Band yang Mengubah Genre Secara Drastis

4 Band yang Berubah Genre Secara Drastis

  • By: NND
  • Kamis, 19 September 2019
  • 3718 Views
  • 20 Likes
  • 908 Shares

Pada umumnya, genre diterapkan sebagai sebuah batasan terhadap sebua karya. Seperti halnya dengan “tema”, tak jarang genre difungsikan sebagai sebuah limitasi—sebuah pembatasan agar musik tersebut bisa ditempatkan ke dalam sebuah kategori. Genre sendiri cukup berguna dalam proses bermusik karena dapat membidik ke mana arah sound yang ingin dijalankan oleh musisi. Dengan genre, musisi dapat menciptakan musiknya dengan lintasan yang tidak terlalu abstrak. Sebuah bekal dalam berkarya, genre itu; meski tidak sedikit pula yang merasa tidak membutuhkannya—atau bahkan membencinya. Semua itu, toh, kembali lagi pada sang musisi yang hendak berkarya, karena berkarya itu berangkat dari kebebasan berpikir dan berpendapat.

Dalam musik, genre akan selalu dinobatkan sebagai aspek dari identitas karya sang musisi. Contoh saja Ramones dan Sex Pistols, misalnya. Kita semua tahu mereka itu grup musik yang memainkan musik punk.Musik, budaya, dan estetika punk pun banyak sekali yang terinspirasi dan berkembang melalui keberadaan mereka. Genre itu penting bagi identitas musisi—hal ini bak tidak bisa lagi dipungkiri. Namun, dalam beberapa kasus tertentu, adapula musisi yang secara drastis banting setir dan mengubah genre mereka. Alhasil? Identitas pun berubah. Lebih baik atau buruk, biarkan publik—atau bahkan mereka sendiri—yang menilainya.

Berikut adalah empat band yang mengubah genre-nya secara drastis. Siapa saja mereka? Simak daftar di bawah ini yang dirangkum oleh SUPERMUSIC!

***

1. Beastie Boys (hardcore –> hip-hop)

Beastie Boy memang sudah menjadi sebuah nama yang pakem beredar dalam kancah hip-hop. Bagaimana tidak? Trek macam “Fight For Your Right”, “Sabotage”, dan “Intergalactic” yang terkenal itu berhasil mereka muntahkan dari kepala, ke atas kertas, lalu ke depan microphone—dan membuat semua orang menggila. Penampilan panggung yang maksimal, lirik-lirik yang nakal dan bandel, hingga persona yang unik; ketiganya memiliki daya jual yang hebat dalam mewarnai warna baru di belantika permusikan hip-hop pada zamannya.

Namun, menilik awal karir mereka, Beastie Boys mulanya didirikan sebagai sebuah kuartet yang memainkan musik hardcore punk. Berangkat dengan nama  the Young Aborigines, mereka bahkan sempat merilis sebuah karya dalam kompilasi New York Thrash, menempatkan dua lagu dari EP pertama mereka, Polly Wog Stew. Itulah sebabnya kalian masih bisa mendengar aksen-aksen musik punk dalam lagu-lagu mereka ketika sudah sepenuhnya menjadi ikon rap 90-an.

Trek seperti “Sabotage” yang keluar di album keempat mereka merupakan sebuah gambaran kecil dari apa yang dulu mereka mainkan. Lagipula, unsur distorsi tersebut masih nampak dalam lagu-lagu mereka. Juga karakter rap mereka yang sedikit-banyak masih memiliki nuansa punk di dalamnya.

2. Bring Me The Horizon (metalcore –> rock/metal)

Berbicara metalcore, maka tentu Bring Me The Horizon akan naik ke atas topik tersebut. Digawangi oleh Oli Sykes, Matt Kean, Lee Malia, Matt Nicholls, dan Jordan Fish; pada mulanya mereka mengusung musik deathcore, meski hanya dalam kurun waktu yang tidak lama. Metalcore menjadi genre musik yang kemudian mereka peluk—mematangkan identitas mereka dalam genre tersebut.

Bring Me The Horizon seakan memimpin perkembangan genre tersebut—menjadi seperti ujung tombak dari metalcore yang sejatinya belum berumur panjang itu. Mengisi tahun-tahun pertengahannya, album-album  seperti Count Your Blessing (2006), Suicide Season (2008), There Is A Hell, Believe Me I’ve Seen It. There Is A Heaven, Let’s Keep It A Secret (2010) dan Sempiternal (2013); merupakan rilisan yang secara pakem mengikuti kriteria genre yang meledak di tahun 2000-an itu.

