frontwoman metal

5 Frontwoman Tercadas Masa Kini

  • By: NND
  • Rabu, 18 March 2020
  • 2683 Views
  • 1 Likes
  • 4 Shares

Perempuan dalam metal? Kenapa tidak? Sama seperti musik lain, metal juga tidak seharusnya menjadi ruang tertutup bagi para perempuan yang hendak berkarya. Stigma kelewat maskulin yang tak jarang menjadi toxic dalam metal pun seraya semakin dikikis dengan bertambahnya kontribusi perempuan di dalamnya, dan memang sudah seharusnya demikian.

SUPERMUSIC telah merunut lima nama frontwoman segar dalam kancah metal bagi kalian yang penasaran siapa-siapa saja perempuan yang berkecimpung dan berkarya di dalam dunia ekstrem tersebut. Siapa saja mereka, dan bagaimanakah musik yang mereka bawakan? Selengkapnya, silahkan baca di bawah ini:

***

1. Djamila (Ithaca)

Membuka daftar ini, adalah Djamila--vokalis grup multigenre cadas bernama Ithaca. Untuk band asal Inggris ini, perpaduan sejumlah genre menjadi DNA yang dominan di dalam karya mereka. Musiknya renyah, tak jarang dipenuhi dengan glitch sedap ala metalcore, eksperimentalisme post-punk dan post rock, hingga hantaman brutalisme hardcore yang ganas.

Icing on the cake-nya adalah vokal "basah" Djamila yang merapal lirik-lirik social/politically conscious, maka lengkap sudah amunisi mereka untuk menerjang halaman musik keras di dekade baru ini. Coba selami distorsinya, dijamin puas hingga geger otak ringan. Mudahnya simak dan dengarkan klip "Impulse Crush" sebagai single album debut mereka The Language of Injury (2019).

2. Reba Meyers (Code Orange)

Lanjut, kita punya Reba Meyers selaku gitaris-vokalis dari outfit hardcore metal asal Amerika, Code Orange. Jebolan label Deathwish Inc. ini memang sudah menjadi nama yang mampu diangkat sebagai pakem musik cadas pada kelasnya, mereka sudah bermusik dari tahun 2008, dan di balik empat buah studio mereka, Reba Meyers menjadi sosok krusial yang tak tergantikan. Mengusung musik hardcore punk yang terus terang pada awalnya, Code Orange pun semakin menggeser palet musiknya ke arah yang lebih "metal" seiring berjalannya waktu dan masuknya personil baru.

Album terbaru mereka, Underneath, resmi rilis pada tanggal 13 Maret kemarin, dan di dalamnya, adalah sebuah track yang mampu menampilkan olah vokal Reba secara maksimal. Dengarkan dan simak klip dari "Sulfur Surrounding" yang dimajukan sebagai single ketiga dari album anyar mereka itu!

3. Lzzy Hale (Halestorm)

Halestorm adalah unit hard rock/heavy metal asal Amerika yang juga berhasil menyabet penghargaan Grammy untuk kategori Best Hard Rock/Metal Performance pada thun 2013 silam. Dikepalai oleh Lzzy Hale selaku vokalis-gitarisnya, mereka menjadi grup yang dipimpin oleh seorang perempuan pertama yang berhasil memenangkan kategori tersebut. Tentu, karisma dan karater Lzzy berperan besar dalamnya, membuat single "Love Bites (So Do I)" menjadi sebuah track pemenang Grammy yang patut diapresiasi.

Terakhir dari Lzzy cs., adalah album keempat mereka yang bertajuk Vicious (2018). Ia menyatakan bahwa album tersebut menjadi album yang mampu menyalurkan intensitas live mereka, tak hanya menyorot kepada Lzzy, namun membuka ruang untuk kuartet ini bersinar secara bersama-sama.

4. Larissa Stupar (Venom Prison)

Venom Prison adalah grup death metal asal Wales yang sudah melantangkan musiknya dari tahun 2014 silam. Debut mereka, Animus (2016) menjadi sebuah rilisan yang diterima baik oleh kritik dan publik. Melanjutkan diskografi mereka dengan album nomor dua, adalah Samsara (2019). Secara musikalitas, Venom Prison mengusung death metal secara terbuka--ada injeksi hardcore dan grindcore di dalamnya, yang menjadi pondasi untuk membahas isu-isu politik, ketidakadilan gender, kesehatan mental, fasisme, hingga lain sebagainya.

Membahas Larissa Stupar sendiri, ia merupakan mantan vokalis dari Wolf Down sebelum pindah ke Wales dan membentuk Venom Prison. Dalam jagad metal, olah vokal seorang Larissa merupakan salah satu yang terbaik di kelasnya. Kerrang! menyatakan Larissa sebagai "metal's most important voices" berkat kualitas vokal dan lirik yang ia tulis. Itu pula yang hadir sebagai daya tarik Venom Prison

5. Serena (Svalbard)

Mengutip laman Bandcamp mereka, Svalbard mengusung musik yang mauk dalam kategori alternative, crust, harcore, metal, punk, rock, serta post-hardcore, post-rock, post-metal, black metal dan emo. Di balik semua itu, adalah Serena Cherry selaku vokalis-gitaris yang juga turun tangan menggarap penulisan lirik dan merupa artwork.

Album teranyarnya adalah It's Hard to Have Hope (2018). Melaluinya, Svalbard membahas politik dari sudut pandang segar terkait isu-isu kontemporer seperti tubuh dan pikiran perempuan, perubahan iklim, kekerasan terhadap binatang, dan lain sebagainya. Segala pesan yang hendak disampaikan terasa lebih ampuh dengan vokal mengoyak telinga ala Serena. Entah saat dipadukan dengan drum liar ala d-beat, ataupun dengan momen-momen melodic dari gitar yang menyayat megah. Coba jajal track "Revenge Porn" di bawah ini:

0 COMMENTS

Info Terkait

superbuzz
243 views
superbuzz
382 views
superbuzz
643 views