5 subgenre unik

5 Subgenre Musik Unik yang Bisa Lo Kulik Buat Playlist Baru

  • By: NND
  • Kamis, 7 May 2020
  • 508 Views
  • 3 Likes
  • 8 Shares

Masa swakarantina mengharuskan kita berdiam diri di kediaman masing-masing tentu membutuhkan hiburan yang dapat membuat hari-hari membosankan ini bisa dilewati. Maka dari itu, bagi mereka yang gemar mendengarkan musik, playlist menjadi salah satu senjata andalan kita. Namun, sudah berjalan lebih dari dua bulan, tentu playlist kesukaan kita bisa jadi cukup membosankan untuk didengarkan terus-menerus.

Di lain sisi, mengisolasi diri memberikan kita waktu luang untuk terus menjelajahi jagad maya. Mungkin, jika kalian merasa bosan dengan playlist kalian, sudah jadi waktu yang tepat untuk mulai mencari-cari musik yang baru untuk didengarkan. Jika digging musik baru juga juga sudah menjadi aktivitas yang membosankan, kenapa tidak meluaskan palet musik kalian dengan mencicipi berbagai subgenre unik yang berada di luar batasan normal?

Dalam kesempatan ini, SUPERMUSIC menjabarkan lima subgenre yang mungkin bisa jadi alternatif segar bagi kalian yang sudah bosan dengan genre-genre konvensional yang biasa didengarkan. Kelima subgenre ini mewakilkan sebuah pergerakan unik dalam sejarah perkembangan musik, dengan pasar yang niche, namun tentu masih berfungsi sebagai wadah yang merumahi banyak hidden gems dan karya-karya menarik. Penasaran? Simak lengkapnya di bawah ini:

***

1. Chamber pop

Melacak sejarahnya, ungakapan “chamber pop” sendiri sudah diterapkan sebagai sebuah penamaan genre bagi beberapa musik yang muncul di era 60-an, yang menghasilkan musik-musik pop dengan elemen orkestra; seperti strings, horns, piano, dan harmonisasi vokal. Menakar definisi tersebut, terasa sudah musisi-musisi kenamaan seperti Beach Boys dengan album legendaris Pet Sounds (1966), dan lain sebagainya. Namun, chamber pop kembali beredar di tahun 90-an hingga 2000-an sebagai salah satu bagian dari silisilah musik alternatif yang sedang kencang beredar di kala itu. Bangkit ulang sebagai sebuah respon dari gelombang lo-fi 90-an, terapan “chamber pop” hadir kembali di era musik alternatif dan memberikan ruang bagi mereka yang menghasilkan musik dengan pendekatan lebih terhadap produksi dan sound yang lebih “halus” dan pristine. Ingin tetap merasakan sensibilitas orkestra di atas musik pop yang catchy? Chamber pop jawabannya,

Beberapa musisi kenamaan era 90-an dan 2000-an yang dikenal akrab menerapkan perpaduan ini ini adalah Belle and Sebastian dari Skotlandia, The Pernice Brothers dari Amerika, dan lain sebagainya. Coba dengarkan musik mereka sebagai langkah pertama penjelajahan chamber pop kalian.

2. Hip house

Dikenal juga sebagai rap house atau house rap, genre ini mencampur dua genre musik konvensional, yakni house dan hip-hop. Hip House mulai beredar di era 1980-an; melacak awalnya, genre ini mulai dipopulerkan di kota Chicago di Amerika, dan London di Inggris. Ketimbang menggunakan beat hip-hop, rima disajikan di atas beat 4/4 atau four to the floor. Perpaduan rima yang ketat dengan beat yang mengajak berdansa menajdi sorotan utama dari genre ini, cocok sebagai soundtrack bagi “good times” kalian di rumah masing-masing--apapun itu maksudnya.

Nama-nama penting dalam gerakan hip-house adalah produser asal Chicago, Amerika, Tyree; serta counterpart-nya dari Inggris, yakni kolektif the Beatmasters. Keduanya bahkan sempat terlibat kontroversi terkait siapa yang pertama menjadi “the founder of hip house”.

