5 Musisi Side Project

5 Musisi Jagoan dan Side Project Mereka yang Beragam

  • By: NND
  • Selasa, 23 April 2019
  • 1268 Views
  • 2 Likes
  • 0 Shares

Sebagai seorang musisi, tentunya bermain musik merupakan pekerjaan utama. Entah itu manggung, menulis lagu, jamming, latihan di studio, ataupun rekaman materi baru; mereka terus dipacu untuk bergelut dengan musik—dan menghasilkan karya dari nada-nada yang mereka susun itu. Entah maju dengan format band, orkestra, solo, duo, dan lainnya; musik akan terus digali dengan visi dan misi, serta selera mereka. Dari prosesnya itu, tentu para musisi tersebut kemudian menemukan mulai menemukan karakter mereka dalam bermusik, dan dari karakter tersebutlah karya-karya mereka memiliki ciri khasnya masing-masing.

Mungkin karakter suara atau bahkan ciri khas memang menjadi resep utama bagi para musisi untuk terus menjaga relevansi mereka dan untuk meramu karya yang dianggap mewakili keinginan mereka—atau jujur, dengan kata lainnya. Namun tentu dengan terus mengembangkan karakter dan ciri khas tersebut, musisi kerap dihadang oleh kejenuhan. Kejenuhan inilah yang terkadang menjadi dorongan untuk mendirikan side project. Guna menepis kejenuhan, side project kerap digandeng oleh musisi agar dapat terjun ke ranah musik lain tanpa mengubah karakter dan ciri khas dari entitas musik utama milik mereka.

Selain sebagai ruang untuk menghidari kejenuhan, side project juga sangat bermanfaat untuk eksplorasi—untuk para musisi yang ingin mengorek sisi-sisi musik yang lain. Tentu bereksplorasi itu penting bagi musisi, dan side project merupakan sebuah ruang yang cocok untuk menerapkannya.

Ada juga yang maju dengan alasan lebih simpel, sebagai wadah kreativitas. Ya, terkadang dalam waktu kosongnya, para musisi—terutama yang tergabung dengan band—kerap menulis materi-materinya sendiri. Jika materi tersebut dianggapnya kurang cocok didepankan melalui bandnya, maka disitulah peran side project itu hadir.

Melalui tulisan berikut, SUPERMUSIC akan menyajikan 5 musisi kenamaan yang memiliki side project yang—bisa dibilang—tidak kalah dengan grup musik aslinya.

1. Dave Grohl

Musisi yang satu ini memang sudah bukan lagi seseorang yang asing di telinga para pecinta musik rock. Berawal sebagai penggebuk drum band legendaris asal Seattle, Nirvana, Dave Grohl telah menjadi sebuah ikon generasi yang terus berkarya dengan jujur dan passion yang kuat. Selepas kepergian Kurt Cobain—frontman dari Nirvana—Dave kemudian mendirikan Foo Fighters, dimana ia menempatkan dirinya sebagai vokalis dan gitaris lalu berkarya dengan grup barunya itu. Melalui Foo Fighter, Dave berhasil menciptakan sebuah grup musik yang memainkan musik rock sebagaimana harusnya musik tersebut dimainkan, membuatnya menjadi sebuah ikon dari generasi musik tahun 2000-an.

Namun, terlepas dari kesibukannya dengan Foo Fighters dan Nirvana, Dave pun kerap merangkul sejumlah side project untuk terus memuaskan hasrat bermusiknya. Melacaknya sedari yang paling awal—ada nama seorang Dave yang mengisi posisi drummer dalam proyek solo dari founder grup musik the Melvins, Buzz Ozbourne, yang didepankan dengan nama King Buzzo EP. Tahun 1992 merupakan tahun dimana EP itu dirilis, menandakan kali pertamanya seorang Dave Grohl terjun ke dalam dunia side project.

Tahun 2000, Grohl mulai sibuk dalam studio basement miliknya, menulis materi untuk sebuah proyek metal yang baru bertemu dengan telinga umum pada tahun 2004 dengan nama Probot. Dalam proyek ini, ia merangkul nama-nama besar dalam kancah metal seperti Lemmy dari Motorhead, Cavalera bersaudara dari Sepultura, Conrad “Cronos” dari Venom, dan masih banyak lagi.

Dave juga menyempatkan dirinya untuk bermain drum dalam band besutan Josh Homme, Queens of the Stone Age dalam album Songs for the Deaf milik mereka. Album tersebut dirilis pada tahun 2002. Sebelumnya, ia juga turut berkarya bersama duo Jack Black dan Kyle Gass, Tenacious D. Dave muncul dalam dua album mereka—album debutnya pada tahun 2001 dan album ketiganya pada tahun 2012.

