Yulio 'Piston': Apa yang Membuat Sebuah Band Disebut 'Sellout'?

  • By: Yulio Onta
  • Minggu, 8 April 2018
  • 4498 Views
  • 2 Likes
  • 10 Shares

Malam itu, di sebuah ruang tengah rumah kos di kawasan Jatinangor, Jawa Barat, kami empat orang mahasiswa tingkat paling akhir sudah duduk rapi di depan televisi. Cemilan kacang sudah, satu botol minuman sudah, dan beberapa bungkus rokok pun disiapkan. Kami akan menyaksikan penampilan band favorit, Seringai yang malam itu dijadwalkan tampil live di salah satu tv swasta. Acara ini tipikal talkshow yang bisa ditonton bersama-sama keluarga, tayangnya di jam prime time, kedua host-nya pun doyan banyol dengan selera humor yang boleh dikatakan aman untuk konsumsi massal.

Tak lama menunggu, kemudian acara pun tayang. Ini merupakan salah satu program dengan rating tertinggi di stasiun televisi tersebut, penontonnya ada dari beragam usia, tua-muda. Skalanya pun besar, dari penghujung timur ke barat Indonesia. Bayangkan kalau kalian sedang mempromosikan sesuatu dan bisa tampil disini, minimal followers di akun media sosial naik signifikan. Belum lagi embel-embel setelahnya, dari yang masih awam bisa jadi kenal, yang sudah tahu bisa menyebar lagi beritanya.

Ya seperti kami saja, kami tahu malam itu Seringai akan tampil karena diberi tahu salah seorang kawan. Kami bukan tipikal yang rajin duduk menonton program TV di malam hari, bahkan ruang tengah rumah kos kami lebih sering dijadikan tempat poker atau sesi minum-minum daripada belajar bersama, haha!

Lagu “Program Party Seringai” menggelegar begitu program ini dimulai. Kami yang memang seorang Serigala Militia (fans Seringai) merasa kagum sekali. “Wah sound gitarnya Ricky tetap garang ya, padahal di acara TV begini,” ceplos seorang teman. Ya tentu kami senang, band favorit kami yang notabenenya adalah band independen bisa tampil dengan kualitas suara mentereng di jam prime time di saat banyak band nasional hanya bisa tampil lipsync di acara tv yang lain, tayang pagi hari pula, ah mana keren, pikir kami. Lagipula, siapa juga yang punya waktu menonton acara musik pagi-pagi begitu, orang pasti baru saja sampai di kantor untuk memulai hari mereka yang membosankan, sebagian lagi pasti sedang duduk rapi menunggu kelas pagi mereka dimulai.

Sekitar setengah jam segmen khusus Seringai selesai. Membahas sejarah, kesibukan member-nya masing-masing, sampai membagi pengalaman membuka band metal paling kaya raya sejagat dunia, Metallica. Kami masih kagum, maklum anak muda, kalau sudah militan susah berpaling hati. Setelahnya, kami semua sepakat kalau sekarang Seringai sudah next-level-shit karena mereka berhasil tampil disana. Kenapa program TV tersebut memilih Seringai? Bukannya, musik seperti ini selalu dianggap tidak komersil ya? Kenapa mereka rela mengorbankan satu slot tayang untuk sebuah band metal yang tidak TV-genic dibanding selebriti lainnya yang lebih menjanjikan rating? Beberapa pertanyaan model tersebut singgah sejenak. Hanya lewat saja, lalu kami pun kembali ke kamar masing-masing.

Besok paginya di kampus, beberapa penggemar musik metal dari jurusan sebelah membahas acara semalam. “Ah mereka sekarang udah sellout. Seringai mah band metal artis, udah masuk TV, katro!” sambil terbahak-bahak, suaranya kencang hingga terdengar oleh kami. Kantin FISIP di kampus kami memang sempit, jadi mereka yang bermulut besar lah yang akan mencolok.

Di sana saya menyimak pelan-pelan sambil berpikir, apa sih sebetulnya yang bisa membuat sebuah band dikatakan sellout?

Bertahun-tahun kemudian, akhirnya saya mulai rajin menjalankan aktivitas main band. Membuat lagu, rekaman di studio, merilis album, bekerjasama dengan label, manggung, berjejaring dengan teman-teman, baik itu di dalam atau luar kota, dari EO sampai wartawan musik, semua saya lakoni karena memang menyenangkan. Hingga suatu hari saya ada di lingkungan korporat besar, penyelenggara salah satu festival terbesar, di dalamnya ada musisi-musisi kelas kakap yang banyak dimintai masukan, ada juga para insan kreatif lainnya seperti promotor dan seniman dari masing-masing daerah. Banyak mendapat sudut pandang dan ilmu yang baru di sini. Namun sampai saat itupun saya belum lupa dengan pertanyaan di atas, apa sih sebetulnya yang bisa membuat sebuah band dikatakan sellout?

