5 Label Rekaman Indonesia dengan Rilisan Paling Berpengaruh

  • By: NTP
  • Jumat, 4 August 2017
  • 22992 Views
  • 0 Likes
  • 0 Shares

Bisnis dan industri rekaman (musik) di Indonesia memang kerap mengalami pasang surut, maka satu-satunya kepastian adalah album-album lokal berkualitas akan menemui pendengarnya. Fenomena ini sudah berulangkali terjadi, pengaruh album-album berkualitas akan menjangkau pendengarnya di masa depan, sementara label rekaman bisa saja bubar keesokan hari.

[bacajuga]

Pada situasi tersebut, label-label yang melepas album-album berpengaruh seringkali tak panjang umur, atau kerepotan menghidupi bisnisnya sendiri. Jika pada era pra-reformasi hanya label-label major yang memiliki kekuatan untuk melepas album berkualitas, maka kondisi tersebut pudar menjelang milenium baru. Pada era itu, album-album berpengaruh hanya dirilis oleh label-label major yang tak kita duga sebelumnya.

Menjelang millenium baru, proses kreatif dan distribusi akhirnya perlahan diambil alih para pelaku, baik band atau label independen. Kebebasan untuk menjalankan visi artistik mereka pun tak lagi harus mengalah, melainkan menjadi kualitas pembeda. Gabungan antara semangat kemandirian, visi dalam bermusik dan militansi dalam membangun jaringan adalah model yang perlu dipertahankan dan diteruskan.

Remaco

Republic Manufacturing Company (Remaco) berdiri pada pertengahan dekade 50-an, menyusul beberapa label rekaman yang berdiri lebih dulu seperti Dimita, Metropolitan dan Irama. Awalnya, Remaco dikelola oleh Moestari dan Titien Soemarni, dan diteruskan oleh produser Eugene Timothy pada 1964. Di paruh akhir dekade 60-an, Remaco mulai merilis album dalam format kaset, yang dapat menjangkau penggemar musik dengan lebih luas.

Menurut catatan Denny Sakrie dalam buku 100 Tahun Musik Indonesia (2015), Remaco pernah menjadi perusahaan rekaman musik terbesar di Indonesia. Pada keemasan Remaco, label ini menanungi beberapa band dan musisi kenamaan Indonesia, melintasi berbagai spektrum musik populer. Nama-nama seperti Ernie Djohan, Alfian, Enteng Tanamal, Pattie Bersaudara, Bob Tutupoly, Koes Plus, Bimbo, Panbers, The Mercy’s, Favorites Group, D’Lloyd, Muchsin & Titiek Sandhora, Arie Koesmiran, Benyamin S, Oma Irama, Elvy Sukaesih, Rofiqoh Darto Wahab, Eddy Silitonga, dan Ade Manuhutu pernah tergabung di Remaco.

Pada dekade 80-an, dominasi Remaco akhirnya surut dan digantikan oleh Musica Studio sebagai label rekaman musik populer terbesar di Indonesia. Walau demikian, Remaco turut berperan penting pada era awal perkembangan industri musik populer di Indonesia dengan merilis beberapa album yang berkualitas di zamannya, bahkan menjangkau telinga global di era internet.

Album penting: Koes Plus - In Hard Beat (1976),  D’Lloyd - Pop Melayu Vol. I, The Rollies – The Rollies (1972), The Rollies - Let's Start Again (1975), AKA - Do What You Like (1970).

Aquarius Musikindo

Pada Desember 2013, Aquarius menutup gerai terakhir mereka di bilangan Mahakam, Jakarta Selatan. Dikenal sebagai penjaja rekaman fisik, satu-persatu toko Aquarius terpaksa tutup akibat kerap merugi. Langkah yang diambil Aquarius adalah penanda pergeseran zaman, di mana digitalisasi musik terjadi dari produksi, distribusi hingga konsumsi. Perubahan ini menandai berakhirnya dominasi tunggal label major dalam rantai industri musik Indonesia. Padahal, sejak akhir 70-an dan berakhirnya masa jaya Remaco, Aquarius bisa dibilang menjadi pesaing terberat Musica Studio’s.

Didirikan dengan nama  Aquarius Music pada tahun 1969, nama Aquarius Musikindo baru digunakan pada tahun 1988. Sebagai pemain besar dalam industri musik Indonesia, Aquarius aktif dari hulu hingga hilir industri musik Indonesia. Dominasi Aquarius bahkan menyentuh ranah yang tak tersentuh sebelumnya, yaitu band-band independen yang mulai bermunculan sejak awal 90-an. Beberapa album rilisan Aquarius berpengaruh dalam membentuk kekhasan sound Indonesia pada dekade 80 dan 90-an, dari reggae hingga rock, jejak Aquarius sulit diabaikan.

Album penting: Imanez - Anak Pantai (1994), The Flowers - 17th Ke Atas (1996), PAS Band - In (No) Sensation (1995), Simakdialog - Baur (1999), Dewa - Bintang Lima (2000), Dewa19 - Terbaik Terbaik (1995).