Pada tahun 2009, telah diumumkan bahwa Dave Grohl, Josh Homme, dan John Paul Jones dari Led Zeppelin telah menyambangi dapur rekaman dan mencoba untuk meramu materi-materi baru sebagai sebuah supergroup bernama Them Crooked Vultures. Dave—kembali duduk dibalik drum—bersama kedua musisi kawakan tersebut kemudian merilis album perdana supergroup itu pada tahun yang sama setelah beberapa kali tampil live.

Tentunya masih banyak lagi side project yang dipikul oleh seorang Dave Grohl; banyak sekali hingga sulit untuk dirangkum ke dalam daftar ini. Contoh saja (konon) penampilan rahasianya dengan unit metal misterius Ghost; dalam sebuah wawancara dengan salah seorang dari lima instumentalist mereka yang semuanya menyandang nama “A Nameless Ghoul”, ia menyatakan bahwa salah satu acara live mereka sempat diiringi oleh permainan drum seorang Dave Grohl, namun enggan menyebut detil acara tersebut. Atau saat berkolaborasi dengan unit indie hip-hop baru, RDGLDGRN, yang merekam materinya dalam Sound City Studio—studio milik Dave. Coba jelajahi sendiri apa saja proyek-proyek musik yang dijalani olehnya, tentunya kalian akan lebih menangkap musikalitas seorang Dave Grohl secara menyeluruh.

2. Damon Albarn

Sebagai founder dan frontman dari grup brit rock kawakan, Blur, Damon Albarn tentu telah berhasil menorehkan namanya ke dalam daftar musisi-musisi yang berpengaruh terhadap perkembangan musik, baik di skena lokalnya di Inggris, ataupun secara global. Blur merupakan sebuah gebrakan musik Britania Raya yang kuat, terutama ketika dipadukan dengan rivalnya, Oasis. Namun lepas dari musik-musik mereka, yang menjadi umum dari Blur adalah bahwa personilnya itu suka bermain dengan side project—begitu juga jadinya dengan Albarn.

Pada tahun 1998, Ia mendirikan Gorillaz—sebuah grup musik “fiktif” yang personilnya itu disajikan secara digital ketika mereka tampil live. Ini adalah sebuah proyek musik yang ia garap bersama seorang seniman dan komikus, Jamie Hewlett. Berisikan empat anggota animasi: 2-D, Murdoc, Noodle, dan Russel, Gorillaz menjadi sebuah fenomena yang luar biasa saat musiknya mulai diterima kalangan luas. Sebagai sebuah proyek musik yang hanya Albarn seorang diri sebagai kontributor tetapnya, musik Gorillaz diarahkan sebagai ekplorasi sound yang memajukan musik-musik “lain” dari Blur kala itu. Hingga sekarang, Gorillaz telah menjadi sebuah aksi yang terus ditunggu-tunggu, dan materinya itu selalu hadir dengan segar.

Meski langkah dari Blur sudah terhenti, Gorillaz masih terus berpijak. Sejauh ini, mereka telah berhasil menelurkan enam buah album. Dengan kontribusi dari musisi yang terus berganti-ganti, hampir bisa dipastikan bahwa Gorillaz merupakan sebuah grup musik yang akan terus berevolusi pada tiap rilisannya. Enggan dipatok pada sebuah sound tertentu, Albarn memajukan sebuah ekplorasi musik nan apik melalui grup ini. Ikutilah terus perkembangannya.

Selain Gorillaz, Alabrn juga turut terlibat dalam proyek lainnya. Sebut saja The Good, The Bad, and The Queen—sebuah supergroup alt-rock yang didirikannya bersama Paul Simmon, Simon Tong, dan Tony Allen. Diproduseri oleh Danger Mouse—The Good, the Bad, and the Queen merilis album perdananya (self-titled) pada tahun 2007. Albarn menyatakan bahwa album tersebut merupakan sebuah konsep album yang membicarakan tentang kehidupan modern di London. Album kedua mereka baru mengudara pada tahun 2018 kemarin. Merrie Land, diproduseri oleh Tony Viscoti resmi rilis pada tanggal 16 November 2018.

Tidak seperti Gorillaz, The Good, the Bad, and the Queen merupakan side project Albarn yang sedikit-banyak memiliki kemiripan dengan musik Blur. Mungkin rupanya itu lebih ditujukan sebagai sebuah wadah yang digunakannya untuk menampung kreativitasnya—tidak seperti Gorillaz yang lebih mengekor kepada ruang eksplorasinya.

3. Mike Patton

Vokalis dan frontman dari Faith No More, pilar utama alternative metal, juga merupakan seorang musisi yang turut aktif berkecimpung dalam dunia side project. Mulai dari Mr. Bungle, Tomahawk, Fantomas, Dead Cross, Lovage, The Dillinger Escape Plan, hingga Peeping Tom; Patton merupakan seorang yang masih aktif di luar bandnya sendiri.