Menyenangkan saat band yang saya bentuk bersama teman-teman sekolah dulu, Piston, mendapat respon yang positif dari banyak orang yang tak terduga. Pelan-pelan kami semakin rajin manggung. Dari gig regional di seputaran Kemang saja, kemudian berpindah ke Depok dan Cikarang, lalu Bandung, hingga jaraknya semakin jauh sampai ke Semarang, Solo, Yogya, Surabaya, Lampung, Bali hingga Makassar. Tidak pernah terbayang sebelumnya. Acaranya pun beragam, dari gig sempit yang intim, sampai panggung megah yang membuat kami terlihat gagah ketika di foto, semuanya seru.

Dalam perjalanannya, membuat kami sering berbagi backstage dengan mereka yang sudah lama bergelut di bidang musik, teman-teman penggiat acara musik, serta para tondie (tokoh indie) di tiap daerah. Banyak bertukar obrolan dan membahas isu, ber-gogon ria (gosip underground), sampai berbagi referensi. Dari sana pelan-pelan saya rasanya mulai mendapatkan jawaban dari pertanyaan klasik saya, apa sih sebetulnya yang bisa membuat sebuah band dikatakan sellout.

Dan ternyata ungkapan sebuah band bisa dibilang sellout itu bukan hanya pada kasus semisal jika mereka tampil di media besar saja, ada banyak yang saya temui di jalan. Sekaligus akan coba saya jabarkan satu-persatunya disini.

Yang pertama, menanggapi pernyataan yang menyebut kalau tampil di media massa berskala masif (seperti masuk ke TV nasional atau menjadi cover majalah besar) lantas di sebut sellout. Mereka sebagai band metal, musik yang selalu dianggap tidak komersil di negeri ini, tentu saya rasa senang ketika ditawari untuk tampil di TV nasional. Selama penawarannya fair dan tidak mencederai salah satu pihak (misal: lipsync, menurut saya kualitas sebuah band tentu menurun ketika tampil lipsync dibanding live, tidak ada energinya) nampaknya tidak masalah.

Efeknya yang paling krusial, mungkin bisa menyuntik semangat untuk band-band muda yang lain, kalau ternyata bukan tidak mungkin memainkan musik metal di sini, band kalian pun bisa jadi sebesar mereka. Kedepannya, malah penampilannya bisa sambil mempromosikan album baru mungkin? Sebuah promosi ekslusif dan besar skalanya. Seperti apa yang sudah dilakukan oleh Slayer dan Mastodon dan banyak band metal lain di luar negeri. Anehnya, mereka yang menyebut tampil di TV nasional itu adalah sebuah langkah sellout dari sebuah band, sampai saat ini masih terus memuja Slayer dan Mastodon secara lahir batin. Ya setiap orang memang selalu punya tempat untuk menaruh standar ganda dalam hidupnya masing-masing.

Logikanya, bila promosi maksimal dan besar, tentu daya jangkaunya pun lebih luas. Di daerah pelosok yang hanya memiliki hiburan berupa TV nasional, mereka siapa tahu jadi mulai menaruh minat di musik metal karena ini. Untuk jangka panjangnya, bisa saja pelan-pelan hal ini menjadi stimulus semangat bermain musik dengan lebih giat lagi. Bukankah lebih seru kalau nantinya setiap bulan ada banyak rilisan bagus dari bermacam daerah selain kota besar? Semoga dengan begitu, kancah ini bisa semakin subur.

Seorang Conrad Thomas Lant (Cronos) vokalis bengis dari band biangnya black metal, Venom, mengaku terinspirasi untuk bermain musik metal setelah menonton Black Sabbath di program TV Top of the Pops tahun 1970 saat masa remajanya.

Lalu tentang terminologi sellout yang berikutnya. Ini sebenarnya merupakan isu lawas, saya baru teringat lagi, maka ditambahkan saja sekalian. Banyak yang menyebut Superman Is Dead adalah band underground paling sellout di Indonesia. “Masak band punk masuk ke label raksasa? Major label seperti Sony Music? Cih! You guys aint punk anymore! Kapitalis bajingan!” Kira-kira umpatan seperti itu sudah hinggap ke tubuh Superman Is Dead sejak tahun 2003 silam, bahkan hingga kini. Karena mereka yang tadinya selalu riuh dan aktif di kancah bawah tanah, kemudian berbelok menuju major label sebagai rumah barunya.

