10 Band Metal Keren yang Ternyata Pernah Merilis Album Buruk

  • By: NTP
  • Minggu, 19 November 2017
  • 8406 Views
  • 1 Likes
  • 2 Shares

Meraih kesuksesan dalam bermusik adalah hal sulit. Namun jauh lebih sulit menjaga konsistensi karya. Walau berada dalam dunianya sendiri, kancah metal juga tidak terhindarkan dari album-album buruk karya band berkualitas.

Beberapa faktor penyumbang terbesar adalah pergantian personel, konflik internal, visi bermusik yang tidak jelas atau mandeknya kreativitas. Nama besar dan legendaris tidak bisa menyelamatkan karya yang buruk.

[bacajuga]

Konsistensi dan kualitas adalah barometer penilaian karya di kancah metal. Album yang buruk akan langsung dilupakan, itulah konsekuensinya. Para maestro di sub-genre masing-masing pun tidak terhindar dari penilaian ini. Beberapa nama di daftar ini, tentu akan terlihat mengejutkan.

1. Fear Factory - Transgression (2005)

Di antara koleksi album jempolan mereka, terselip sebuah karya gagal berjudul Transgression. Fear Factory, dikenal dengan album berpengaruh Demanufacture (1996) dan Obsolete (1998) sempat selip saat ditinggal gitaris dan penulis lagu utama, Dino Cezares. Materi Transgression terdengar setengah tanggung, belum lagi dilapisi produksi gelap yang tidak cocok dengan sound Fear Factory. Album ini seakan materi belum matang yang dirilis dengan terburu-buru.

2. Metallica - St. Anger (2003)

Metallica sempat terseok-seok di awal dekade 2000-an. Setelah enam tahun alpa, mereka merilis St. Anger, dengan harapan bisa menghasilkan album yang lebih baik dari Load (1996) dan Reload (1997). Konflik internal Metallica saat merekam album ini terpampang jelas di dokumenter Some Kind of Monster. Mereka tampaknya kehilangan visi bermusik, kemampuan menulis lagu dan instrumentasi (suara snare drum Lars Ulrich adalah humor yang menyakitkan), hasilnya St. Anger direspon negatif oleh para pendengar dan kritikus. Setidaknya Metallica kembali aktif merilis album pasca blunder ini.

3. Guns N' Roses - Chinese Democracy (2008)

Guns N’ Roses (tepatnya Axl Rose dan Dizzy Reed) butuh waktu 15 tahun untuk menyelesaikan album dengan bujet fantastis ini. Bersama para personel baru, Rose akhirnya merilis album terburuk Guns N’ Roses hingga saat ini. Album ini terdengar seperti materi yang sudah terlalu lama mengendap di studio dan tak lagi relevan. Satu-satunya hal positif dari album ini adalah jasanya menghidupkan kembali tur Guns N’ Roses dan akhirnya menggelar tur reuni bersama Slash serta Duff McKagan.

4. Pantera - Metal Magic (1983)

Jika band-band di atas merilis album buruk setelah merilis masterpiece, maka Pantera justru kebalikannya. Sebelum menjadi koboi dari neraka, di album ini Pantera memainkan glam metal dan hard rock kacangan. Sebelum dihuni Phil Anselmo, posisi vokalis Pantera diisi oleh Terry Glaze. Mereka merekam Metal Magic di usia belia dan belum menemukan karakter garang yang akhirnya menyelamatkan metal di dekade 90-an. Pantera berevolusi menjadi lebih baik setelah mencampur sound thrash metal dengan riff blues, kecepatan punk dan agresi hardcore.

5. Celtic Frost - Cold Lake (1988)

Lepas dari kolaborator andalan dan keinginan berlebihan untuk terdengar lebih lunak adalah resep kegagalan album ini. Tom G. Warrior (gitaris, vokalis) keluar dari pola penulisan riff berat dan primitif, ia justru memilih mencampur goth rock dan glam metal untuk materi Cold Lake. Tak hanya para pendengar setia Celtic Frost yang kecewa, Tom pun dikenal menyesali album ini. Ia menyebutnya sebagai “karya terburuk seumur hidup saya” dan “album terburuk di sejarah musik cadas”.