Sebelum dirinya masuk kedalam Faith No More, Patton tergabung dalam Mr. Bungle. Sepanjang karirnya dalam grup musik fenomenal tersebut, Patton masih aktif dalam grup lamanya ini. Mereka berhasil merilis tiga studio album; album perdana self-titled mereka pada 1991, Disco Volante nan eksperimental pada 1995, dan California sebagai yang terakhir pada tahun 1999. Band yang dibentuk dari masa-masa sekolah ini mengaku mengkorporasikan musik-musik death metal, speed metal, thrash metal, dan hardcore punk—meski tetap ada bumbu-bumbu lain didalam musik mereka, seperti dub, reggae, dan lainnya.

Patton kemudian mendirikan Fantomas bersama Buzz Osbourne (The Melvins), Trevor Dunn (Mr. Bungle), dan Dave Lombardo (Slayer) pada tahun 1998. Supergroup metal ini kemudian berjalan hingga menghasilkan empat buah album. Selain Fantomas, pada tahun 1999 Patton juga membentuk Tomahawk—sebuah unit rock yang tidak basa-basi. Bersama gitaris The Jesus Lizard, Duane Denison yang ia temui saat konser Mr. Bungle, Patton mengemukakan musik yang serupa dengan sound milik album ke-5 dan ke-6 Faith No More.

Juga gemar bermain dengan hip-hop, Patton sempat memuaskan nafsu beats-nya dengan bergabung kedalam Lovage, sebuah grup musik kolaborasi yang dikepalai oleh Dan the Automator—seorang produser hip-hop asal Amerika. Melalui grup ini, mereka berhasil merekam sebuah album yang diberi judul Music to Make Love to Your Old Lady By pada tahun 2001.

Pria kelahiran 27 Januari 1968 ini juga pernah merangkap sebagai seorang anggota dari The Dillinger Escape Plan, veteran mathcore (campuran hardcore punk dan metal dengan math rock awal 90-an) asal New Jersey, Amerika. Patton turut berkontribusi dalam EP ketiga mereka, Irony is a Dead Scene yang resmi rilis pada tahun 2002.

Kembali menyambangi musik keras yang menjadi fokus utama karirnya, Patton tergabung kedalam Dead Cross, supergroup hardcore punk yang terdiri dari Michael Crain (Retox), Justin Pearson (The Locust, Head Wound City, Retox), dan Dave Lombardo (Slayer, Fantomas), serta Patton sendiri; Dead Cross mulai eksis dari tahun dibentuknya, yaitu 2015. Seaslinya, Patton merupakan seorang vokalis pengganti, dimana album perdana mereka yang sudah rampung, telah memiliki take vocal dari vokalis sebelumnya, Gabe Serbian. Setelah Patton masuk, ia melakukan take vocal secara terpisah dan setelah itu barulah album perdana tersebut dirilis pada tahun 2017. Lepas setahun, Dead Cross kembali maju dengan EP yang juga self-titled—sama dengan album perdana mereka—yang meghadirkan dua trek baru berserta remix dari trek lama mereka.

Tidak jauh berbeda dengan Dave Grohl, masih banyak lagi keterlibatan Patton dalam sejumlah side project. Hal ini membuktikan bahwa kreativitas Mike Patton sangatlah deras dan ia memiliki banyak wadah untuk menyalurkannya. Coba kalian teliti lagi apa saja side project yang melibatkan seorang Patton.

4. Travis Barker

Drummer dari Blink-182 ini tentu bukan lagi nama yang asing. Dengan kecepatan yang luar biasa, aksi panggung yang menawan, dan penampilan yang ikonik—tentunya Travis Barker telah melekat kedalam anggan para pegiat musik punk rock, pop punk dan skate punk. Namun, terlepas dari jam terbangnya yang sudah panjang dengan Blink-182, Barker tentunya memiliki sejumlah side project yang ia jalankan dengan berbagai musisi lain.

Contohlah +44, dan Box Car Racer—keduanya adalah side project yang ia jalankan dengan Mark Hoppus dan Tom DeLonge. +44 adalah grup besutan Mark yang menempatkan Travis pada drum, mereka berhasil menggarap sebuah album yang dibeir judul yang sama dengan singlenya, When Your Heat Stops Beating, pada ahkir tahun 2007. Dalam Box Car Racer, Travis dan Tom membawakan lagu-lagu yang terlalu ‘gelap’ untuk Blink-182. Tom yang menulis lagu-lagu tersebut kemudian mendirikan Box Car Racer untuk menaungi lagu-lagu gelap tersebut. Album perdana dan satu-satunya bagi mereka adalah juga adalah album self-titled, rilis jauh sebelum +44, pada tahun 2002.

