
  • 4705 Views
  • 1 Likes
  • 0 Shares

Beberapa jam yang lalu saya baru saja membaca sebuah berita di internet, mengenai sebuah jaringan pasar swalayan terbesar di Inggris yang mulai memasarkan rilisan vinyl Iron Maiden di 55 toko swalayan mereka yang tersebar di penjuru Inggris. Album Iron Maiden yang dijual tersebut merupakan album terbaru mereka yang bertajuk “The Book Of Souls”. Jaringan pasar swalayan tersebut akan menjadi yang pertama di Inggris untuk memasok rilisan musik dalam bentuk vinyl atau piringan hitam. Sebelumnya mereka sempat mencoba mejual musik digital melalui applikasi pasar swalayan yang terintegrasi.

Namun dalam kenyataannya, penjualan fisik seperti CD dan vinyl lebih menghasilkan ketimbang penjualan digital. Hal tersebut lah yang mendorong pasar swalayan tersebut untuk mengambil keputusan untuk memasuki industri penjualan musik dalam bentuk fisik.  

British Phonographic Industry (BPI) telah mengumumkan bahwa penjualan album dalam bentuk vinyl meningkat hingga 1 juta keping pada tahun 2014. Fakta ini membuat si pasar swalayan semakin percaya diri untuk mengembangkan lini bisnis retail musik dan berencana akan menambah koleksi musik mereka dalam waktu yang singkat. Rencana nya mereka akan membuat seksi khusus vinyl untuk rilisan album yang masuk dalam chart UK Top 40.

Berita yang sangat menarik untuk penggemar dan penggiat rilisan fisik dalam bentuk vinyl seperti saya. Jika model bisnis yang dikembangkan oleh pasar swalayan di Inggris ini berhasil, mungkin pasar swalayan di Indonesia pun akan ramai-ramai ikut menggiati bisnis retail musik dalam bentuk rilisan fisik. Dengan begitu akan semakin banyak took yang menjual vinyl dan memanjakan kolektor-kolektor seperti saya.

Betulkah demikian? Atau ada sesuatu yang saya lewatkan?

Mari kita simak kembali berita tadi. Sebuah pasar swalayan akan menjual vinyl Iron Maiden. Sebuah band British New Wave of Heavy Metal yang sangat keren. Kemudian pasar swalayan tersebut akan menambah koleksi vinyl dalam toko mereka BERDASARKAN UK TOP 40 CHART.

Hah, pantas saja ada yang janggal.

Iron Maiden, saya mengagumi band ini baik dari musiknya maupun cara mereka merepresentasikan citra mereka. Salah satunya dengan menggunakan maskot yang sudah sangat ikonik, yaitu Eddie. Kalau nantinya vinyl mereka bisa didapatkan lebih mudah di swalayan di Indonesia, saya rasa itu akan menjadi trigger yang bagus untuk perkembangan musik rock secara umum dan gairah untuk mengkoleksi rilisan fisik di masyarakat.

Tetapi kenapa koleksi vinyl berikutnya malah menjadi mengacu pada chart Top 40? Kenapa dari Iron Maiden tiba-tiba jadi One Direction? Atau Justin Beiber?

Jika memilih Iron Maiden sebagai barang dagangan yang dipasarkan untuk pertama kali, bukankah langkah yang logis untuk melanjutkan kesuksesan pemasaran band rock tersebut adalah dengan cara menambah koleksi rilisan rock. Bisa dengan menambah katalog album Iron Maiden yang lama, menambah band yang serupa dengan Iron Maiden, menambah koleksi rilisan band yang ter-influence oleh Iron Maiden, atau bisa juga dengan menambah band yang hadir sebelum Iron Maiden dan menjadi influence mereka.

Menurut saya ini adalah indikasi bahwa jaringan pasar swalayan tersebut tidak terlalu perduli dengan perkembangan musik yang berkaitan dengan kultur vinyl, melainkan hanya mempertimbangkan nilai ekonomi dari kultur vinyl saja. Indikasi tersebut sangat jelas karena semua koleksi vinyl dalam pasar swalayan nantinya akan mengacu pada chart Top 40.