FFWD Records

Besar kemungkinan kamu pernah mendengar setidaknya satu album rilisan FFWD Records. Pengaruh label asal Bandung ini begitu kentara pada kancah independen kota-kota di Indonesia. Sumbangan terbesar label asal Bandung ini, selain cetak biru model label independen khas Indonesia, adalah album-album yang mereka rilis. Jika dibanding dua label sebelumnya, FFWD Records rataan kualitas album rilisan mereka jelas lebih tinggi.

FFWD Records didirikan oleh Achmad Marin Ramdhani, Helvi Sjarifuddin, dan Didit Aditya pada tahun 1999. Sebagai salah satu label independen paling awal di Indonesia, pengaruh FFWD Records betul-betul terserap di tingkat akar rumput. Album-album lintas genre yang mereka rilis menetapkan standar kualitas tersendiri. Mereka adalah salah satu dari sedikit label independen lokal yang menjual album sebanyak 50 ribu kopi.

Berlandaskan keinginan merilis musik yang mereka sukai dan tentu, kenekatan, umur FFWD Records kini hampir menyentuh usia 18 tahun. Pencapaian yang cukup mengagumkan, mengingat label major sekalipun kesulitan bertahan di era internet.

Album penting: Mocca - My Diary (2000), The S.I.G.I.T - Visible Idea of Perfection (2006), Polyester Embassy - Tragicomedy (2006), Teenage Death Star - Longway To Nowhere (2008), Rock and Roll Mafia - Outbox (2007), OST Catatan Akhir Sekolah (2005).

Aksara Records

Semasa hidupnya, Aksara adalah wajah kancah  musik independen kota Jakarta, pengaruhnya tak terbatas pada musik namun juga sektor seni rupa, desain, film hingga busana. Aksara merepresentasikan semangat dan progresi kancah independen Jakarta di awal milenium baru.

Aksara Records adalah pelebaran bisnis dari toko buku Aksara di bilangan Kemang, Jakarta Selatan. Label rekaman ini diinisasi oleh David Tarigan dan Hanin Sidharta, yang merilis salah satu artefak kancah independen terpenting dari Jakarta adalah kompilasi rilisan Aksara, yaitu JKT: SKRG (2004). 12 band yang mengisi kompilasi tersebut berkembang dan merilis album-album berpengaruh. Album C’Mon Lennon, The Brandals, The Upstairs, Sajama Cut, Sore, The Adams, Teenage Death Star, Seringai, The Sastro, dan Zeke & The Popo, menjadi standar kualitas musik independen Indonesia pada medio 2000-an awal.

Pada periode tersebut, model bisnis Aksara menjadi patokan bagi label-label independen yang menjamur di dekade 2010. Menyeimbangkan idealisme kualitas dan kecakapan berbisnis, Aksara berdiri di atas prinsip sederhana, berbagai musik berkualitas dengan khalayak luas. Pasca label ini bubar pada tahun 2010, pengaruh album-album rilisan Aksara masih sangat terasa hingga sekarang.

Album penting: JKT: SKRG (2004), Sore - Centralismo (2005), White Shoes and the Couples Company - s/t (2007), The Brandals - Brandalisme (2007), Sore - Ports of Lima (2008), The Adams - The Adams (2006), Goodnight Electric - Love and Turbo Action (2004), OST Janji Joni (2005).

Rottrevore Records

Rottrevore Records adalah label death metal dan grindcore paling berpengaruh di Indonesia. Tak hanya death metal, lanskap extreme metal di Indonesia mungkin akan begitu berbeda jika saja Rottrevore tidak pernah berdiri. Embrio label ini berasal dari Rottrevore Magz, sebuah zine extreme metal asal kota Bandung yang didirikan  pada tahun 1999 oleh  Dwinanda Satrio ‘Rio’ (gitaris Bloody Gore), Ferly (gitaris Jasad), dan Andre Tiranda (gitaris Siksakubur).

Rottrevore Records resmi menjadi label rekaman saat merilis album Bloody Gore, Stench of Your Perversions pada tahun 2001. Pada wawancara dengan Rolling Stone pada awal Agustus 2011, Rio memaparkan bahwa Rottrevore Records didirikan untuk merilis album band-band death metal lokal, serta tertantang oleh minimnya peluang bisnis label rekaman death metal dan grindcore.

Saat Rio berpulang pada tahun 2011 pun, Rottrevore tetap berjalan walau sempat vakum merilis album hingga tahun 2012. Kini, Di umur yang sudah menginjak 16 tahun, Rottrevore kini dijalankan oleh Ferly. Rottrevore masih konsisten merilis beberapa band generasi baru di kancah extreme metal, seperti Deadly Weapon, Carnivored, Sufism, dan Viscral. Cukup tepat jika akhirnya menyebut Rottrevore sebagai raksasa extreme metal yang paling konsisten.

Album penting: Bloody Gore - Stench of Your Perversions (2001), Jasad - Witness Of Perfect Torture (2003), Siksakubur - Eye Cry (2003), Total Rusak - Exploding the Cranial (2003), Death Vomit - The Prophecy (2006), Eternal Madness - Abad Kegilaan (2007), Deadsquad – Horror Vision (2007), Dead Vertical – Infecting the World (2008).

0 COMMENTS

Info Terkait

superbuzz
341 views
superbuzz
1017 views
superbuzz
1329 views
superbuzz
1633 views
superbuzz
4227 views