Portal Music

Stepforward

25 Tahun Perjalanan Stepforward

  • By:
  • Kamis, 22 October 2020
  • 207 Views
  • 2 Likes
  • 0 Shares

Di kota-kota besar di Indonesia, seperti Jakarta, skena musik bawah tanah merupakan salah satu tempat bagi insan-insan kreatif dapat secara bebas berekspresi, mengemukakan jati diri mereka, tanpa perlu ambil pusing mengenai stigma yang kerap kali jadi obrolan di lingkungan yang lebih populer. Berawal dari pemahaman diri yang sejalan dengan elemen-elemen musik hardcore, di akhir tahun 1995 Stepforward lahir. 

Sempat vakum di tahun 2002, Stepforward kembali aktif di periode 2005 hingga 2007 untuk kembali tertidur. Lalu, Stepforward memutuskan reuni di tahun 2011 dengan formasi Jill, Ricky, Fajar, dan Junas. DI tahun tersebut, reuni band hardcore asal Jakarta ini terkesan meriah. Pasalnya, Stepforward merayakan kembali berkumpulnya mereka dengan menjadi penampil untuk event musik rock akbar, Java Rockin’ Land 2011. 

Memiliki formasi dengan seorang perempuan sebagai vokalis, nyatanya membuat Stepforward mendapatkan respon yang kurang baik saat pertama kali manggung di era 1990-an. Jill pernah bercerita melalui mini dokumenter Stepforward yang diproduksi di tahun 2005 hasil garapan mahasiswa D3 Komunikasi Penyiaran Universitas Indonesia. Melalui dokumenter berjudul “Stepforward: The History Never Stop” Jill mengaku bahwa panggung pertamanya sebagai vokalis Stepforward disambut dengan riuh lemparan botol minum kemasan dari para penonton. Tidak hanya itu, para penonton yang didominasi oleh laki-laki ini tidak segan memamerkan alat kelaminnya ke arah Jill. Pelecehan seksual terhadap perempuan di skena musik independen, tarutama hardcore memang jadi noda yang hingga saat ini masih sulit dihilangkan. Stigma kancah hardcore yang memiliki citra sebagai dunianya laki-laki membuat Stepforward merasa sedikit terguncang dan merasa bahwa jalan yang mereka pilih untuk berkarya di skena hardcore bukanlah jalan yang mudah di awal kariernya. 

Ricky selaku gitaris yang kini juga berada di dalam tubuh Seringai bercerita tentang anggapan miring yang didapat oleh Stepforward saat pertama kali muncul ke skena musik independen bawah tanah. Melalui dokumenter yang membahas 10 tahun perjalanan karier Stepforward sebagai salah satu band hardcore yang memiliki pengaruh di kancah musik independen Tanah Air. Keunikan yang ada di dalam Stepforward dianggap sebagai sebuah bentuk eksploitasi terhadap musik dan sub kultur hardcore dari para penikmatnya. 

Memilih jalan yang cukup sulit, tidak berarti membuat Stepforward patah semangat. Nyatanya, jalan tersebut secara pelan tapi pasti berhasil membesarkan nama mereka. Di akhir tahun 1990-an, Stepforward mulai mengisi panggung yang lebih besar dari sebelumnya, seperti pentas seni SMA. Berawal dari panggung tersebutlah, Fajar yang kini mengisi posisi drum mengenal Stepforward dan memiliki keinginan untuk mendirikan band beraliran hardcore hingga akhirnya mendapatkan kesempatan bergabung untuk menabuh drum di dalam tubuh Stepforward.

Dokumenter “Stepforward: The History Never Stop” juga tidak hanya menghadirkan sudut pandang dari para anggotanya juga. Film ini juga menyajikan pandangan lain melalui kehadiran Andre yang merupakan mantan gitaris di dalam tubuh Stepforward dan Wendi Putranto, seorang jurnalis musik dan pengamat kancah musik independen di Indonesia. Kedua sosok tersebut menyoroti pergerakan Stepforward yang kurang aktif di saat dokumenter tersebut dibuat. Mereka menyayangkan geliat Stepforward yang sudah 10 tahun berkarya namun masih minim menghadirkan karya-karya terbaru. Pada saat itu, Stepforward hanya baru mengeluarkan 1 single, 2 single di dalam album kompilasi, dan sebuah album penuh. Pembuktian yang kurang mengesankan tersebut dijadikan sebagai kritik yang disampaikan melalui dokumenter ini.

15 tahun setelah dokumenter “Stepforward: The History Never Stop” rilis, tepatnya di bulan Mei 2020, Stepforward akhirnya kembali membawa berita baru tentang perkembangan yang ada di dalam band hardcore tersebut. Melalui akun Instagramnya, Stepforward mengumumkan kabar perihal perilisan piringan hitam berukuran 7 inci terbaru dari mereka. Rilisan piringan hitam ini berisi dua buah single Stepforward yang sempat direkam di tahun 2002, Solitaire dan Saksi Imaji melalui Stockroom Recordings. Peluncuran piringan hitam ini juga berperan sebagai perayaan ulang tahun ke-25 Stepforward dan sebagai pembuktian eksistensi Stepforward yang tetap serius mengibarkan bendera hardcore hingga saat ini.

0 COMMENTS