10 Suara Unik di Lanskap Rock

  • By: NTP
  • Selasa, 10 October 2017
  • 36710 Views
  • 0 Likes
  • 0 Shares

Vokal adalah elemen penting dalam musik. Hal ini memberikan keterikatan manusiawi dan membangun perasaan antara pendengar-penampil. Suara satu vokalis berbeda dengan yang lainnya, elemen ini menentukan bagaimana elemen manusia dalam musik yang dimainkan akan dipersepsi oleh para pendengar. Maka, pergantian vokalis adalah hal berisiko, yang bisa memperpanjang umur atau menghancurkan suatu band.

[bacajuga]

Sebagai suara yang kerap dianggap terdepan oleh para pendengarnya, vokal jelas adalah elemen yang paling diingat. Tak heran bahwa vokalis sering dianggap sebagai wajah band, seorang penyampai pesan yang mencoba menerjemahkan musik ke dalam kata-kata. Menjadi vokalis adalah pekerjaan yang tidak mudah, maka mereka yang bisa tinggal di ingatan para pendengarnya adalah vokalis unik. Dari versi SuperMusic.ID, inilah mereka, penyanyi yang tak hanya menjadi pelafal kata-kata, tapi berbicara lewat musik. 

1. Mike Patton (Faith No More, Mr. Bungle, Tomahawk, Fantomas dll)

Vokal Mike Patton adalah aksi akrobat. Ia dapat menggeram rendah, melolong, meracau, berbisik, hingga bernyanyi merdu. Suaranya termasuk yang tertinggi di antara para penyanyi – mencapai enam oktaf. Dari grup rock Faith No More dan Tomahawk, proyek nyeleneh Mr. Bungle dan Fantomas, band ‘pop’ Peeping Tom, hingga unit chaotic metal The Dillinger Escape Plan pernah dikomandoi Mike Patton. Ada keindahan, kengerian sekaligus kegilaan bisa ditemukan di suaranya.     

2.  Tom Waits

Sulit mencari saingan Tom Waits jika berbicara soal vokal unik. Erangan parau figur eksentrik ini telah memukau penggemar musik sejak dekade 70-an. Vokal Waits menggabungkan dua faktor yang ingin dimiliki banyak vokalis rock; serak basah dan geraman terukur. Tak terlalu dalam seperti vokalis death metal, juga tak terlalu ringan seperti vokalis emo. Pada awalnya mendengarkan Waits adalah sebuah kesulitan tersendiri, tapi begitu mengalir, vokalnya adalah candu telinga yang sulit dilepaskan.

3. Thom Yorke (Radiohead)

Yorke memiliki salah satu suara paling khas di kancah musik rock abad 21. Suaranya menggumamkan keresahan manusia modern, mengartikulasikannya bak robot android. Ia bernyanyi di nada-nada tinggi, melompat dari suara kepala (head voice) menuju falsetto. Vokal Yorke dipenuhi vibrato, terang dan sedih di saat bersamaan. Walau gaya vokalnya termasuk indah, Yorke tak jarang berteriak dan berseru untuk menyampaikan visi musiknya.

4. Jonsi Birgisson (Sigur Rós) Mike Patton

Lewat teropong musik, sulit membayangkan Islandia tanpa membayangkan vokal Jonsi. Ia dan Sigur Rós telah menjadi penjelmaan alam Islandia. Vokalnya lembut dan halus, berfungsi bagi instrumen tambahan untuk musik Sigur Rós. Jonsi banyak bernyanyi di falsetto, ia kerap kali memperdengarkan vokal sayu dan sedih. Di album-album awal Sigur Rós, Jonsi terdengar seperti hantu yang melayang di atas musik mereka. Mungkin kita tidak akan pernah mengerti apa yang ia nyanyikan, tapi bisa kita pastikan Jonsi mengerahkan sepenuh jiwanya saat bernyanyi.

5. Henry Rollins (Black Flag, Rollins Band)

Dalam beberapa wawancara, Rollins kerap kali mengaku bahwa sekolah militer telah mengubah hidupnya. Faktor ini terdengar jelas dari vokalnya, ia terdengar tegas, artikulatif dan padat. Di beberapa situasi berlainan, seperti berteriak di atas panggung, tampil sebagai seniman spoken words, atau tengah diwawancara, suara Rollins akan kekuatan dan keseriusan suaranya akan konstan sampai ke telinga kita. Vokal Rollins terdengar bagaikan bogem seorang atlit tinju yang kerap mengenai sasaran.

