8 Album Lokal 2018 Pilihan SUPERMUSIC

8 Album Lokal 2018 Pilihan SUPERMUSIC

  • By: Redaksi SUPERMUSIC
  • Rabu, 26 December 2018
  • 3282 Views
  • 6 Likes
  • 2 Shares

Tahun 2018 merupakan tahun yang beragam bagi kancah musik tanah air. Namun, ada satu hal yang patut disepakati bersama: tahun ini adalah tahunnya hip hop Indonesia. Berbagai highlight, dari rilisnya album-album keren sampai insiden diss antara sejumlah rapper mewarnai perjalanan hip hop di 2018. Untuk itu, SUPERMUSIC memilih sejumlah album hip hop lokal yang mencuri perhatian di tahun ini.

Selain itu, tentu ada album dari genre lain, alternative rock maupun metal, senior maupun junior. Bahkan tak hanya dari Jakarta dan Bandung, ada satu nama yang muncul dari Jawa Timur. Tentu selain album-album di bawah ini, masih ada album-album lokal keren lainnya sesuai selera masing-masing. Di sini SUPERMUSIC mencoba memilih, baik album maupun EP, yang menurut kami tidak boleh dilewatkan begitu saja.

Berikut adalah delapan album lokal 2018 yang dipilih oleh tim redaksi SUPERMUSIC.

*Urutan berdasarkan abjad

1. .Feast - Beberapa Orang Memaafkan

.Feast memang mengharuskan pendengarnya untuk setia dengan kredo “fail again, fail better.” Walau berhasil memangkas kembungnya musisi tamu dan naratif setengah tanggung di Multiverses, .Feast agaknya belum bisa menghasilkan kebaruan di musik mereka, alih-alih mereka memilih formula lain.

Modus EP ini adalah komposisi sederhana, vokal bersaut satu-dua, seimbangkan porsi lirik bertema personal-politis, maka jadilah Beberapa Orang Memaafkan; anthemic dan mudah dinyanyikan. Minimnya perkembangan musikalitas .Feast bisa dilunasi dengan semakin tajamnya mereka menjajarkan tema-tema personal dan wacana besar tanpa terdengar canggung. Lompatan dari dominasi anti-kemajuan di “Peradaban” menuju tragedi personal di “Beberapa Orang Memaafkan” diperhalus lewat efisiensi musik .Feast. Cara .Feast mengartikulasikan topik besar dan personal di mini album ini, tentu akan menjadi standar baru di album mereka berikutnya.

2. Anomalyst - Cipta Rasa Karsa

Sandingkan album Segara dan Cipta Rasa Karsa maka wajar pendengarnya akan berasumsi keduanya dikerjakan oleh dua band berbeda. Setelah menggenjot habis sound rock enerjik 2000-an awal di Segara, Anomalyst bertransformasi total, jika tak ingin menyebut berubah jadi band lain, di Cipta Rasa Karsa. Diambil dari ungkapan dalam filosofi Jawa yaitu kekuatan mencipta dalam diri manusia, agaknya Anomalyst berhasil mencipta ulang sound mereka.

Tak disangka bahwa pergantian personel dan putar balik ke arah nuansa yang dipopulerkan album-album solo Mondo Gascaro ini justru bekerja sangat baik di tangan Anomalyst. Single perdana yang mereka perkenalkan, "Ikebana" memperdengarkan sound-sound cerah rock megah era 80-an yang diperas hingga saripatinya. Bahkan di lagu "Komedi Putar", hasil kolaborasi dengan multi-instrumentalis Widi Puradiredja (Maliq & D’Essentials), Anomalyst bereksperimen dengan ramainya bebunyian synthetizer, vokal berefek vocoder dan ketukan drum machine. Kesegaran inovasi, feel-good music dan keberanian merombak diri sendiri adalah faktor-faktor penting dapat mereka hadirkan di Cipta Rasa Karsa.

3. BAP. - Monkshood

Monkshood bisa jadi adalah salah satu album lokal yang paling diperbincangkan di tahun 2018. Adalah Kareem Soenharjo alias BAP., seorang rapper dan produser yang sukses menciptakan sesuatu yang segar di kancah musik hip hop lokal. Jazz menjadi pondasi yang kuat di Monkshood, tapi bukan jazz rap ala A Tribe Called Quest, melainkan free jazz yang eklektik, bercampur elektronik dan bahkan rock.

Dari track pertama, "pagi", kita sudah dikejutkan dengan komposisi free jazz-chaotic-core ala Naked City, seolah menggambarkan kemacetan ibu kota di pagi hari. Berikutnya kita disuguhi dengan beat-beat hip hop yang sarat sample, dengan kemunculan rapper tamu seperti Joe Million, Shotgundre, bahkan unit indie pop Bedchamber. Terasa sekali pengaruh dari Flying Lotus, Madlib, atau BADBADNOTGOOD, tapi dengan suntikan musik cadas yang mengalir di darah BAP., membuatnya jadi "one of a kind" di kancah musik lokal.

