5 Rocking Drum and Bass Power Duos

  • By: Lana Syahbani
  • Selasa, 18 August 2015
  • 2059 Views
  • 0 Likes
  • 0 Shares

Kehadiran power duo Royal Blood yang membawakan musik rock penuh distorsi memberikan nafas segar dalam dunia musik rock saat ini. Selain duo asal Brighton yang berisikan pemain drum dan bass ini, masih ada duo lainnya dengan formasi sama yang mengusung musik bergenre rock.

Royal Blood (Brighton, UK)

Hal yang mengejutkan ketika Matt Helders dari Arctic Monkeys memakai kaos Royal Blood saat Glastonbury 2013, bahkan sebelum duo ini merilis single pertama mereka. Terbentuk pada tahun 2013 dan merilis debut album self titled 2014, bassist/singer Mike Kerr dan drummer Ben Thatcher memikat perhatian pendengar musik rock dengan musik beraliran hard rock dengan bumbu garage dan blues.

The Death Above 1979 (Canada, US)

Canadian duo yang terbentuk 2001 ini merilis album pertama mereka You’re a Woman, I’m a Machine pada tahun 2004. Band bergenre dance-punk dan noise rock ini berformasikan Jesse F. Keeler pada bass, synths dan backing vocal serta Sebastien Grainger pada vokal dan drum. Mereka sempat menyatakan bubar pada tahun 2006 dan reunite pada tahun 2011. Single “Trainwreck 1979” dari album The Physical World (2014) masuk dalam Billboard Mainstream Rock Songs pada posisi #22.

Lightning Bolt (Rhode Island, US)

Lulusan Rhode Island School of Design ini bertemu pada tahun 1994 dan membentuk band di tahun yang sama. Mengusung aliran noise rock, mereka dikenal dengan aksi panggung liar dan lebih memilih bermain di bawah stage dikelilingi penonton. Meski awalnya terbentuk sebagai trio, formasi band hingga kini bersisakan drummer Brian Chippendale dan bassist/singer Brian Gibson. Mereka telah merilis tujuh album studio dan terlibat dalam banyak kompilasi.

Ruins (Japan)

Dengan palet musik math rock, jazz fusion dan noise rock, power duo yang dikepalai Tatsuya Yoshida ini terbentuk sejak tahun 1985. Dalam sejarahnya, Ruins mengalami empat kali pergatian bassist. Komposisi musik yang dibuat oleh Yoshida sangat rumit dan kompleks. Hal ini juga yang nampaknya membuat Yoshida kesulitan merekrut bassist yang bisa mengimbangi gaya bermainnya. Simak track “Mennevuogth” dan “Guamallapish” yang liar dari Ruins untuk mengenali gaya bermain mereka.

Japanther (Brooklyn, US)

Perkawinan antara musik dan live show adalah sesuatu yang menjadi poin utama power duo Japanther. Dengan musik art-rock plus sentuhan punk, Ian Vanek dan Matt Reilly produktif dalam merilis karya sejak tahun 2001. Lebih dari sepuluh tahun berkarir di scene underground merupakan sebuah konsistensi yang membuat penggemar setia mereka tetap menghargai karya-karya mereka. Album Beets, Limes and Rice (2011) dan Instant Money Magic (2014) menjadi dua album yang patut disimak dari Japanther.

Foto: stereogum.com

0 COMMENTS