Di luar perannya dengan Mark dan Tom di Blink-182, Travis juga menjadi penggebuk drum bagi The Transplants, dimana ia turut serta berkontribusi dalam empat buah album mereka, dari tahun 2002 hingga 2017 silam

Lepas dari keduanya itu, Travis juga kerap menggarap proyek hip-hop atas kecintaanya terhadap genre tersebut. Ada album solonya, Give the Drummer Some pada tahun 2011, dan juga kolaborasinya dengan DJ AM (Adam Goldstein), yang maju dengan nama TRV$DJAM. Keduanya itu berhasil melepas dua mixtape pada tahun 2008 dan 2009. Travis juga tergabung dalam supergroup hip-hop Expansive Taste bersama Paul Wall dan Rob Transplants. Mereka merilis sebuah album pada tahun 2007. Selain itu, Ia juga kerap bekerja sama dengan rapper-rapper seperti Yelawolf pada album Psycho White tahun 2012. Pada tahun 2016, Travis bersama dengan Asher Roth dan Nottz merilis album Rawther. Terlepas dari semua ini, masih banyak lagi keterlibatan Travis dalam kancah musik hip-hop.

Musik punk, ska, dan juga hip-hop menjadi musik yang dipeluk erat oleh seorang Travis Barker. Melihat keberagaman tersebut, maka tidak aneh jika dirinya memiiki sejumlah side project. Side project-nya lah yang membukakan ruang bagi Travis untuk bisa terus bersenang-senang dengan musik di luar Blink-182—tempat dimana ia memperoleh predikat rockstar-nya.

5. Jimi Multhazam

Sumber Foto

Dalam kancah musik lokal kita, terutama untuk gerakan underground, pasti nama Jimi merupakan nama yang sudah akrab di telinga. Pelantun lagu “Matraman” yang ikonik melalui bandnya, The Upstairs, ini memang seorang musisi kawakan yang jebol dari kampus IKJ di Jakarta. Diluar kesibukannya bersama The Upstairs, Jimi tentunya memiliki sejumlah side project yang tidak kalah menariknya.

Morfem adalah unit rock asal Jakarta yang sudah tidak asing bagi para pegiat musik bawah tanah di Jakarta dan sekitar. Dibopong juga oleh Pandhu Fuzztoni, Freddie A. Warnerin, dan Yusak Anugerah; mereka menyentak kalangan musik lokal dengan alunan noise rock yang segar—yang terkadang juga dibalut dengan aksen punk, indie rock dan lain sebagainya. Mulai aktif pada tahun 2009, awalnya band ini didirikan oleh Jimi cs hanya sebagai sebuah band cover yang membawakan lagu-lagu The Velvet Underground dengan suara mereka sendiri, namun nampaknya nasibnya berujung beda, karena hingga sekarang Morfem masih merupakan sebuah unit musik yang aktif. Album teranyar mereka jebol pada tahun 2018 lalu, Dramaturgi Underground. Melalui Morfem, Jimi bisa mengekspresikan kecintaannya terhadap musik-musik yang memang membentuk karakternya—baik sebagai seorang individu, dan juga seorang musisi.

Jika Morfem merupakan sebuah wada untuk menyajikan musik noise rock yang apik, maka beda ceritanya dengan Jimi Jazz. Ya, sebagai sebuah unit musik yang mencampurkan musik crossover thrash dengan skate-core yang galak, Jimi Jazz merupakan salah satu side project dari Jimi yang benar-benar mengangkat suara punk dan segala sepupunya. Ketukan yang cepat, vokal teriak-teriak, dan bisa didapatkan kocokan gitar monoton yang merebus darah, semua di sini. Jimi Jazz merupakan sebuah grup musik yang berhasil melepas album perdananya pada tahun 2018. Diberi judul Kebisingan Pancaroba yang Merongrong, album tersebut juga dibungkus dengan sampul hasil pena anaknya sendiri.

Jika masih belum puas, coba telisik materi-materi lama Jimi saatnya masih tergabung dalam unit hardcore punk Bequite—salah satu band jebolan skena musik IKJ circa 90-an. Selain Bequite, ada juga Morvoid, dimana ia akhirnya maju dan menyandang posisi vokal untuk kali pertamanya.

***

Kembali ke bahasan awal, side project itu penting. Penting untuk musisi dan juga kelanjutan karya-karya mereka. Tidak ada salahnya merambah proyek lain, selama para musisi bisa jujur berkarya, maka karya itu—tentunya—merupakan sebuah karya yang baik.

Para lima musisi tersebut jadi contoh sosok yang selera musiknya beragam dan bisa disalurkan ke side project mereka. Apakah lo juga termasuk punya selera musik yang beragam? Ceritain lewat Instagram dan lo berkesempatan menangin tiket HODGEPODGE SUPERFEST 2019! Caranya bisa lo intip di laman Instagram @supermusic_id dan cek tagar #WeAreMix. Buktikan kalo selera musik lo beragam!

0 COMMENTS