Superman Is Dead tentu tidak ambil pusing dilabeli sellout dan pengkhianat. Memang dasarnya ini band brengsek, bekal mereka adalah mental setebal baja. Dilempari dan ditimpuki, diprovokasi sampai diludahi pun mampu dilewati dengan gagah. Kini mereka menjelma menjadi band dengan salah satu fanbase terbesar seantero negeri. Modalnya masih sama seperti dahulu, lagu-lagu bertema perlawanan. Bila membahas tentang punk dan anti-kapitalismenya, Supeman Is Dead pun memberi wujud yang konkrit.

Di saat band lain masih berteriak tentang anti kapitalisme yang kosong, rasanya semu dan bias, tidak jelas tertuju kemana dan untuk apa, Superman Is Dead menjadi yang terdepan mengakomodir gerakan Tolak Reklamasi di Bali. Memobilisasi penggemarnya, memberi pengertian bahwa pembangunan yang baik adalah pembangunan yang tidak merusak dan memperhatikan lingkungan sekitar. Mereka bukannya anti pembangunan, tapi disaat pembangunan itu hanya akan lebih banyak menimbulkan kerugian massal dan keuntungan bagi beberapa pihak tertentu, mereka tidak akan duduk anteng. Jerinx sang penggebuk drum, menjadi salah satu yang paling vokal akan aksi ini, dirinya bahkan sering mendapat teror di dalam maupun diluar panggung.

Ingat waktu Berry ‘Saint Loco’ disiram air keras ketika dirinya disangka sebagai Jerinx oleh segelintir orang? Atau buntut dari kengototan Superman Is Dead akan isu reklamasi ini berakibat pada pemangkasan jadwal manggung mereka secara gila-gilaan, apa mereka peduli? Tentu tidak. Ini semua tentang mengambil sikap untuk berdiri bersama masyarakat dan ikut membela mereka atas gempuran penguasa, karena rebel yang sesungguhnya adalah perlawanan atas sesuatu yang lebih besar dan kuat dari kalian. Kalau hanya sebatas berteriak anti-kapitalisme tanpa ada aksi, ya semua orang pun bisa melakukan itu. Tapi ketika mempertaruhkan isi kantong sampai ke urusan nyawa, hanya mereka yang punya nyali yang berani. Dan di sini, mari angkat topi untuk Jerinx.

Kini ia hanya ingin sesuatu yang konkret, yaitu dengan melawan sesuatu yang mengancam keharmonisan hidup. Memang, musik Superman Is Dead sempat sedikit melemah di album terakhir mereka, Sunset Di Tanah Anarki (2013), tapi nampaknya di titik ini Superman Is Dead sudah tidak memusingkan genre dan memilih fokus di substansi dan esensi dari punk itu sendiri, it aint genre, it’s a way of life. Bersamaan dengan rilisnya album tersebut, gerakan menolak reklamasi pun dimulai di Bali. Album ini kemudian menemukan hulu ledaknya. Lagu “Jadilah Legenda” banyak dipakai sebagai anthem saat marching melawan penguasa dibalik proyek yang dinilai destruktif tersebut. 

Jadi, apakah dengan masuknya Superman Is Dead ke major label dan bertahan di sana hingga hari ini membuat mereka sellout dan melacurkan kehormatan dari punk itu sendiri? Rasanya tidak bila melihat rekam jejaknya. Justru apakah ini yang disebut sebagai menjalankan nilai-nilai punk di kehidupan sehari-hari dalam kondisi yang memang riil? Bisa jadi.

Lanjut lagi untuk yang berikutnya. Mereka yang banyak dilabeli sellout adalah band yang tadinya nobody kemudian menjadi somebody. Mereka bermain dengan aksi memukau, memiliki materi yang bagus dan bermuara kepada jadwal tampil kian padat. Hingga akhirnya band tersebut melanglang buana dan ada hampir di setiap acara. Kemudian muncul tanggapan, “Wah sekarang mereka sudah sellout, mereka sudah main di mana-mana, mereka sudah jadi besar.”

Nah, yang satu ini yang paling bikin garuk-garuk kepala sebenarnya. Bermain musik dan menjalankannya adalah sebuah proses yang menyenangkan di satu sisi, dan mengenaskan di sisi yang lain. Menyenangkan karena kebanyakan semua ini berangkat dari hobi, siapa yang tidak suka menjalankan hobi masing-masing? Demi hobi, banyak yang meluangkan waktu sebesar-besarnya. Mengenaskan karena ternyata bermain musik bukanlah sebuah hobi yang murah, rawan konflik, dan benar-benar menyita waktu. Tidak murah karena harus beli gear-nya, latihan berjam-jam di studio, rekaman, banyak yang merogoh kocek pribadi dan dalam. Bahkan, untuk membentuk tim produksi guna menghasilkan sebuah live show yang ciamik atau menjalankan tur promosi, banyak juga yang masih mengandalkan dana swadaya para personel. Bermain band perlu modal yang tidak sediki, materi maupun non materi.

