5 Perusahaan Teknologi Pengusung Inovasi Baru di Industri Musik

  • By: NTP
  • Jumat, 26 January 2018
  • 2586 Views
  • 1 Likes
  • 0 Shares

Akselerasi teknologi digital yang semakin cepat dari tahun ke tahun berdampak besar terhadap musik. Hampir semua aspek musik dari tahap produksi, rekaman, distribusi, konsumsi perseorangan, konser hingga royalti kini berevolusi dan bergeser.

Teknologi dan layanan streaming kini menjadi salah satu metode konsumsi paling banyak digunakan. Perubahan teknologi ini memaksa industri musik semakin bergeser ke tangan musisi dan pendengar. Label rekaman dan raksasa industri musik berupaya bagaimana untuk bisa bertahan.

Kini teknologi digital dapat membuka ruang-ruang kreatif dan jembatan baru, antara sesama musisi atau musisi dan pendengarnya. Berikut adalah beberapa platform dan aplikasi yang menawarkan sudut pandang baru untuk mendengar, menciptakan, menampilkan, berbagi, atau bahkan hidup dari musik.

Treble FM

Aplikasi ini dibangun untuk menjembatani musisi, penulis lagu dan produser. Para musisi bisa membuat profil, mengisi kolom keterampilan dan instrumen apa saja yang mereka kuasai, serta mencari musisi lain untuk berkolaborasi. Kerjasama ini didasarkan oleh kebutuhan dan lokasi semua pihak yang terlibat.

Profil di Treble.fm memuat biodata, akun media sosial yang terhubung dan akun Soundcloud. Sebelum menghubungkan semuanya, aplikasi ini akan meminta persetujuan pengguna. Tampilan akun Treble.fm juga bisa dimodifikasi sesuai kebutuhan.

“Kami bukan perusahaan pertama yang mebangun aplikasi berjejaring untuk seniman dan musisi. Namun kebanyakan aplikasi di luar sana dibangun oleh orang teknik informatika,” ujar Matt Bond pada The Verge.

Desain Treble.fm dibangun bersama musisi dan pencinta musik. Bond juga menyatakan bahwa kualitas aplikasi ini akan berbanding lurus dengan penggunanya.

Splice

Splice adalah platform komputasi awan (cloud computing) untuk berkolaborasi, berbagi dan menciptakan musik bersama-sama, terutama melalui jalur produksi (music production). Platform ini menyediakan plugins (sewa atau beli), juga lebih dari satu juta preset dan sample.

Awalnya Splice adalah layanan komputasi awan di mana para musisi bisa berbagai dan berkolaborasi melalui DAW (Digital Audio Workstations) seperti Ableton, GarageBand, Nuendo atau Pro Tools. Platform ini menyediakan jasa backup gratis berbasis komputasi awan untuk DAW masing-masing pengguna selama satu tahun.

Pengguna bisa berlangganan di platform ini untuk mengakses perpustakaan yang memuat lebih dari satu juta sample, plugins gratis, berbagai tutorial dan forum daring aktif. Splice juga menggelar program seperti kompetisi remix dan kemudahan mengakses proyek musik umum yang sedang berjalan.

The Wave VR

Platform ini bertujuan untuk menghubungkan antara musisi dan para pendengar lewat live streaming. The Wave menyediakan berbagai modifikasi di dalam layanan streaming via virtual reality untuk menghapus berbagai masalah selama pengaliran berlangsung.

“Semua orang di perusahaan kami adalah seorang musisi, dan kebanyakan berasal dari industri video game. Saya terlibat dalam pengembangan game musik, seperti Rock Band, sebuah simulasi konser yang membuka kemungkinan metode baru bagi banyak orang untuk berinteraksi dengan musik.”

“Kami ingin menyediakan platform di mana musisi bisa menciptakan dan mendistribusikan karya mereka agar bisa dinikmati banyak orang. Bayangkan, suatu hari nanti musisi bisa menggelar tur dan konser virtual, mendapat penghidupan yang layak dari musik, tanpa meninggalkan rumah mereka? Itulah tujuan utama kami,” ujar Adam Arrigo, CEO The Wave.

Arena

Platform ini ingin membuka kesempatan baru bagi musisi untuk hidup dari karya mereka. Tujuan besar Arena adalah mengubah industri musik lewat sistem royalti/kompensasi bersaing untuk para musisi. Misi platform ini sederhana dan berdampak besar, yaitu memungkinkan musisi “dibayar melebihi gabungan royalti semua platform lain, per transaksi.”

Pengguna bisa mengakses musisi yang mereka sukai, hubungan keduanya inklusif (tak diikat bayaran). Musisi menerima tergantung dari performa suatu lagu, per pemutaran dan per bulan. Pengguna bisa mengatur agar tiap lagu musisi favorit yang mereka putar dapat menghasilkan US$0,1. Tersedia juga layanan membership yang memungkinkan pengguna mengunduh lagu (lewat fitur listen-to-own), yang nantinya akan menghasilkan pendapatan bagi musisi.

“Kini karier sebagai musisi tidak lagi berkelanjutan lantaran angka royalti rendah yang diberikan layanan streaming seperti Spotify, Pandora dan iTunes Radio. Jika kita tidak bertindak sekarang, di masa depan musik bisa punah,” jelas CEO Arena, Damon Evans.

Cymbal

Aplikasi ini memungkinkan pengguna menemukan musik baru dari lingkar sosial, bukan algoritma. Menurut Cymbal, konsumsi musik adalah perilaku sosial. Aplikasi ini memungkinkan pengguna untuk mengunggah lagu favorit di akun mereka.

Cymbal menggunakan data dari lagu favorit pengguna untuk mencocokkan selera musiknya dengan pengguna lain. Menurut Cymbal, mereka ingin pengguna “menemukan lagu-lagu baru yang sedang dicintai seluruh dunia.”

Aplikasi ini bergerak di wilayah antara musik dan media sosial. Menurut CEO Cymbal, Charlie Kaplan, salah satu sebab gagalnya proyek persilangan media sosial dan musik adalah kurangnya “bahasa bersama” yang memertemukan pengguna. Kaplan menganggap “metode pengiriman musik selama ini belum pernah mudah, legal dan baik bagi kondisi finansial para musisi.”

Cymbal mengoreksi masalah ini dengan membangun komunitas yang terdiri dari penggemar dan musisi untuk saling berbagi musik. Mereka juga menggunakan algoritma dan Universal Player untuk memastikan bahwa tiap lagu dimainkan dari layanan streaming yang mereka gunakan, seperti Apple Music atau Spotify.

0 COMMENTS

Info Terkait

superbuzz
748 views
superbuzz
1388 views
superbuzz
2862 views
superbuzz
2020 views

5 Reuni Band Rock Terlaris

superbuzz
3223 views
superbuzz
3326 views

5 Album Rock Kontroversial