Sekarang, BMTH telah—secara berani—mengganti haluan musik mereka. Mengusung musik yang lebih bersifat generik seperti rock atau metal, “pendewasaan” menjadi alasan yang banyak disangka-sangka oleh para pendengarnya. Namun, dinilai dari usaha dan kinerja mereka, tidak banyak yang berubah—Bring Me The Horizon masih memiliki semangat yang sama dalam berkarya. Penasaran? Kalian dapat mendengarkan perubahan mereka melalui album That’s The Spirit (2015) dan Amo (2019). Apa pendapat kalian terkait perubahan ini?

3. Cave In (hardcore –> alternative rock)

Cave In adalah sebuah band hardcore yang tidak main-main. Dibentuk pada tahun 1995 di Massachusetts, Amerika; musik dari Cave In itu heavy—musiknya kasar, berat, dan tak kenal ampun. Setidaknya, begitulah jadinya kala album pertama rilis. Until Your Heart Stops (1999) Namun, menapak ke album selanjutnya, Jupiter (2000)—album kedua mereka itu—menandakan sebuah perubahan.

Musik hardcore ganas mereka lama kelamaan dikikis hingga habis. Album kedua dari Cave In menampilkan petualangan mereka ke arah yang lebih psychedelic dan space rock. Album Antenna (2003) yang kemudian menyusul disetir semakin jauh dari sound hardcore mereka, meciptakan pertentangan dengan fans lama mereka, meski pada nyatanya album ini diterima secara baik oleh kritikus. Hingga Rilisan teranyarnya—Final Transmission (2019), Cave In masih mengemas musik rock yang jatuh dalam kategori alternatif. Pendekatan 90’s rock mereka membantu memastikan itu.

Meski begitu, ada kalanya musik hardcore kembali mereka peluk. Cave In membuka kembali karakteristik  awal dalam musiknya ketika menggarap album Perfect Pitch Black di tahun 2005. Berbicara Cave In, kalian lebih suka era album apa? Lebih menyukai hardcore brutal di album awalnya? Atau yang sudah lebih “lembut” di album-album setelahnya?

4. Ceremony (hardcore/powerviolence –> post-punk)

Nama terakhir dalam daftar ini juga berangkat dari spektrum yang sama: hardcore. Ceremony, sebuah grup hardcore dari Amerika, merupakan grup yang aktif bermusik dari tahun 2005—tahun di mana EP pertamanya, Ruined, dirilis oleh Malfunction Records.

Album pertama mereka merupakan rilisan hardcore yang tidak dapat dipungkiri. Rilis melalui label Deathwish Inc./Malfunction Records, Ceremony menggilas kuping-kuping pendengarnya dengan hentakan-hentakan kencangnya. Masuk ke album nomor dua, Still Nothing Moves You—judulnya, hardcore mereka mulai digiring ke arah 80’s hardcore. Meski begitu, aman dikatakan bahwa Ceremony, pada era album ini, masih “hardcore”. Perubahan baru menujukan taringnya kala mereka menyikapi rilisan studio album ketiganya. Pada album berjudul Ronhert Park (2010) ini, mereka mulai menginjak rem. Album ini tetap diterima secara baik karena dinilai mampu “menahan diri” dan membuka jalan untuk suara punk rock klasik mengambil panggung.

Perubahan drastis mereka ke arah post-punk ala Joy Division mulai terbentuk ketika Ceremony merilis album keempat mereka, Zoo (2012). Pengaruh post-punk mulai terasa secara kental dalam musik mereka. Album The L-Shaped Man yang rilis pada tahun 2015 itu seakan memastikan perubahan Ceremony. Album ini benar-benar sudah menjadi sebuah rilisan post-punk yang terasa sangat jauh dari rilisan pertama mereka.

***

Perubahan genre itu memang beresiko—lebih-lebih jika rilisan awal sebuah band yang memutuskan untuk berubah itu diterima secara baik dan sudah berhasil mengamankan fanbase yang cukup luas. Kekecewaan fans garis keras kerap hadir ketika sebuah band mengusung perubahan dalam musik mereka. Jangankan genre—terkadang mengganti personel saja bisa membuat semuanya buyar.

Namun tidak bisa dipungkiri bahwa setiap band itu bebas menentukan jalan mereka sendiri. Terlepas dari segala kontrak (jika terikat dengan label besar) atau tidak; sejatinya, apapun keputusannya, semua ditentukan oleh para penggeraknya sendiri.

Adakah band-band favorit kalian yang mengubah genre musiknya secara drastis seperti keempat band di dalam daftar ini? Coba suarakan di kolom komentar di bawah ini!

2 COMMENTS
  • Bahar193

    Nice

  • Christianseanl

    Like

Info Terkait

superbuzz
384 views
supershow
1294 views
superbuzz
327 views
supernoize
1757 views
superbuzz
362 views