3. Post-metal

Berjalan dijalur yang sama seperti post-rock, adalah post-metal yang merupakan subgenre dari heavy metal, namun melanjutkan eksplorasi mereka melampaui batasan-batasan yang ada di dalamnya. Awalnya digagas oleh nama-nama besar seperti Neurosis dan Godflesh, post-metal masih memiliki intensitas yang biasa dijumpai dalam cabang metal, namun menempatkan ruang lebih kepada atmfosfer dan nuansa. Sebagaimana post-rock mengolah komposisi dasar musik rock, begitu pula jadinya dengan post-metal. Jika kalian mencari-cari musik metal dengan injeksi ambient, noise, psikedelia, unsur progresif, dan lain sebagainya post-metal adalah starting point yang pas untuk memulai pencariannya.

Tak jarang, post metal dikaitkan dengan subgenre lain seperti sludge metal, drone metal, progressive metal, art metal, hingga metalgaze dan blackgaze. Ketersambungan yang hadir dari post metal dengan berbagai cabang lain ini membuktikan bahwa post metal merupakan sebuah ruang eksplorasi, menjadikannya salah satu perpecahan metal yang paling segar, bahkan hingga sekarang.

4. Glitch

Ketika teknologi dan komputerisasi mendapatkan tempat dalam jagad musik di era 90-an, batasan-batasan dalam musik secara umum seakan didobrak; era digital membuka banyak kesempatan baru, membuat lapangan bermain para musisi menjadi luas. Glitch merupakan salah satu hasil eksplorasi yang hadir dari digitalisasi tersebut. Diprakarsai oleh seorang produser asal Jerman, Achim Szepanski, banyak musisi-musisi, ia membuka jalan bagi banyak musisi-musisi glitch yang memainkan “suara-suara” eksperimental--menggabungkan pendekatan techno, minimalism, dan kolase digital dari bebunyian-bebunyian unik, kemudian menyusunnya menjadi sebuah karya sonik tak jarang berada jauh dari standar konvensional.

Kelahiran glitch dan estetikannya yang unik seakan menjadi pangkal baru dalam perkembangan elektronik, membuka banyak celah untuk menjelajah dan terus mendorong batasan. Tertarik mendalami Glitch? Coba telususri karya-karya dari musisi macam Achim Szepanski dan Oval, atau coba cicipi kompilasi Clicks_+_Cuts  milik label asal Jerman, Mille Plateaux.

5. No Wave

Meledaknya budaya punk di tahun 70-an melahirkan berbagai macam jalur baru dalam sejarah perkambangan musik rock. Diantara banyaknya cabang yang muncul darinya, adalah subgenre no wave yang hadir sebagai saudara paling avant-garde dan eksperimental ketimbang yang lainnya. Sebagaimana new wave dan post-punk, ia beredar kencang di Britania Raya, namun di saat post-punk membuka halaman punk yang bernuansa gelap dan kelam, no wave menjauh dari semua itu dan menaruh fokusnya pada bebunyian murni dan eksperimental yang dapat dicapai melalui gitar elektrik. Itu, dan konstruksi karya yang lebih bebas tanpa tatanan--menjanjikan kekacauan yang berestetika.

Salah satu rekaman paling prominen dalam subgenre ini adalah kompilasi No New York yang disusun oleh Brian Eno pada tahun 1978, yang dianggap mampu mendokumentasikan skena no wave New York dengan akurat. Selain itu, grup rock kenamaan Sonic Youth pun mendapuk unsur-unsur no wave ke dalam rock mereka, menjadikan mereka salah satu nama paling revolusioner dalam daftar musisi rock secara umum.

***

Itulah lima subgenre unik edisi SUPERMUSIC yang bisa kalian telusuri selama masa karantina. Mengingat luasnya perkembangan musik kita, tentu masih ada banyak cabang-cabang unik lainnya yang bisa kalian jelajahi dalam masa-masa sulit ini. Apa subgenre unik yang jadi pilihan kalian kalau sedang bosan? Coba suarakan di kolom komentar di bawah, ya!

0 COMMENTS