Kebangkitan vinyl telah menjadi penyelamat dalam keragaman dan keunikan industri musik dewasa ini. Setelah padamnya penjualan fisik dalam bentuk CD, musisi tidak lagi menggantungkan diri pada penjualan fisik dan berjuang keras supaya bisa bertahan dalam pertunjukan langsung. Band band besar tidak lagi bisa bersantai dan ongkang-ongkang kaki di tempat wisata, melainkan harus ikut turun ke lapangan dan berjuang bersama band-band kecil yang tidak memiliki kekuatan penjualan fisik. Dalam iklim seperti ini, vinyl menjadi salah satu atau bahkan satu-satunya sumber penjualan fisik yang masih bertahan sampai hari ini.

Lalu apa yang terjadi bila vinyl menjadi pengganti CD di masa sekarang? Apa yang terjadi bila vinyl menjadi media yang kembali popular, berkat adanya jaringan retail baru di pasar swalayan? Tentunya band-band besar tersebut akan kembali bermalas-malasan karena mendapatkan keamanan mereka kembali. Sedangkan band-band kecil yang sudah biasa merilis rilisan mereka sendiri, akan tetap berada di posisi mereka. Karena rilisan mereka tidak akan masuk ke pasar swalayan tersebut. Karena rilisan mereka tidak masuk ke dalam Chart Top 40.

Tetapi bukan itu yang mengkhawatirkan bagi saya. Karena band kecil maupun band besar seperti Iron Maiden, akan tetap berkarya dan menampilkan diri mereka di mana pun. Karena mereka sadar akan kekuatan karya mereka dan tahu bagaimana merepresentasikan karya mereka. Terutama band-band rock, indie rock, dan band aliran apapun yang memang sedari dulu sudah sadar dengan potensi rilisan fisik dan terus mempertahankan rilisan fisik baik dalam jumlah kecil maupun besar (tergantung skala band) karena mereka sadar di luar sana banyak penggemar mereka yang menghargai musik mereka dan bersedia membelinya (atau sangat mengharapkan adanya rilisan fisik).

Yang saya khawatirkan adalah mereka-mereka yang mengisi chart top 40, yang 5 tahun lalu merasakan keuntungan besar dari penjualan musik digital, yang 5 tahun lalu sama sekali tidak perduli dengan rilisan fisik apalagi rilisan vinyl, yang tidak perduli dengan cara merepresentasikan karya mereka. Mereka-mereka yang hanya perduli soal bagaimana mendapatkan keungungan besar, kemudian tiba-tiba hadir di pasar swalayan merilis vinyl hanya karena bakal mendapatkan keuntungan besar.

Ini semua baru angan-angan. Kebangkitan vinyl sebagai media musik utama di seluruh dunia mungkin akan terjadi, mungkin juga tidak. Jika terjadi, kita akan melihat penjualan album vinyl One Direction mencapai jutaan kopi. Yang pasti, pada akhirnya kebangkitan kultur vinyl tersebut akan memudar dengan sendiri nya di masa yang akan dating dan dianggap sebagai sebuah fase dan trend kuno dan sesaat, lalu ditinggalkan lagi oleh industri musik dunia.

Jika saat itu tiba, mari kita lihat rilisan siapa yang akan tetap menjadi koleksi di dalam lemari kita semua dan rilisan mana yang akan menjadi barang rongsokan dan sampah plastik yang tidak terurai. Yang pasti bagi saya, vinyl Iron Maiden, Led Zeppelin, Black Sabbath dan semua album favorit saya akan tetap berada di lemari sana. Bukan vinyl One Direction, karena saya tidak akan membelinya, karena dirilis dalam bentuk vinyl belum tentu membuat sebuah rilisan menjadi lebih bagus atau menarik.

 

Foto : inspireentertainment.com

0 COMMENTS

Info Terkait

supernoize
851 views
supernoize
851 views
supernoize
851 views
supernoize
851 views
supernoize
851 views
supernoize
3089 views

Saat Venue Musik Gugur Perlahan