6. Morbid Angel - Illud Divinum Insanus (2011)

Kehilangan personel kunci juga menjadi sandungan Morbid Angel.  Illud Divinum Insanus adalah album yang ditunggu-tunggu setelah Morbid Angel vakum selama delapan tahun. Namun, peran kunci drummer legendaris Pete Sandoval ternyata begitu vital. Tanpa permainannya, Morbid Angel terdengar seperti band death/industrial metal murahan. Hasil ini disumbang oleh penulisan lagu dan lirik yang buruk, serta hilangnya kombinasi permainan gitar Azagthoth dan Sandoval. Tidak mengherankan mengapa Morbid Angel memilih untuk kerap menunda peluncuran album ini.

7. Anthrax – Stomp 442 (1995)

Album ini adalah bukti bahwa band seperti Anthrax juga dilanda kemarau kreativitas. Pada dekade 80-an, Anthrax menjadi unit thrash paling segar dan menarik, sayangnya dua aspek itu tidak muncul di Stomp 442. Selama 50 menit, mereka memainkan materi semenjana tanpa satupun momen spesial. Mereka kehilangan dua faktor penting di album ini, yaitu energi besar dan penulisan lagu ciamik. Album ini lewat begitu saja tanpa meninggalkan jejak signifikan di diskografi Anthrax.

8. Slayer - Diabolus in Musica (1998)

Masalah Slayer di album ini adalah kebingungan memilih rute kreatif. Pada periode ini, ranah metal terkubur sepenuhnya oleh nu-metal dan tak seperti Soulfly, mereka tidak memainkan sound ini secara total. Materi Diabolus in Musica mencerminkan hal ini, beberapa kali bahkan gaya vokal Tom Araya terdengar seperti rap dan breakdown murahan kerap hadir di sana-sini. Untungnya Slayer tidak kehilangan taji mereka setelah merilis album jempolan God Hates Us All pada 2004.

9. Black Sabbath - Forbidden (1995)

Tony Iommi adalah satu-satunya personel asli Black Sabbath yang tersisa di album ini. Forbidden sama sekali tidak merepresentasikan kualitas Black Sabbath. Walau permainan Iommi tetap konsisten dan riff-nya masih terdengar menakutkan, hal ini tidak bisa menyelamatkan Forbidden. Sabbath versi ini adalah band yang belum klop dan hanya bisa menulis materi seadanya. Kontribusi dua personil Body Count, Ice-T dan Ernie C, yang mengarahkan Sabbath ke arah rap metal malah memperburuk materi album ini. Hasilnya, Forbidden terdengar seperti dua band berbeda yang merekam sebuah album buruk.

10. Iron Maiden - Virtual XI (1998)

Band sekelas Iron Maiden pun tidak bisa menghindar ketika konsep buruk hadir saat personel penting memutuskan hengkang. Kehilangan vokalis adalah kerusakan berat, apalagi jika solusinya adalah merekrut kembali vokalis pertama dari 20 tahun silam, Blaze Bayley. Iron Maiden seakan kehilangan taji saat Bruce Dickinson memulai karir solonya. Materi Maiden yang biasanya imajinatif, kali ini terdengar hambar. Faktor ini bertabrakan dengan metode promosi yang buruk, pasalnya judul album ini sengaja disamakan dengan Piala Dunia ’98 dan peluncuran game Ed Hunter. Ternyata resep untuk meraih penggemar baru (dengan promosi di berbagai stadium sepak bola), justru gagal total.

1 COMMENTS
  • dephythreehandoko

    PANTERA

Info Terkait

superbuzz
339 views
superbuzz
179 views
superbuzz
237 views
superbuzz
312 views
superbuzz
571 views