Crayola Eyes

Supertapes: Crayola Eyes

  • By: GP
  • Selasa, 25 June 2019
  • 559 Views
  • 1 Likes
  • 0 Shares

Crayola Eyes dikenal sebagai salah satu pemegang pilar psychedelic rock di Jakarta. Sejauh ini, sekstet Reno Nismara (vokal), Kendra Ahimsa (gitar), Bayu Andrianto (gitar), Fadli Adzani (bass), Ferry Prakarsa (drummer), dan Sawi Lieu (kibor) baru melepas dua single berformat piringan hitam yang dirilis oleh label rekaman kawakan asal Bandung, Orange Cliff Records.

***

Lagu-lagu yang sering kami dengarkan dalam beberapa waktu belakangan. Diurutkan sesuai alfabet artis. (Crayola Eyes)

The 13th Floor Elevators - Slip Inside This House

Lagu ini kembali sering saya dengarkan sejak Roky Erickson meninggal dunia pada akhir Mei lalu. Tema liriknya memang pekat akan filosofi psikedelik yang dianut band, tetapi sulit untuk tidak mengaitkannya dengan misteri kehidupan setelah kematian. Apalagi pada bagian, “Higher worlds that you uncover/Light the path you want to roam/You compare there and discover/You won't need a shell of foam.” (Reno Nismara)

The Beatles - Tomorrow Never Knows

Mendiang John Lennon membawa pulang rekaman lagu ini dalam bentuk pita tape. Ketika diputar, pita tersebut tidak sengaja di-set berjalan mundur. Hasilnya adalah pengalaman eksperimental yang menguntungkan kita semua, baik pemain maupun sekadar pendengar musik. Vokal bergetar yang melambangkan ketidakpercayaan akan hari esok, ditabrak dengan lirik yang optimis, serta alunan instrumen yang dibiarkan berjalan mundur membuat semua elemen dalam lagu ini terasa paradoks. (Bayu Andrianto)

Daniel O’Sullivan - Rattleman

Tahun ini saya baru mendengar karya Daniel O’Sullivan, seorang multi-instrumentalis yang juga tercatat sebagai musisi additional untuk grup musik eksperimental Ulver, Sunn O))), dan This Heat. Albumnya yang berjudul Folly rilis pada Maret 2019 kemarin. Ketertarikan saya terhadap album ini dimulai dari artwork sampulnya, dengan konsep yang persis seperti sampul album Song Cycle dari Van Dyke Parks; hanya berbeda di peletakan tulisan dan gambar. Kini, album ini bisa saya nobatkan sebagai salah satu favorit yang sedang sering saya dengarkan. (Sawi Lieu)

Digable Planets - For Corners

Siapa yang bisa menolak pesona trio asal Brooklyn yang super cool ini? “For Corners” dibuka oleh kombinasi sample dari lagu Shuggie Otis (“Island Letter”) dan Roy Ayers (“Ebony Blaze”), dilengkapi pula dengan pocket groove yang funky. Lagu ini merangkum semua latar belakang musik saya ke dalam satu lagu. Jika diperhatikan, sebetulnya mayoritas drum pada lagu-lagu Crayola Eyes adalah beat soul/funk/hip hop yang saya mainkan dengan pendekatan rock & roll. So, now you know. (Ferry Prakarsa)

Los Dug Dug’s - Te Quiero

Diiringi bassline mengalir dan alunan vokal indah, lagu yang diambil dari album Cambia, Cambia milik band psikedelik asal Meksiko ini bagaikan ombak tropis segar yang membawa saya ke Isla Mujeres. Beberapa waktu kemarin saya kembali mendengarkan album ini setelah sekian lama, dan kualitasnya terbukti tak lekang waktu. Salah satu album yang saya rekomendasikan bagi para penggemar tropicália sound. (Kendra Ahimsa)

The Gun Club - The Breaking Hands

Jeffrey Lee Pierce memiliki talenta yang tak terbantahkan, baik sebagai penyanyi, penulis lirik, maupun pencipta lagu. Ia sering terdengar garang dengan musik blues rawa, namun tak sungkan pula menjadi rapuh seperti pada “The Breaking Hands” — diproduseri oleh Robin Guthrie dari Cocteau Twins. Di balik aransemennya yang indah berbinar, Pierce sepertinya justru sedang memohon empati setiap orang lewat lagu ini. Bila Anda tak merasakan deritanya, maka Anda sudah mati rasa. (Reno Nismara)

Dengarkan di sini.

Jim O’Rourke - Half Life Crisis

Saya termasuk orang yang mengidolakan hampir semua karya Jim O’Rourke, entah saat ia bertindak sebagai produser ataupun komposer. Simple Songs — di mana lagu “Half Life Crisis” tercantum — termasuk album yang saya tunggu pada tahun 2016 kemarin. Saya cukup terkejut ketika pertama kali mendengar album ini secara penuh; salahkan band Genesis (Phil Collins?) yang telah banyak memengaruhi komposisi musiknya. (Sawi Lieu)

Dengarkan di sini.

Kali Uchis - After the Storm (feat. Tyler, the Creator & Bootsy Collins)

Dari suara latar hujan petir, berlanjut ke drum dan bassline super funky, hingga disambut suara Bootsy Collins yang penuh karakter, lagu ini selalu bisa membuat saya merinding sejak detik pertama. Meski tergolong singkat, kehadiran Tyler, the Creator juga dapat memberikan aksen tersendiri ke dalam lagu. Liriknya jujur dan sederhana, mampu menambah semangat dalam berjuang hidup. (Ferry Prakarsa)

Tame Impala - Apocalypse Dreams

Tidak peduli berapa banyak lagu yang telah dan akan dirilis Kevin Parker, saya akan tetap bersilaturahmi dengan karya-karya terdahulu Tame Impala. Entah untuk bernostalgia, mencari inspirasi, atau mengingat kembali bagaimana lagu-lagu tersebut membuat saya yakin untuk memanjangkan rambut pada satu dekade silam. Saat ini, “Apocalypse Dreams” menjadi yang utama. Maklum, piringan hitam Lonerism sedang tergeletak begitu saja di atas turntable. Ketika diputar, lagu ini merekat lagi di kepala. (Fadli Adzani)

The Velvet Underground & Nico - All Tomorrow’s Parties

Sebagai lagu urutan keenam dalam album mahakarya The Velvet Underground & Nico, “All Tomorrow’s Parties” adalah penengah sekaligus penenang. Lagu sober di antara kegilaan wahana sirkus Andy Warhol. Esensi drone guitar dan shoegazing tertangkap seutuhnya di lagu ini, walau sebetulnya istilah-istilah tersebut belum diciptakan. Menjadi bukti betapa visionernya orang-orang yang ada di dalam band. (Bayu Andrianto)

0 COMMENTS

Info Terkait

supertapes
249 views

Supertapes: Pullo

supertapes
551 views

Supertapes: Tashoora

supertapes
554 views

Supertapes: Sal Priadi

superbuzz
778 views
supertapes
384 views

Supertapes: The Cat Police