scott pillgrim

4 Alasan ‘Scott Pillgrim Vs. The World’ Jadi Film Ikonis Kancah Indie Rock

  • By: NND
  • Sabtu, 22 August 2020
  • 711 Views
  • 2 Likes
  • 0 Shares

Berbicara seputar film cult memang tidak ada matinya, dan di tahun 2020 ini, salah satu cult movie favorit para movie geek sampai indie rockers, resmi berusia satu dekade. Siapa yang bisa lupa Scott Pilgrim Vs. The World? Memadukan balada cinta remaja dengan lelaguan indie rock–sajian resep yang pas untuk masuk daftar film kultusan yang tak lekang waktu, bukan? Terinsiprasi dari grafis novel karya Bryan Lee O’Malley, sutradara Edgard Wright berhasil menggarap sajian layar lebar yang masih relevan seputar remaja, cinta, dan musik; bahkan hingga sekarang.

Dalam kesempatan kali ini, SUPERMUSIC telah mejabarkan 4 hal mengapan Scott Pilgrim Vs. The World berhak atas status kultusannya, juga mengapa ia menjadi film ikonik kancah indie rock. Penasaran? Simak lengkapnya di bawah ini:

1. Hollywood Flop?

Entah sudah hukumnya, atau mungkin karena memang berpengaruh dalam jangka panjang, banyak film-film berstatus kultusan itu tidak berlaku baik dalam hitungan Hollywood--bahkan, beberapa terbilang gagal. Scott Pilgrim tidak sendirian; ada Donnie Darko (2001), Fight Club (1999), Dazed and Confused (1993), Blade Runner (1982), hingga The Big Lebowski (1998); semua film ini tidak berlaku baik dikalanya rilis, penjualannya tiketnya tak berbalik laba yang besar, beberapa di antaranya bahkan merugi.

Barangkali, fenomena ini juga lah yang berpengaruh terhadap status kultusan sebuah film. Gagal beraksi di Hollywood membuatnya tidak begitu disorot, sehingga tidak mendapatkan pasar yang luas setelah tayang. Dari sana, statusnya mulai berkembang di arus samping peredaran film, membuatnya menjadi sajian layar lebar yang hanya dinikmati oleh beberapa pasang mata yang serius menikmatinya. Terkadang, sorotan berlebih memang tidak melulu menghasilkan hal baik, sedangkan yang terselubung justru jadi berkat yang tidak disadari.

Scott Pilgrim hadir dengan alur cerita yang ramah dengan para nerds, geeks, dan pecinta musik, itu sebabnya arus samping jadi jalur pemasaran yang tepat untuk menggiringnya ke mata dan hati yang tepat.

2. Rilis di waktu yang tepat

Meski tak berlaku baik di Hollywood, rilisnya film yang jadi gudang anthem indie rock ini mendarat di waktu yang tepat. Mengapa? Karena ia tayang di momen transisi indie rock yang melambung menjadi subkultur yang prominen bagi pasar musik secara luas. Sebelum 2010, geliat indie rock memang sudah matang, namun ia masih bersarang pada blog-blog musik bawah tanah dan hanya diputar dan dimainkan di klab-klab yang terbilang kecil.

Tahun 2010 jadi tahun transisi bagi musik tersebut, salah satu sulut besarnya adalah album The Suburbs milik Arcade Fire yang menggaet Album of the Year di ajang Grammy, mengalahkan nama-nama besar arus utama macam Lady Gaga, Katy Perry, dan Eminem.

Semenjak saat itu, batasan geek dan cool pun terasa dilebur. Indie rock yang dikenal sebagai musik remaja-remaja kutu buku terkesan "naik pangkat" di strata sosial barat. Itu pula yang membantu Scott Pilgrim mengamankan statusnya sebagai cult movies yang hip. Geek is the new cool.

3Kisah yang relevan

Sebagai sebuah film yang diaptasi dari novel grafis, plot-nya menampilkan perjalanan (dan perjuangan) Scott Pilgrim yang hendak memenangkan hati gadis alternatif baru di sekolahnya, Ramona. Berhadapan dengan seven evil exes (mantan kekasih) Ramona, Scott Pilgrim maju berbekal gitar dan distorsi, mengupas berbagai side jokes dan inside jokes skena musik alternatif yang tidak lekang oleh waktu, bahkan hingga sekarang.

Selain bahasan yang tetap relevan, kisahnya pun mudah diterima oleh para remaja, juga pecinta musik. Roman asmara SMA yang quirky terasa tepat sasaran kepada market yang dituju, membuatnya mengemas pengalaman menonton film yang menghibur sekaligus relatable. Sama seperti gimmick-gimmick musiknya, plot film ini pun terus berlaku baik walaupun sudah berusia satu dekade.

4. Soundtrack Ikonis

Sebagai sebuah film yang menangku musik sebagai aspek krusial di dalamnya, lebih-lebih musik indie rock yang jadi pujangga keremajaan, penggarpan film Scott Pilgrim Vs. The World pun harus putar otak dalam menyusun soundtrack. Lagu-lagu pengiring memiliki peran yang besar dalam sebuah film, dan bagi film macam Scott Pilgrim, peran itu terasa di amplifikasikan. Intinya, soundtrack jadi salah satu hal yang akan paling dinilai dalam Scott Pilgrim, mengingat penonton-penontonnya sebagian besar merupakan pencinta musik.

Atas semua itu, film ini mampu menyikapi tantangan besarnya. Mulai dari cover “By Your Side” milik Sade dari Beachwood Sparks, “I Heard Ramona Sing” milik Frank Black, “O Katrina!” dari Black Lips, serta T. Rex dengan “Teenage Dream”, hingga “Anthems for a Seventeen Year Old Girl” punya Broken Social Scene dan “Under My Thumb”-nya The Rolling Stones; jajaran soundtrack Scott Pilgrim menyajikan musik rock yang mampu bergetar dalam satu vibra yang serasi dengan plot, mood, dan pembawaan filmnya.

Jika jalan ceritanya lihai dalam menampilkan realita dunia musik circa 2000-an awal, soundtracknya mampu mewarnai semua itu secara andal. Lagu-lagu yang masuk ke dalam soundtrack-nya dipilih langsung oleh sang sutradara Edgar Wright dan penulis novel grafisnya, Bryan Lee O’Malley. Meski begitu, kita juga harus angkat topi untuk sosok Music Supervisor yang didapuk dalam penggarapannya, yakni Kathy Nelson, yang CV-nya sudah diisi oleh film-film hebat macam High Fidelity, Pulp Fiction, Dangerous Minds, hingga Eternal Sunshine dan masih banyak lagi.

0 COMMENTS