4. Burgerkill - Adamantine

Setiap melepas album baru, Burgerkill kerap menawarkan perkembangan dan fine tuning atas musikalitas mereka. Setelah melewati fase transisi di Venomous, tampaknya persilangan hardcore dan metal ala Burgerkill, sebuah “Smoking Metal Engine” berhasil beroperasi dengan mulus. Gaya vokal pengait koor massal dan pasase clean singing mereka kurangi. Elemen ini digantikan dengan eksplorasi komposisi (cek interlude menyayat “Celestial”), serta penajaman komposisi dan eksekusi.

Burgerkill menerapkan intensitas struktur hardcore dengan riff-riff garang dan instrumentasi dengan skill di atas rata-rata. Di album ini, Burgerkill berhasil mengkodifikasi identitas musik dan sound mereka sekaligus mencapai standar baru di kancah metal Indonesia; konsisten, terus berkembang, dan tidak membosankan.

5. Coldiac - O

Datang dari Malang, Jawa Timur, Coldiac menyeruak dengan musik yang bisa dibilang "kekinian." Synth pop dengan sentuhan r&b dan alternative rock ala The 1975 dan LANY, membuat Coldiac terdengar segar. Kelebihan mereka adalah cerdas menulis lagu "pop" yang mudah melekat di ingatan.

Tak percaya? Dengarkan saja album O secara utuh. Kematangan mereka tertuang di sini. Berbagai eksperimentasi juga terdengar di sana-sini, tapi tak terlalu berat. Tak akan heran jika nanti mereka bisa bersanding dengan nama-nama besar kancah pop arus utama Indonesia. Malang patut berbangga punya Coldiac.

6. Laze - Waktu Bicara

Rapper lokal paling panas saat ini. Lewat Waktu Bicara, Havie Parkasya alias Laze membuktikan bahwa dia adalah calon raja hip hop Indonesia di masa depan. Dengan kekuatan wordplay-nya, Laze bagai pujangga urban yang bercerita soal asam garam kehidupan. Petuah demi petuah ia muntahkan, walau usianya masih tergolong muda.

"Introgasi" sebagai lagu pembuka seperti sebuah mantra bagi para perantau di ibu kota. "Karena ini kota keras, bila lunak balik rumah." Tak hanya di situ Laze berbicara soal Jakarta, masih ada "Kota Keras", bahkan single "Mengerti" berbicara soal bertahan hidup di kota besar. Seolah Waktu Bicara tidak lagi berbicara sebagai album musik, tapi sebagai sebuah pedoman hidup.

7. Seringai - Seperti Api 

16 tahun "membakar" dan masih enggan padam. Begitulah Seringai. Seperti Api adalah pembuktian Seringai masih menyala dan menghajar dengan musiknya. Setelah terakhir merilis album pada 2012 (Taring), tentu album ketiga Seringai ini sangat ditunggu-tunggu oleh Serigala Milita yang melolong haus akan rilisan dari idolanya. 

Sebenarnya formula yang ditawarkan Seringai di album ini tak beda jauh. Semangatnya masih sama, kritik sana-sini. Tapi ya itulah Seringai, mereka ada untuk mengajak kita berhenti di 15 dan bersenang-senang dengan musik metal. Seperti Api menawarkan itu.

8. SoftAnimal - Nanook

SoftAnimal adalah cerminan perilaku kita di masa ini; cepat, penuh ketidak pedulian, bising, padat kebingungan, dan doyan bicara soal urusan-urusan receh. Sejak single "New Blood" dan "Black & White", potensi serta tenaga SoftAnimal sudah terdengar hingga luber dari speaker manapun yang mereka huni.

Musik yang mereka mainkan jauh dari menawarkan “kebaruan” dan “inovasi,” sejak 1977 meledak sound seperti ini terus hidup dan tak jarang meledak ke telinga mereka yang tengah menggali di kedalaman kanon musik. Maka, yang bisa dilakukan band seperti SoftAnimal adalah ”fine tuning” atau menyetel ulang, mengatur porsi serta menambah (sedikit) pendekatan baru. Jika ada satu frasa yang bisa menggambarkan SoftAnimal, mungkin “kerapian yang berantakan” adalah penanda tepat. Sebab, tak banyak band yang merekam nomor ballad-psikedelik yang dibubuhi dua verse rap dan ditutup verse sederhana tentang melarikan diri, lengkap dengan harmoni vokal satu-dua. 

0 COMMENTS

Info Terkait

superbuzz
943 views
superbuzz
554 views
Supporting Stage
221 views
superbuzz
424 views
superbuzz
316 views