Muse

5 Fakta Unik di balik Citra Maskulin Muse

  • By:
  • Sabtu, 31 October 2020
  • 1170 Views
  • 2 Likes
  • 1 Shares

Di saat awal kemunculannya, Muse tampak seperti band rock alternatif kebanyakan di era tersebut. Persona maskulin, gaya busana yang monokromatik, serta tata panggung yang tidak mencolok merupakan gambaran yang dapat diasosiasikan pada band tersebut. Nyatanya cukup banyak hal menarik yang bisa ditemukan di dalam tubuh Muse.

Muse merupakan sebuah kelompok musik beraliran rock asal Teignmouth, Devon, Inggris. Muse berawal dari sebuah band anak kuliahan yang dimotori oleh Matthew Bellamy (vokal, gitar, keyboard), Chris Wolstenholme (bass, vokal latar), dan Dominic Howard (drum). Mereka bertiga merupakan sekelompok mahasiswa di Teignmouth Community College yang awalnya tidak saling kenal. Pertemuan Matt dengan Dominic sebelum Muse berawal dari rasa penasaran sang vokalis untuk ikut bergabung dalam proyek musik yang sedang dikerjakan oleh Dominic. Saat itu, Dominic sedang mencari seorang pemain gitar sekaligus vokalis. Merasa mampu akan kemampuannya, Matt pun dengan percaya diri mencoba untuk ikut audisi dan beruntung dirinya pun akhirnya masuk untuk mengisi kekosongan di dalam band yang bernama Carnage Mayhem tersebut. 

Tidak berselang lama, mereka mengganti nama band sebelumnya menjadi Gothic Plague. Di saat pergantian nama tersebut juga, Matt dan Dominic mulai memerhatikan geliat Chris. Aktif di dalam band bernama Fixed Penalty, Chris awalnya merupakan seorang pemain drum. Namun Matt dan Dominic mengajak Chris untuk mengisi posisi pemain bass. Merasa tertarik akan pengalaman baru, akhirnya Chris pun memilih untuk mengikuti kursus bermain bass dan melengkapi formasi band yang jadi cikal bakal Muse saat itu. 

Band awal mula dari Muse ini kembali mengalami pergantian nama. Kali ini nama Rocket Baby Dolls dipilih sebagai identitas dari trio tersebut. Mulai serius menjalankan bandnya, para pendiri Muse tersebut akhirnya mengajukan bantuan dana dari yayasan amal bernama Prince’s Trust untuk membeli alat musik yang berkualitas. Mereka mendapatkan uang sebesar 150 poundsterling dari yayasan amal tersebut. Di tahun 1994, Rocket Baby Dolls mengikuti dan berhasil menang dalam kompetisi festival musik Battle of The Bands. Kompetisi tersebut jadi katalis bagi mereka bertiga untuk fokus, serius menjalani hidup sebagai musisi dan akhirnya mengubah nama band mereka kembali menjadi Muse hingga saat ini.

Fakta-fakta unik di dalam tubuh Muse

Cerita di atas merupakan sedikit sejarah tentang perjalanan awal Muse merintis karier sebagai kelompok musisi. Di balik perjalanan karier yang terkesan tidak neko-neko, nyatanya banyak fakta unik dan menarik yang bisa ditelisik di dalam tubuh Muse. Simak selengkapnya.

  1. Membanting alat musik sebagai selebrasi di Battle of the Bands

    Mungkin akan terasa lumrah rasanya jika Muse merupakan salah satu band yang besar untuk melakukan aksi menghancurkan alat musik di panggung. Namun, kala mereka mengikuti gelaran Battle of the Bands, mereka bukanlah siapa-siapa. Status sebagai band pendatang baru nyatanya tidak menghentikan aksi para personel Muse untuk menghancurkan alat musiknya. 

    Matthew Bellamy sempat menjelaskan bahwa kala itu, dirinya merasa tidak percaya jika bandnya berhasil memenangkan kompetisi band pendatang baru terbaik di Inggris. Menghancurkan alat musik bagi pentolan Muse saat itu adalah sebuah respon atau pernyataan rasa syukur yang dicampur dengan rasa takjub.

  2. Dianggap sebagai pemuja setan

    Eksplorasi dan eksperimen merupakan hal yang wajar untuk dilakukan band. Apalagi untuk band sekelas Muse. Uniknya, eksplorasi tersebut akhirnya menimbulkan anggapan miring. Band yang didirikan oleh Matthew Bellamy, Chris Wolstenholme, dan Dominic Howard ini sempat dicurigai sebagai band pemuja setan,

    Anggapan tersebut lahir karena keinginan Muse untuk memaksimalkan proses rekaman lagu Megalomania. Muse merasa bahwa mereka perlu untuk merekam suara organ gereja terbesar di Eropa yang terletak di dalam gereja St Mary the Virgin's di Inggris. Agar mendapatkan izin untuk memainkan dan merekam organ tersebut, sang pendeta gereja meminta salinan lirik dari lagu tersebut untuk memeriksa apakah ada unsur satanisme di dalam lagunya nanti.

  3. Mengubah fungsi ritsleting sebagai alat musik

    Di balik penampilannya yang cool dan maskulin, nyatanya ada sisi liar yang kerap kali dikeluarkan oleh Muse saat merancang sebuah aransemen musiknya. Sisi liar tersebut kali ini hadir pada lagu Space Dementia. Entah apa yang ada di dalam kepala Matthew Bellamy saat merekam lagu tersebut. Di akhir lagunya, sang frontman mengganti suara gitar dengan suara ritsleting dari celana yang dirinya kenakan pada saat rekaman.

  4. Aksi unik di konser Wembley tahun 2007

    Tidak hanya di balik panggung, Muse ternyata juga tidak segan-segan memamerkan aksi uniknya kepada para penontonnya. Hal unik tersebut terjadi saat Muse mengadakan konser di Wembley Stadium di tahun 2007. Awalnya, Muse berencana untuk masuk ke panggung dengan cara terbang menggunakan jetpack. Sayangnya hal tersebut harus diurungkan karena mendapat sorotan dari pihak kesehatan dan keselamatan. Selain itu, Muse juga mempersiapkan sebuah robot yang dirancang mandiri oleh Matthew Bellamy untuk mengisi suara gitar tambahan.

  5. Matthew Bellamy tidak suka dilihat saat bernyanyi

    Sebagai seorang vokalis, aneh rasanya jika Matthew Bellamy mengakui dirinya tidak suka dilihat saat sedang bernyanyi. Namun itulah kenyataan terjadi di dalam tubuh Muse. Hingga saat ini, Matthew Bellamy tidak ingin ada siapapun di dalam ruang rekaman saat dirinya mulai mengisi vokal. Sang pentolan dari Muse ini melarang seluruh anggota inti beserta para teknisi rekaman dan produser hingga waktu yang ia butuhkan untuk merekam vokal selesai dilakukan.

0 COMMENTS