10 'Album Konsep' Terkeren

  • By: NTP
  • Sabtu, 9 December 2017
  • 6423 Views
  • 1 Likes
  • 1 Shares

Album konsep biasanya memiliki satu kisah yang menyatukan lagu-lagu di dalamnya. Baik secara tematis maupun makna kolektif. Biasanya, hal ini disampaikan melalui lirik, walau ada juga album konsep yang dijahit dari instrumentasi atau komposisi. Keunggulan—dan kesulitan—album konsep adalah menjaga kualitas lagu per lagu, sementara menjaga kesatuan tema album.

Menurut Fiona Sturges, album konsep didefinisikan sebagai album yang didasari satu ide dramatik, tapi ini pun masih subjektif. Seringkali, terdapat perbedaan antara album yang didasarkan pada suatu tema dengan suatu naratif. Album konsep bisa saja menggunakan satu atau kedua alat cerita tersebut.

Salah satu album konsep paling pertama adalah Dust Bowl Ballads (1940) oleh musisi folk Woody Guthrie. Album tersebut menceritakan badai debu yang menghancurkan ladang Midwestern Amerika Serikat di periode 30-an. Berikutnya ada Frank Sinatra dengan In the Wee Small Hours (1955), balada dini hari seorang pria yang ditinggalkan kekasihnya.

Pada era 60-an format album konsep dipopulerkan oleh Frank Zappa, The Kinks dan The Beatles. Format ini bahkan begitu populer di dekade 70-an, dimulai dari Tommy dan ditutup oleh The Wall, yang bersinonim dengan labum konsep. Pasca The Wall, inspirasi album bahkan datang dari karya sastra, termasuk sains-fiksi atau karya klasik. 

Selain kekuatannya untuk membebaskan musisi secara kreatif dan menunjukkan kemahiran bermusik, album konsep jelas memiliki batasannya sendiri. Tidak semua album konsep diceritakan dengan jelas (contohnya Yoshimi Battles the Pink Robots milik The Flaming Lips), atau hanya disatukan dengan motif bunyi (contohnya Pet Sounds dari The Beach Boys). Hingga kini, tetap sulit menyebut suatu rilisan sebagai album konsep. Pengakuan sang musisi, atau analisa mendalam para pendengar, mungkin adalah jalan terbaik untuk menempel label album konsep. Berikut adalah beberapa album pengantar yang memudahkan kita mengenali album konsep:

1. The Mothers of Invention - Freak Out! (1966)

Debut The Mothers of Invention dan Frank Zappa adalah album rock eksperimental yang mengenalkan kembali format album konsep ke kancah rock Amerika Serikat. Sebagai penulis lagu dan lirik utama, Zappa menggabungkan aransemen blues rock dengan kolase bebunyian dalam materi Freak Out!

Album ini tidak mendapat respon positif saat dirilis. Freak Out! adalah album ganda sekaligus album konsep, saat itu pasar musik belum terbiasa dengan format ini. Namun setelah format tersebut mulai banyak digunakan dan Sgt. Pepper dirilis, Freak Out! menjadi album pionir.

Benang merah Freak Out! adalah komentar dan ekspresi satir Zappa terhadap budaya populer Amerika. Berbeda dengan sejawatnya yang menulis kritik, Zappa memilih blues rock eksperimental dan penggambaran absurd  sebagai medium ekspresi.

2. The Beatles - Sgt. Peppers Lonely Hearts Club Band (1967)

The Beatles berubah menjadi grup Lonely Hearts Club Band pimpinan Sgt. Pepper demi mengejar eksperimentasi sound dan komposisi yang sudah mereka capai di Revolver (1966). Sgt. Pepper diakui sebagai album konsep populer pertama dan pendekatannya terhadap album (konsep menyeluruh dari lirik hingga sampul) masih terasa hingga hari ini.

Sebagai album konsep, satu-satunya perekat materi Sgt. Pepper adalah penampilan alter-ego Lonely Hearts Club Band. Di album ini mereka berbicara tentang kehilangan kepolosan diri hingga mabuk fantasi dan ilusi. Dua nomor paling dikenal, “Lucy in the Sky With Diamonds” dan “A Day In Life”, dianggap sebagai metafor tentang konsumsi LSD.