Kemudian rawan konflik. Orang pacaran yang cuma berdua saja bisa putus, atau ekstremnya, yang menikah saja bisa cerai. Apalagi sebuah band, formasi biasanya adalah tiga sampai lima orang di dalam satu band. Bila tidak pandai-pandai bermain konflik dan manajerial internal, dalam hitungan bulan bisa bubar jalan. Semua memiliki ego yang kencang. Jadi, membentuk band yang harmonis dalam kurun waktu bertahun-tahun itu merupakan hal yang tidak mudah. Dan menyita waktu, berapa banyak waktu yang dikorbankan untuk sekadar latihan di studio, jamming membuat lagu baru, atau bahkan untuk sekedar berkumpul menentukan kemasan packaging. Ditambah menyesuaikan dengan jadwal kegiatan masing-masing, rumit.

Yang mampu menggerakan mereka untuk terus bermain musik dan mengabaikan hal-hal tidak menyenangkan dari bermain musik itu sendiri adalah gairah yang besar dalam diri tiap personil. Passion yang menggebu untuk maju. Keinginan tersebut akhirnya mendorong sebuah band secara tidak sadar mampu menerobos dan membakar banyak batasan. Semua ngotot untuk terus bermain musik dan menjadi besar, bahkan tidak sedikit yang meninggalkan pekerjaan kantorannya, mencurahkan seluruh waktu untuk hobi musiknya ini. Saat mereka ada di titik yang bisa dikatakan sebagai sebuah pemcapaian dari semua kerja kerasnya, rasanya sah-sah saja.

Kemudian banyak bermunculan tanggapan tentang band tersebut kini sudah sellout, biasanya dikemas dalam beberapa bentuk seperti sudah tampil dimana-mana, panggungnya sudah besar-besar, dan terkesan meninggalkan roots-nya.

Mungkin yang belum banyak diketahui oleh orang-orang perihal musisi atau anak band adalah tentang keinginan mereka yang paling luhur yaitu hanya bermain musik terus-menerus hingga waktu yang belum bisa dijawab. Karena musisi adalah bermain musik, sedangkan kalau akuntan adalah pembukuan atau sutradara adalah mengarahkan film, sesederhana itu sebetulnya, sudah ada pakemnya.

Lagi-lagi, semua itu berangkat karena hal yang banyak dianggap sepele tadi, hobi. Seberapa dalam dengan hobinya? Kalau sesuka itu, ya sudah pasti diperjuangkan sekeras itu. Karena semua pihak nampaknya akan setuju, hal yang paling menyenangkan di dunia ini adalah tentang menjalankan hobi masing-masing, entah itu hobi main musik, memancing, bermain sepakbola, mabuk, traveling, main game, selingkuh dan lainnya.

Perihal mereka bisa hidup dan sukses dari sana adalah sesuatu yang wajar bila menilik ke seberapa keras usahanya. Ya sama saja seperti bekerja di kantor mati-matian, menabung gaji 20 tahun lalu mampu membeli rumah, membeli mobil, menikah dan punya anak, kemudian hidup bahagia. Hanya berbeda ranah saja. Membuat lagu, rekaman, rilis, konser, banyak fans, tampil di mana-mana, kemudian jadi terkenal, mampu membeli rumah, membeli mobil, menikah dan punya anak, kemudian hidup bahagia.

Kalau usahanya maksimal, hasil akhir akan sejalan dengan bentuk usaha. Setidaknya itu yang saya lihat dari banyak band-band idola. Mereka total dalam bermusik, hasilnya seperti yang bisa kalian lihat, masif. Dan yang paling penting, mereka terus memainkan musik yang mereka suka, banyak eksplorasi guna membuat kehidupan musisi yang bak rollercoaster itu terus berjalan menyenangkan juga menjanjikan. Karena namanya musisi, mereka hanya ingin bermain musik dan hidup di musik, itu saja.

Jadi, seharusnya sebuah band bisa dikatakan sellout apabila mereka melakukan sesuatu yang tidak mereka sukai, tapi demi uang atau reward, dan tetap dilakukan secara terpaksa. Kalau melihat contoh yang saya paparkan di atas, tidak ada di antara mereka yang melakukan sesuatu yang mereka tidak sukai dan secara terpaksa ya. Dan yang paling penting, ada eksistensi karena konsistensi. Salut!

Foto: ChadHCreates, dokumentasi pribadi penulis, berbagai sumber

0 COMMENTS