6. Lou Reed (The Velvet Underground)

Mendengarkan cara Lou Reed bertutur adalah salah satu kenikmatan rock n’ roll. Vokalnya terdengar malas dan tak acuh lingkungan sekitar. Pola bertutur dan gaya bernyanyi Reed adalah faktor pembedanya dengan vokalis rock lain; ia terdengar seperti sedang bercerita. Jelas vokalnya tidak bisa dinilai dengan standar kualitas vokal musik pop. Reed kerap mengambil posisi sebagai pengelana urban, saksi dari peliknya belantara beton New York. Ia perlu bersuara merdu jika bisa menghasilkan film di masing-masing kepala pendengarnya.

7. Perry Farrell (Jane’s Addiction, Porno For Pyros)

Farrel adalah figur punk rock di tengah psikedelia-blues dan hentakan funk Jane’s Addiction. Aksi panggung Farrell jauh melebihi vokalis sejawatnya, ia menghadirkan kekuatan tersendiri, teatrikal unik selagi membiarkan rentang vokal tingginya melesat jauh. Vokal Farrell seringkali menusuk telinga, bermanuver melewati tembok distorsi gitar Dave Navarro. Teriakannya terdengar khas, memuat padatnya emosi dan tenaga berlebih. Farrell juga dikenal kerap memakai efek untuk menambah efek asing dan alien pada vokalnya.

8. Nick Cave (Nick Cave and The Bad Seeds, The Birthday Party)

Sejak aktif bersama The Birthday Party, Cave telah terdengar khas dan berbeda. Aksi panggungnya buas, mengerikan dan intimidatif. Gaya menyanyinya bak vampir yang tengah haus darah, intens dan tanpa ampun. Namun rahasia terbesar Cave adalah bahwa ia sebetulnya tak bisa menyanyi. Suaranya jauh dari merdu, bahkan seringkali terdengar sumbang. Keunggulan vokal Cave terletak di bagaimana ia menyanyikan lirik dan fungsinya sebagai instrumen tersendiri. Vokal Cave cenderung tidak hadir sebagai elemen terdepan. Kemahiran Cave membentuk vokalnya bersama instrumen lain adalah kemampuan yang sulit direplikasi vokalis lain.

9. Ian Curtis (Joy Division)

Curtis bernyanyi seakan hidupnya berakhir esok hari. Pemuda asal Manchester ini mendobrak kebiasaan punk rock yang bernyanyi dari kemarahan. Ia bernyanyi dari keputusasaan dan kegetiran, kombinasi yang mengguyur warna hitam pada musik Joy Division. Kemuraman musik Joy Division akan kehilangan kekuatannya tanpa vokal berat Curtis. Ia mampu menghasilkan suara termuram yang pernah dihasilkan musik rock. Dingin, berjarak dan tidak manusiawi, karakter inilah yang akhirnya menaikkan status Curtis dan Joy Division sebagai mitos. Bahwa vokal Curtis tidak akan pernah terulang kembali dan kegelapan musik yang dilepas Joy Division, tidak mungkin dikurung kembali.

10. Cedric Bixler-Zavala (At The Drive-In, The Mars Volta)

Cedric adalah seorang penampil, ia melompat dari atas amplifier sembari berteriak hingga urat lehernya terekspos. Ia memiliki tipe vokal tenor dengan rentang tinggi, dengan inilah Cedric mampu berteriak secara konstan, melompat ke falsetto dan berpindah ke suara kepala (head voice). Cedric berjumpalitan, koprol, melemparkan dirinya ke berbagai arah, mengayunkan mikrofonnya hingga salto di atas drum. Uniknya, ia juga mampu berdansa salsa di depan kekacauan musik At The Drive-In, atau diam seribu bahasa saat The Mars Volta membangun komposisi mereka. Kelincahan Cedric, baik saat bernyanyi maupun beraksi, adalah sebuah atraksi tersendiri.

0 COMMENTS