Kuartet ini tidak meneruskan eksperimen dan penjelajahan melalui format album konsep. Sound ekspansif White Album (1968) justru menggunakan album format ganda.

3. The Who - Tommy (1969)

Gitaris legendaris Pete Townshend menulis musik dan lirik Tommy setelah mengenal ajaran dan karya Meher Baba, guru spiritual asal India yang banyak dianut oleh pendukung gerakan Flower Power. Tommy mengisahkan perjalanan hidup seorang anak “buta, bodoh dan tuli” serta hubungannya dengan keluarganya. Townshend membuat anak ini menjelajahi dua sisi kehidupan (baik-buruk, identitas pribadi-sosial, dll).

Saking populernya Tommy, materi album ini diadaptasi menjadi film surreal oleh Ken Russell pada tahun 1975. Album ini sudah terjual sebanyak 20 juta kopi dan dilantik ke dalam Grammy Hall of Fame. Kritikus musik juga menganggap Tommy mempopulerkan format album konsep di ranah rock Britania Raya.

4. David Bowie - The Rise and Fall of Ziggy Stardust And the Spiders from Mars (1972)

Pada majalah TIME, Bowie mengaku “(Di album ini) Bowie benar-benar menghilang… Saya betul-betul hilang dalam fantasi.” Karakter dan alter-ego Bowie paling tersohor ini adalah alien biseksual berambut merah api. Bowie menjelajahi fantasi ini melalui sound art rock dengan materi ciamik dan lirik puitis. Ziggy Stardust dianggap sebagai album rock dengan konsep matang, lengkap dengan naratif dan kisah internal. Ia mengisahkan seorang alien dari Mars yang ingin menyelamatkan manusia lewat seks. Stardust kemudian mengkritik pandangan manusia akan seks, cinta dan rock n’ roll, tema-tema besar yang mendominasi dekade 60-an.

5. Genesis - The Lamb Lies Down On Broadway (1974)

The Lamb Lies Down On Broadway adalah karya terakhir vokalis eksentrik dan pemain flute handal, Peter Gabriel, bersama Genesis. Pakem di jalur progressive rock, Genesis menggunakan penuturan abstrak yang terinspirasi dari mitologi Yunani dan latar New York untuk mengisahkan hidup Rael, seorang imigran asal Puerto Rico. Kisah Rael dituturkan berdasarkan interaksinya dengan berbagai figur. Naratif album ini dianggap sebagai salah satu dongeng rock paling gila, terutama saat Rael memotong penisnya sendiri. Musik Genesis kali ini terpengaruh oleh himne bernuansa relijius dan lagu klasik, selagi mempertahankan pendekatan struktur lagu populer. Tak mengherankan jika poros Gabriel-Phil Collins akhirnya retak di album ini.

6. Parliament - Mothership Connection (1975)

Konsep mitologi P-Funk (Parliament-Funkadelic, dua band besutan George Clinton) dimulai di album ini. Narasi Mothership Connection dimulai oleh seorang DJ radio WEFUNK yang tengah memandu pendengarnya dari sebuah kapal induk (“Mothership”) di luar orbit bumi. Melalui satu-dua dentuman funk rock, Clinton menempatkan album ini sebagai bagian penting gerakan pemikiran Afrofuturisme, sekaligus mearih sertifikasi emas serta platinum.

“Kami ingin menempatkan orang-orang kulit hitam di situasi yang tidak pernah terpikirkan sebelumnya, seperti Gedung Putih contohnya. Saya pikir, tempat lain yang tidak berkaitan dengan orang kulit hitam adalah luar angkasa. Saya seorang penggemar berat Star Trek, jadi (sampul album ini) menampilkan germo yang duduk di atas kapal luar angkasa seperti Cadillac. Kami memainkan musik seperti James Brown, tapi berbicara dengan bahasa dan istilah jalanan,” ujar Clinton.

