WHAT HAPPENS TO INDIE MUSIC ON RADIO

  • By: Prita Prawirohardjo
  • Senin, 15 June 2015
  • 6318 Views
  • 1 Likes
  • 0 Shares

Dalam kurun waktu lima belas hingga delapan belas tahun lalu, kita mendengar nama-nama seperti Mocca, White Shoes & The Couples Company, The Brandals, The Upstairs, Goodnight Electric, Sore, The S.I.G.I.T, dan masih banyak lagi band-band indie lokal yang mewarnai kancah industri musik Indonesia. Selain turut meramaikan panggung musik lokal, bahkan ada yang berprestasi hingga panggung musik internasional, nama-nama tersebut juga memberikan warna unik dan berbeda yang turut menghiasi playlist radio-radio swasta seluruh Indonesia, mulai dari kota besar hingga ke daerah-daerah di pelosok.

Belasan tahun berselang, tren pemilihan lagu untuk diputarkan di radio pun berubah. Musik yang kita dengar saat ini, di tahun 2015 di radio-radio top ibu kota, sungguh jauh berbeda dengan musik yang kita pernah dengar di radio belasan tahun lalu. Saat ini nyaris tidak ada radio besar ibukota yang memutarkan lagu-lagu yang dibawakan band indie, baik lokal maupun internasional, di jam prime time mereka. Masih ada segelintir radio yang memutarkan lagu band indie atau lagu yang non hits di malam hari, di jam-jam yang pendengarnya tidak sebanyak pagi, siang atau sore hari.

Apakah anda, seperti juga penikmat musik indie lainnya, bertanya-tanya mengapa saat ini sulit sekali untuk mendengarkan musik indie di radio lokal?

Seiring berjalannya waktu dan survei yang diadakan setiap radio, ditemukan analisa baru bahwa pendengar radio masa kini hanya ingin mendengarkan musik easy listening, musik yang diharapkan sudah menjadi hits, menjadi hits disini artinya sudah ada video klipnya, sudah terdengar dimana-mana sejak bulanan bahkan beberapa tahun lalu, sudah bisa dinyanyikan bersama di tempat-temat karaoke dan mudah dinyanyikan. Pendengar radio masa kini tidak butuh edukasi musik, tidak butuh lagi digurui atau diarahkan bahwa ada musik baru yang keren, yang tidak komersil, yang mungkin saja bukan merupakan selera masyarakat urban pada umumnya. Pendengar radio masa kini hanya butuh hiburan berupa musik yang membuat mereka turut berdendang karena lagunya sudah tak asing lagi, dan celotehan penyiar yang lucu. Itu saja.

Jangankan band indie baru atau musisi pendatang baru yang belum dikenal, bahkan untuk musisi atau band yang sudah sangat terkenal sekali pun, harus menerima kenyataan bahwa lagu terbaru mereka mungkin baru bisa didengarkan di radio-radio besar dalam jangka waktu minimal tiga bulan setelah lagunya dirilis.

Radio-radio ibukota saling tunggu menunggu, siapakah di antara mereka yang pertama kali memutarkan lagu terbaru dari musisi atau band tersebut. Jika radio yang dianggap nomor satu dan dijadikan tolak ukur radio lainnya telah memutarkan lagu itu, maka biasanya radio-radio lain yang jumlah pendengarnya di bawah dua juta telinga baru mau ikut memutarkannya.

Tidak ada lagi idealisme music director dalam setiap radio, karena musik yang diputarkan adalah hanya yang disukai oleh target pendengarnya. Tidak ada lagi edukasi, tidak ada lagi musik yang benar-benar baru, dan karena pendengar setia radio hanya menginginkan musik mainstream easy listening yang mudah dinyanyikan, maka tidak ada lagi musik indie di radio.

Pendengar radio kini statusnya adalah raja, yang harus selalu dipenuhi keinginannya, karena semua radio berlomba-lomba berebut pendengar, mengupayakan yang terbaik untuk mendapatkan jumlah pendengar sebanyak mungkin, dengan standar minimal mencapai seratus ribu pendengar, dengan harapan para pengiklan akan membelanjakan budget promosi mereka di radio yang pendengarnya banyak menurut survei terpercaya.

Pada akhirnya, radio adalah bisnis. Yang bertahan hingga kini adalah radio-radio dengan jumlah pendengar yang dapat mengakomodasi pengiklan yang mendatangkan pendapatan untuk radio tersebut.

Sungguh disayangkan bahwa untuk saat ini musik indie belum lagi menjadi lahan empuk untuk memancing pengiklan berpromosi di radio.

Band atau musisi indie kini lebih banyak berpromosi di ranah digital. YouTube, iTunes, media sosial, situs-situs musik, selain tentunya meningkatkan jam terbang manggung dimana-mana.

So what happens to indie music on radio?

It just had been sleeping for a while.

2 COMMENTS
  • sigitnugroho

    tp selain hitz fm substereo juga ada segmen musisi indie.

  • sigitnugroho

    sayang bener padahal kalo flashback ke jaman dulu indie masih ada semenjak awal 2014 sayang banget udah gak ada.

Info Terkait