CAMERA ON: Yose Riandi Berseru "Jepret Fotonya"

  • By: Yose Riandi
  • Selasa, 13 December 2016
  • 4038 Views
  • 1 Likes
  • 0 Shares

Untuk sebagian orang, tanggal 8 Desember juga dikenang sebagai hari kematian sosok John Lennon. Kematian sang ikon yang meninggal karena ditembak oleh penggemarnya. Tapi tulisan ini tidak akan membahas kematian sang ikon maupun rentetan kejadian setelahnya. Saya akan mengulik sedikit aktivitas Lennon sebelum peristiwa tragis tersebut.

Sekitar lima jam sebelum peristiwa tersebut, Lennon melakukan wawancara dan sesi foto di apartemen dengan Annie Leibovitz sebagai fotografer. Dari beberapa jepretan, salah satu paling ikonik adalah Lennon telanjang bulat sambil berbaring memeluk Yoko Ono yang berpakaian lengkap. Boleh jadi pemotretan untuk promo album gabungan Double Fantasy tersebut adalah yang terakhir kalinya dilakukan Lennon dalam hal foto yang dilakukan secara profesional ketika masih hidup.

Peristiwa tersebut mengajarkan kepada saya sebagai pelaku fotografi, bahwa kita tidak pernah tahu “nasib” orang yang kita foto. Dengan dorongan tersebut, saya mencoba untuk mengabadikan siapa saja, dalam hal ini musisi, semampu saya. Bila memang saya mendapat kesempatan dan waktu untuk mengabadikannya, akan saya lakukan.

Hal ini agar saya kembali tidak menyesal karena telah melewatkan sebuah kesempatan untuk memotret seorang musisi legenda : penabuh drum Koes Plus, Murry. Karena tengah menjalankan tanggung jawab di tempat lain, saya terpaksa melewatkan melihat pentas Koes Plus di tempat lain di waktu yang bersamaan. Beberapa bulan kemudian beliau meninggal dunia.

Saya baru sekali memotret almarhum. Di sebuah acara musik yang temanya mengangkat karya-karya Koes Plus. Waktu itu beliau hadir sebagai tamu mewakili rekan-rekannya. Salah satu momen yang berhasil saya tangkap pada saat itu adalah ketika David, vokalis Naif, menghampiri lalu mencium tangan beliau.

Setelah saya ingat-ingat lagi, ternyata masih ada lagi musisi yang saya kelewatan untuk mengabadikannya. Dia adalah almarhum Ricky Dayandani atau lebih dikenal sebagai Miten, mantan gitaris Netral. Ketika dia bersama Bimo dan Bagus bergabung kembali dan membentuk Brutal, saya belum pernah sekali pun memotret kebersamaan mereka di atas panggung. Bahkan ketika Netral masih dalam formasi awal.

 

Memaknai kata Mengenal

Satu hal lagi yang bisa saya ambil pelajaran dari Annie Leibovitz adalah berkaitan dengan salah satu ucapannnya. Dia pernah berkata yang bila diterjemahkan secara bebas adalah ketika dia memotret seseorang, sebenarnya dia ingin mengenal orang yang difotonya. “Mengenal” adalah kata yang harus saya garis bawahi.

Mengenal di sini saya maknai bukan sekedar tahu tentang hal-hal pribadi. Tapi bagi saya adalah ingin mengetahui hal-hal yang terjadi ketika seorang musisi di belakang layar. Baik ketika tengah latihan atau melakukan proses kreatifnya. Bisa pula mengintip aktivitas ketika akan melakukan sebuah pentas.

Hal tersebut saya lakukan karena ingin memberitahukan lewat foto kepada khalayak apa yang seorang musisi atau band lakukan untuk memberikan karya terbaik mereka, kepada penggemar atau penikmat karyanya. Mungkin banyak yang tidak peduli bagaimana kerja keras seorang musisi dan tim pendukungnya. Ketegangan yang dirasakan ketika akan naik panggung, serta luapan emosi ketika akhirnya pentas telah selesai dijalankan.

Namun hal tersebut bukanlah perkara gampang. Tidak semua musisi atau band bisa dengan gampang memberikan akses. Karena itu saya kerap kali “bergerilya” untuk mendapatkan akses tersebut. Tak heran bila saya sering nekat meminta izin langsung ke siapa saja yang menurut saya dapat memberikan akses untuk mengintip aktivitas di belakang layar.

