10 Label Rekaman Independen Paling Berpengaruh di Dunia

  • By: OGP
  • Minggu, 16 September 2018
  • 1478 Views
  • 0 Likes
  • 0 Shares

Selain talenta dan kualitas mumpuni, kesuksesan karier seorang musisi maupun band juga bergantung pada label tempat mereka bernaung. Di tengah ketatnya arus persaingan di belantara musik, label rekaman berperan vital mendongkrak popularitas musisi maupun band yang dinaunginya. Tanpa strategi serta promosi yang jitu dan tepat sasaran, mustahil sebuah band mampu berdiri kokoh di puncak kejayaan.

Selama beberapa dekade ke belakang, bermunculan label-label independen berpengaruh di lanskap musik. Kehadiran mereka justru jadi pilihan alternatif bagi label arus utama. Di antara jajaran label independen prominen ini, bukan hanya soal suguhan inovatif, tapi juga konsistensi mereka aktif berkontribusi di dalam scene yang layak mendapat apresiasi.

Dengan selera yang beragam dan tergolong berbeda dengan arus utama, label berdikari ini tak sekadar menyelamatkan karier band-band keren di lanskap musik, tapi juga mengorbitkan serta mengenalkan karya-karya terbaik mereka ke kalangan penikmat musik seantero dunia.

Berikut deretan label rekaman independen legendaris versi SuperMusic.

1. Nuclear Blast

Di ranah musik metal, Nuclear Blast menjadi rumah bagi deretan elit-elit cadas dunia. Label indepeden asal Jerman ini dikenal publik sebagai salah satu label rekaman spesialis musik-musik ekstrem mumpuni sejak 1987. Nuclear Blast didirikan oleh sosok metalhead bernama Markus Staiger.

Awal mula terbentuk, label ini merupakan perusahan musik yang mendistribusikan kancah musik hardcore punk. Tapi seiring berjalannya waktu, Nuclear Blast berevolusi menjadi ‘kandang’ bagi pegiat kancah metal. Slayer, Anthrax, Opeth, Danzig, Dimmu Borgir, Exodus, Lamb of God, Nightwish, hingga Meshuggah adalah deretan band yang dinaungi label independen legendaris tersebut.

2. Metal Blade Records

Sama halnya dengan Nuclear Blast, Metal Blade Records adalah salah satu label rekaman paling berpengaruh di ranah permetalan dunia. Label independen ini terbentuk sejak 1982, dan didirikan oleh Brian Slagel. Selama 36 tahun berjalan di industri musik, Metal Blade Records telah menaungi bermacam grup-grup metal sukses seperti As I Lay Dying, Behemoth, Cannibal Corpse, Corrosion of Conforminty, D.R.I,  GWAR, Killswitch Engage, sampai Mercyful Fate.

Metal Blade Record mulai jadi buah bibir di kalangan pegiat musik bawah tanah sejak mengeluarkan seri album kompilasi bertajuk Metal Massacre yang berisikan track-track cadas nan klasik milik Metallica, Ratt, Overkill, Hellhammer, dan Voivod. Sampai saat ini Metal Massacre telah menelurkan sebanyak 14 seri album kompilasi. Tak ayal, Metal Blade Records dianggap berperan vital dalam penyebaran kancah heavy metal di dunia.

3. Factory Records

Berbicara tentang sejarah industri musik di tanah Britania, maka tak sah rasanya jika tak memasukkan Factory Records ke dalam daftar sakral ini. Label independen ini didirikan oleh Tony Wilson dan Alan Erasmus sejak 1978. Factory Records berbasis di pusat kota Manchester, dan turut membawahi jajaran band-band legendaris kancah ‘Madchester’ seperti Joy Division, New Order, dan Happy Mondays.

Kendati demikian, Factory Records akhirnya mengalami kebangkutan dan tak pernah aktif sejak tahun 1992. Selang beberapa tahun kemudian, kisah kejayaan Factory Records sebagai salah satu label independen berpengaruh di Inggris akhirnya diangkat ke dalam film 24 Hour Party People (2002) garapan Michael Winterbottom.

4. Dischord Records

Di antara jajaran label-label musik bawah tanah berpengaruh, Dischord Records adalah salah satu dari sekian label independen paling vital di peta rock dunia. Label asal Washington itu didirikan oleh ikon kancah hardcore, Ian MacKaye (Minor Threat, Fugazi) dan Jeff Nelson (Minor Threat) sejak 1980.

Yang menjadi ciri utama Dischord dari label independen lain semasanya adalah idealis mereka untuk tetap menjadi independen dan etos kerja serba ‘Do it Yourself’. Band-band prominen kancah hardcore yang dinaungi Dischord di antaranya Minor Threat, Fugazi, Dag Nasty, Embrace, Rites of Spring, Void, Slant 6 hingga Jawbox.

5. Epitaph Records

Dekade 80-an dan 90-an adalah masa terbaik bagi tumbuh kembang label-label independen. Di kancah punk, Epitaph Records turut berjasa mempopulerkan berbagai grup-grup potensial saat itu seperti The Vandals, NOFX, Descendents, Pennywise, The Offspring, Rancid, sampai Agnostic Front.