7. Pink Floyd - The Wall (1979)

Roger Waters menulis kisah Pink, sang protagonis The Wall, berdasarkan pengalaman hidupnya dan Syd Barrett, mantan vokalis-gitaris Pink Floyd. Album ini adalah muntahan psikologis Waters sebagai bintang rock yang semakin berjarak dengan penontonnya. Selain mewakili keresahan ini, Pink juga merefleksikan paranoia, kegelapan dan penderitaan Waters sedari kecil. Waters menjelajahi tema-tema yang dialami Barrett, seperti kesendirian dan isolasi. Kisah Pink dimulai saat ia ditinggalkan sang ayah yang meninggal di Perang Dunia II, kemudian penderitaannya di sekolah, persteruannya dengan sang ibu dan keruntuhan pernikahannya. Semuanya membuat Pink menutup diri dari masyarakat di balik tembok raksasa.

Waters menuturkan kisah gelap tersebut dengan lagu-lagu catchy dan sound megah. Beberapa lagu The Wall kini telah menjadi nomor-nomor Pink Floyd paling ikonis. The Wall juga diadaptasi menjadi film pada tahun 1982 oleh Alan Parker dan Gerald Scarfe, yang menampilkan visual psikedelik gelap sebagai metafor kebingungan Pink menjalani hidup.

8. Nine Inch Nails - The Downward Spiral (1994)

The Downward Spiral adalah album dengan konsep dan naratif tergelap, yaitu perjalanan menuju bunuh diri. Album ini juga meraih Best Metal Performance di Grammy Awards 1995.  Trent Reznor adalah dalang di balik kisah sukses memilukan ini. Ia membangun The Downward Spiral dari industrial rock, techno dan berbagai fragmen extreme metal. Lewat gempuran distorsi tersebut, Reznor menceritakan penyiksaan diri, penyakit sosial, seks dan narkotika. Semua materi album ini direkam di rumah Sharon Tate, korban pembunuhan Charles Manson. Tebalnya tembok bebunyian The Downward Spiral diakselerasi oleh kompleksitas struktur progressive rock, termasuk time signature yang kerap berubah. Titik balik Reznor terjadi di album ini, ia meraih kesuksesan (album ini memperoleh sertifikasi platinum dan direspon positif oleh kritikus) sekaligus menderita kecanduan alkohol.

9. Nick Cave and the Bad Seeds - Murder Ballads (1996)

Tradisi balada pembunuhan dan kejahatan sudah berlangsung sejak abad 17. Nick Cave juga telah terinspirasi oleh tema dan format ini sejak menjadi vokalis The Birthday Party. Di album ini, Cave menimbun kualitas kengerian sound dan liriknya melalui cover balada pembunuhan tradisional serta materi baru. Ia mengisahkan Murder Ballads melalui sound country, jazz dan blues rawa yang penuh kegelapan. Cave terdengar mengerikan, gelap dan seringkali sadis melewati batas. Konsep album ini tentu bukan hidangan semua penggemar musik, tapi bagi penggemar Cave, Murder Ballads adalah karya tergelapnya di era 90-an.

10. Arcade Fire - The Suburbs (2010)

Vokalis-gitaris Arcade Fire, Win Butler, menggambarkan album ini sebagai “surat dari pinggiran kota, bukan surat cinta atau putusan dakwaan”. Di album ini Arcade Fire berada di puncak, diterima secara komersial dan direspons secara positif. Album ini mengisahkan kisah perumahan dan pinggiran kota Amerika Serikat, miniatur The American Dream dan bagaimana keseharian orang biasa menjadi persoalan yang bisa dicerna setiap orang. The Suburbs juga menjadi metafora tepat bagi The American Dream, kerumitan dan kompleksitas kehidupan pinggiran kota yang coba ditutupi selimut kedamaian palsu. Melalui komposisi baroque dan indie rock, sound megah Arcade Fire seakan mengirim pesan bahwa hidup di pinggiran kota sedang tidak baik-baik saja.

1 COMMENTS
  • dephythreehandoko

    PINK FLOYD

Info Terkait

superbuzz
666 views
superbuzz
1935 views
superbuzz
254 views
superbuzz
1325 views
superbuzz
408 views