Saya, serta jutaan orang lainnya, sebenarnya ingin sekali bisa mendapatkan kemudahan seperti dua orang ini : Ross Halfin dan Dennis Morris. Nama pertama adalah fotografer yang memotret Metallica sejak pentas di tempat-tempat sempit sampai maha luas dengan ratusan ribu penonton. Semuanya berawal dari sebuah ajakan dari manajer Metallica lewat telepon di tahun 1984. Tawaran menggiurkan yang untungnya tidak ditolak.

Lalu siapa Dennis Morris? Anda pernah melihat poster atau foto Bob Marley berbaju hitam dengan latar belakang berwarna coklat tengah asyik menikmati “pocong”? Image tersebut adalah satu dari ratusan frame foto yang pernah ia abadikan ketika selama beberapa tahun bersama Marley. Semuanya berawal dari kesabaran dan sebuah pertanyaan yang berujung menyenangkan.

Waktu itu tahun 1974 Morris bolos sekolah dan pergi ke Speak Easy Club, Inggris. Waktu itu Bob Marley bersama rekan-rekannya akan melakukan soundcheck. Ketika Morris melihat Marley dia langsung bertanya apakah boleh memotretnya. Dan Marley mengizinkan lalu mengajaknya masuk. Pentas malam itu dia foto yang disenangi oleh Marley hasilnya. Tak perlu waktu lama, keesokan harinya Morris ikut keliling dalam rangkaian tur bersama Marley dan bandnya.

 

All Access or No Access

Memang bukan perkara mudah untuk mendapatkan akses. Saya pun masih sering ditolak, tapi bukan berarti kemudian tidak memotret. Toh, yang penting sudah berusaha. Potret saja sesuai dengan porsi yang kita dapatkan, baik berada di barisan penonton atau di dalam media pit. Walau tempat kedua memang kadang hanya dibatasi untuk official photograper atau media.

Memotret dengan berdesak-desakan di penonton memang kadang menyebalkan. Selain menjaga badan yang paling utama tentu menjaga kamera agar tidak jatuh karena tersenggol atau bahkan tertendang. Tapi bukan berarti tidak bisa menghasilkan foto yang bagus kan? Gak percaya? Contoh kasusnya ada pada Ed Caraeff.

Waktu itu dia jadi salah satu penonton di Monterey Pop Festival tahun 1967. Saat itu Jimi Hendrix tengah pentas dan membawakan lagu terakhir. Tanpa disangka, Hendrix membakar gitarnya. Caraeff yang kebetulan berada persis di depannya dan membawa kamera tak menyia-nyiakan momen tersebut. Dengan film tersisa hanya satu jepretan, dia berhasil mendapatkan foto yang kemudian melegenda.

Masih butuh alasan lain? Takut fotonya kebanyakan goyang atau tidak fokus? Jangan buru-buru dihapus kalau foto yang dihasilkan “cacat”. Saya beri contoh kasus lagi, kali ini dialami oleh Pennie Smith. Dimana hasil fotonya dapat dilihat di sampul muka album London Calling milik The Clash. Dimana Smith berhasil mengabadikan Paul Simonon tengah membanting bass.

Pada awalnya Smith menolak foto itu digunakan untuk sampul muka. Dia menganggap itu foto gagal karena tidak fokus. Tapi gitaris dan vokalis Joe Strummer serta desainer grafis Ray Lowry malah menganggap foto itu pas sekali. Singkat cerita, foto itu kemudian disebut oleh Q Magazine sebagai salah satu foto rock and roll terbaik sepanjang masa.

Masih mau mengeluh lagi tidak mau memotret dengan sejuta alasan lainnya? Ya sudah. Simpan kameramu. Masukkan ke dalam tas. Nikmati pentas musik di depanmu. Daripada membuang-buang energi untuk mengeluh, lebih baik bersenang-senang. Abadikan semua yang dilihat di depan mata dalam ingatanmu. Karena bisa jadi, mengutip lagu The Upstairs, semua yang terekam tak pernah mati.

0 COMMENTS

Info Terkait

supernoize
6320 views
supernoize
3746 views
supernoize
9163 views
supernoize
2559 views