Epitaph Records didirikan oleh gitaris Bad Religion, Brett Gurewitz pada tahun 1980 dan berbasis di Hollywood, California, AS. Awalnya label ini diciptakan hanya bertujuan untuk menjual rekaman Bad Religion, namun melihat potensi dan peluang yang ada, akhirnya Epitaph sampai saat ini bertransformasi menjadi salah satu label independen terbesar di dunia. Nama Epitaph sendiri diambil Gurewitz dari judul lagu King Crimson.

6. 4AD

Didirikan oleh Ivo Watts-Russell sejak 1979, awalnya 4AD jadi rumah bagi band bernuansa goth seperti The Birthday Party, Bauhaus, dan Cocteau Twins. Seiring bergulirnya waktu, 4AD sukses memperkenalkan dedengkot alternative rock semacam Pixies, The Breeders, Dead Can Dance, hingga Red House Painters ke kalangan penikmat musik.

Hampir menginjak empat dekade di industri musik, 4AD sampai saat ini masih konsisten menjadi salah satu label rekaman independen berpengaruh di tanah Britania. 4AD berada di bawah komando perusahaan rekaman Beggars Group bersama label-label seperti Rough Trade Records, Matador Records, dan XL Recordings. Kini, 4AD masih aktif menaungi band maupun musisi seperti The Breeders, The National, Camera Obscura, Grimes, hingga Beirut.

7. Creation Records

Jauh sebelum belantara musik dilanda demam Britpop di pembuka dekade 90-an, Creation Records telah lebih dulu menyebar virus di kancah alternative rock medio 80-an. Creation Records didirikan oleh para pegiat kancah meliputi Alan McGee, Dick Green, dan Joe Foster. Selama aktif di industri musik, Creation Records berjasa mempopulerkan sederet grup-grup pelopor di kancah noise pop/shoegaze/indie pop seperti Jesus and Mary Chain, My Bloody Valentine, Primal Scream, Ride, Teenage Fanclub, Swervedriver dan Slowdive.

Puncak kejayaan Creation Records dimulai ketika Oasis merilis album debut Definitely Maybe (1994) yang kemudian membesarkan nama Oasis, dan menjadi tonggak awal mula movement britpop pada masa itu. Beragam cerita menarik sempat menghiasi perjalanan Creation Records di industri musik. Salah satunya adalah kisah mereka yang sempat bangkrut setelah menelurkan kitab shoegaze Loveless (1991) milik My Bloody Valentine.

8. Sub Pop

Di masa keemasan kancah grunge, Sub Pop adalah ‘rumah’ bagi para elit grunge seperti Nirvana, Mudhoney, dan Soundgarden. Label yang didirikan Bruce Pavitt dan Jonathan Poneman sejak 1986 ini turut berjasa dalam ekspansi seattle sound di segala penjuru dunia.

Sebelum Nirvana meraih kesuksesan masif di belantika, album debut mereka, Bleach (1989) adalah salah satu karya yang dinaungi Sub Pop, sebelum akhirnya Kurt Cobain dkk memutuskan hengkang ke label arus utama, DGC dan menelurkan magnum opus Nevermind (1991) dan In Utero (1993). Sampai saat ini, Sub Pop masih aktif menaungi band-band ranah alternative rock seperti Fleet Foxes, Beach House, Father John Misty, Mudhoney, hingga J Mascis.

9. SST Records

Sama halnya dengan Dischord dan Epitaph Records, SST (Solid State Tuners) merupakan salah satu label independen berpengaruh di kancah musik bawah tanah pada era 80-an. Didirikan oleh gitaris Black Flag, Greg Ginn pada 1978, SST Records telah mengorbitkan beragam band rock vital di kancahnya masing-masing.

Awalnya SST Records diciptakan untuk menjual rekaman Black Flag dan berfokus pada band-band hardcore punk yang tengah marak di kala itu pada penghujung 70-an. Namun seiring berjalannya waktu, label Greg Ginn ini menjadi rumah bagi sederet pionir alternative rock seperti Hüsker Dü, Dinosaur Jr., Sonic Youth, Minutemen, sampai Meat Puppets.

10. Rough Trade Records

Di era 80-an, industri musik di tanah Britania kian bergairah setelah bermunculan label-label independen baru. Di bawah komando Beggars Group, Rough Trade perlahan bertransformasi menjadi label independen legendaris di seantero dunia. Rough Trade berfokus menjadi kandang bagi band-band pengusung post-punk, new wave, indie pop, garage rock, dan psychedelic rock.

The Smiths adalah salah satu nama eksponen paling sukses yang dihasilkan Rough Trade. Kesemua album legendaris band asal Manchester itu diproduksi oleh label yang berbasis di London tersebut. Maju ke beberapa dekade selanjutnya, Rough Trade kembali mengulang sukses mereka dengan mengorbitkan nama-nama hebat seperti The Strokes dan The Libertines.

0 COMMENTS

Info Terkait

superbuzz
874 views

5 Reuni Band Rock Terlaris

superbuzz
377 views
superbuzz
316 views

Whitechapel Umumkan Album Teranyar

superbuzz
391 views
superbuzz
358 views