5 album elektronik pop terbaik

5 Album Electronic Pop Terbaik dari Berbagai Era

  • By: NND
  • Jumat, 13 December 2019
  • 1890 Views
  • 12 Likes
  • 315 Shares

“Bangunnya” sound dan genre elektronik ke dalam ranah musik global memang masih terhitung baru jika dibandingkan dengan yang spektrum musik Barat lainnya. Namun, tidak bisa disangkal bahwa elektronik mampu menghadirkan perkembangan segar dan mengubah musik secara radikal.

Pop juga tak lolos dari genggaman pengaruh musik elektronik. Perpaduan kedua unsur tersebut menghadirkan eksperimentasi para musisi yang terus mendorong tren, dengan menyangkal, atau memperkokohnya. Kemudian, hadirlah beberapa album-album kelas dunia dari proses tersebut.

Kali ini, SUPERMUSIC akan menampilkan lima album pop elektronik favorit yang telah dipilah menurut tiap dekade. Let’s go!

1. Kraftwerk – Trans Europe Express (1976)

Mereka adalah pionir. Tidak bisa ditepis lagi, Kraftwerk memang game-changer. Mereka berhasil mengubah tekstur musik global di album debut Autobahn.

Di album susulannya, Kraftwerk memberikan perkembangan segar dengan menyajikan struktur aransemen yang lebih mudah dinikmati. Melodi-melodi repetitif berpadu manis dengan beat terus terang diaduk dengan vokal berlapis efek. Meski terdengar sangat sintetis, album ini mampu menghipnotis pendengarnya.

Kekuatan utama Trans Europa Express adalah musiknya. Aransemen yang lebih “konvensional” membuatnya menjadi salah satu album pop elektronik terbaik sepanjang masa. Palet dan cetak biru album ini yang masih sangat relevan, hingga saat ini.

2. New Order – Power, Corruption & Lies (1983)

Kini, New Order tentu menjadi nama yang sudah tidak asing. Serupa album di atas, Power, Corruption & Lies adalah album kedua yang berhasil menghadirkan perubahan signifikan dibanding kakak sulungnya. Di album ini, New Order menghasilkan musik yang bergerak ke lantai dansa.

Tidak ikut aturan main kebanyakan grup pop elektronik/synthwave era tersebut, New Order menggubah lagu yang dirancang untuk klab. Mode “robotik” mereka terasa kental mengalir keluar dari album ini. Walau demikian, kecenderungan itu masih menyisakan ruang bagi “manusia” di dalamnya. Didominasi permainan synthetizer, vokal dan gitar berlapis, serta gebukan drum yang akurat sanggup membumikan album ini. New Order membuktikan bahwa keseimbangan memang menghasilkan hal-hal baik.

3. Depeche Mode – Violator (1990)

Giliran Depeche Mode yang memberikan kita sesuatu yang berbeda: perubahan tak melulu baik. Saat dua album sebelumnya menyajikan perubahan yang disambut baik, Violator justru menunjukan bahwa konsistensi dapat tepat sasaran. Album ini terus mengedepankan lirik-lirik menyayat, serta penerapan hook catchy, serta aransemen detil yang mereka pikul dari beberapa album sebelumnya.

Bohong jika pendengarnya tidak merasa album ini tidak bernuansa “gothic”, ia memang begitu, tapi masih dalam takaran tepat. Permainan synth berkarater juga menjadi senjata utama, ditambah pula dengan aksen rock yang mampu menyamar dengan baik. Violator adalah gambaran pop masa depan pada eranya.

4. Robyn – Robyn (2005)

Di tahun 2005, Robyn berhasil menggubah sebuah album yang kelewat segar. Album ini mengudara melalui labelnya sendiri, tepat setelah ia angkat kaki dari label mayor. Tentu dalam penggarapan album ini, ia dihadapkan dengan ruang gerak yang jauh lebih bebas, dan ruang itu pun berhasil ia manfaatkan. Hasilnya? Robyn berhasil mendefinisikan pop era 2000-an dengan jitu.

Transisi dan alur dari album ini juga poin plus. Peralihan dari trek-trek “jenaka” menuju nomor ballad yang mendalam terasa bersinar. Namun, titik paling terangnya adalah bagaimana sempurnanya “bentuk” Robyn. Di kancah musik populer, judul “self-titled “ kerap dirancang untuk memperkenalkan atau mengekspresikan diri, dan album ini berhasil melakukannya dengan apik. Inilah salah satu contoh penggunaan pop sebagai manifestasi pengekspresian diri yang bermutu.

5. Charli XCX – Pop 2 (2017)

Di dekade ini, nama Charli bersinar terang. Besar dengan sajian pop 90-an yang penuh glitter, lalu terjun ke kedalaman indie MySpace yang “aneh”, lalu melintasi jalur label mayor melalui keahliannya menulis lagu untuk musisi papan atas, hingga rilisnya hit “Boom Clap” mendongkrak popularitasnya, semua sudah ia lahap.

Rilisan “paling muda” di daftar ini hadir bukan sebagai sebuah album. Pop 2 jebol di tahun 2017 sebagai mixtape. Ia tidak sedang bermain aman; justru, ingin bebas. Sebuah album terkesan terikat dengan narasi, dan Charli enggan terikat. Alhasil, jadilah Pop 2 sebagai mixtape yang layaknya membuka gerbang akan masa depan “cerah” musik pop. Pop 2 tidak mengikuti aturan main, tangga lagu, atau apapun itu; ia mengkuti naluri kreatif sang musisi di baliknya.

2 COMMENTS
  • cimoloriginal@gmail.com

    Terbaeeekk

  • Ricko13

    Nice Info