SUPERMUSIC RECAP: 9 ALBUM LOKAL ROCK KEREN 2016

  • By: OGP, JP
  • Jumat, 30 December 2016
  • 5603 Views
  • 1 Likes
  • 0 Shares

Tahun 2016 akan segera tutup buku dalam hitungan hari, namun siapa bilang berbagai macam tragedi dan kisah sedih saja yang ditinggalkan tahun ini. Tahun ini gegap gempita berbagai rilisan album rock lokal bisa dibilang semakin menggigit, dengan kemunculan berbagai band baru, band lama rasa baru, atau band baru dengan personel lawas. Kesemuanya memberikan warna yang tidak sekadar menyajikan musik baru yang fresh, namun juga mengobati kerinduan para fans.

Dengan perpindahan rilisan fisik ke dalam bentuk digital, semakin mudah bagi pendengar untuk mengulik materi musik baru dari band-band favorit mereka. Mungkin sebagian ada yang pesimis dengan pergerakan format rilisan musik ini, namun tidak berarti kualitas yang diusung menjadi setengah jadi. Seperti 9 album rock lokal berikut yang tidak hanya mencuat dan mencuri perhatian para penikmat musik, namun dapat memuaskan dahaga para fans musik rock lokal. Seperti dinamika pergerakan berbagai kejadian di tahun monyet api yang agresif dan nakal.

 

9. Indische Party – ANALOG

Dari judul album ke-dua mereka saja kita sudah bisa membayangkan elemen apa saja yang akan diusung kuartet rock & roll asal Ibukota ini. Dengan sosok David Tarigan di belakang produksi album Analog, 10 track yang mereka bawakan masih kental dengan elemen rock & roll klasik. Nuansa vintage yang mungkin terdengar seperti oase di tengah rilisan garang, atau yang terlalu mengikuti arus melulu.

Formula yang dipikirkan dengan matang membuat Indische Party menjadi satu-satunya band Indonesia yang paling serius mengusung rock & roll 1960-an yang tidak bisa dipandang sebelah mata. Dengarkan sendiri di track ala film Pulp Fiction “Serigala” yang matang secara suara dan konsep. Tak lupa kolaborasi di belakang track catchy mereka, seperti kolaborasi John Navid (White Shoes and the Couples Company) di track "Babe You Got A Hold On Me Somehow", Indra Perkasa (Tomorrow People Ensemble) lewat aransemen string di lagu "Ingin Dekatmu", dan tentu saja lirik besutan Jimi Multhazam (Morfem) di track pembuka "Terkapar Sudah".

 

8. Petaka – Sebuah Dedikasi

Masih lekat di dalam ingatan. Setahun silam sebuah supergroup bernafaskan hardcore punk asal Jakarta. Petaka pun dibentuk. Formasi mereka sebenarnya beranggotakan ‘wajah lama’ di skena undergound lokal. Sebelum mereka menelurkan karyanya, Petaka sering tampil dari panggung ke panggung. Penampilan mereka begitu impresif. Maka wajar jika para penggila musik bawah tanah menaruh harapan begitu besar pada debut album kuartet tersebut. Album mereka diantisipasi oleh banyak kalangan musikus.

Namun seiring berjalan, Petaka kehilangan salah satu personil vital mereka Rully Annash. Destroy 2015 akhirnya bertransformasi menjadi Sebuah Dedikasi. Sesuai titelnya, album ini ditujukan teruntuk almarhum Rully Annash sang penggebuk drum. LP Sebuah Dedikasi memuat 14 track agresif tanpa basa-basi. Nomor-nomor yang disajikan terbilang memiliki durasi singkat. Namun tak menjadikan debut perdana album ini jauh dari kata kualitas. Terdengar raungan khas hardcore punk yang membludak pecah, disadur iringan tempo kencang bernyali. Dibawakan secara epik oleh unit Petaka tentunya.

 

7. Adrian Adioetomo – Apaan?

Genre musik Rock & Roll sudah pasti tidak bisa lepas dari elemen blues. Jika kita membayangkan Elvis yang bergoyang dengan jambulnya, Adrian Adioetomo membawakan Blues dengan sengatan yang berbeda. Meneruskan rilis album pertamanya di tahun 2007 berjudul Delta Indonesia, serta album Karat Dan Arang pada tahun 2013, album berjudul Apaan? ini rilis 18 November lalu dengan kembali membawakan genre delta blues.

Delta blues sendiri sering disebut sebagai awal dari musik blues di Amerika, dengan dominasi sound gitar akustik. Walau hanya mengusung empat track "Tanah Ilusi", "Mata Kebencian", "Tanpa Pandang Bulu", dan "Blues Blues," lirik-lirik yang mengisyaratkan kegelisahan bisa membuka pandangan kita terhadap dunia sekitar. Album refleksi yang hangat dan membumi.

 

6. The Trees & The Wild – Zaman Zaman

Rilis 16 September lalu di bawah Blank Orb Recordings, album teranyar The Treess & The Wild terasa lebih ambisius ketimbang Rasuk (2009) yang cenderung lebih mudah untuk diproses. Ditangani sendiri oleh mereka sendiri, sound yang diangkat lewat album yang diberi judul Zaman Zaman ini terdengar lebih kompleks secara layer dan komposisi. Energi ini terdengar paling kentara di sound yang atmospheric dengan narasi yang lebih seperti menggambarkan emosi secara sinematik ketimbang bercerita.

Track “Empati Tamako,” walau terdengar seperti mantra yang terus diucapkan, string section yang menghipnotis seperti memperkenalkan kita dengan The Trees & The Wild versi ekstrim dalam kedalaman emosi. Tujuh komposisi yang saling bertautan menjadi satu perjalanan utuh yang wajib didengarkan dari awal hingga akhir. Mulai dari track pembuka “Zaman Zaman,” track agresif “Monumen” hingga yang melodramatic seperti “Srangan.”

 

5. Morfem – Dramaturgi Underground

Layaknya sebuah sihir abrakadabra sakti, “Morfem datang, semua senang!” memang benar terbukti daya magisnya. Sejak pertama kali kemunculannya di blantika musik nasional, Morfem selalu berhasil mencuri perhatian para penggila musik tanah air. Mungkin tanpa The Upstairs sekalipun, Jimi Multhazam sang pentolan pun mampu berdiri tegak bersama Morfem. Unit yang dikomandoinya kini menjadi taring di skena alternatif nasional.

Lewat opus volume ketiga bertitel Dramaturgi Underground mereka seolah ingin menunjukan band yang produktif dan penuh terobosan tentu tak bakal sirna ditelan zaman. Di album teranyarnya ini Morfem kian matang ditempa konsistensi yang telah mereka jaga sekian tahun. EP ini sendiri menawarkan formula ugal-ugalan khas Morfem, namun tetap mewah ketika dicerna telinga. Maka tak heran, Dramaturgi Underground dicap sebagai album paling matang dari sekian album yang pernah mereka telurkan. Permainan diksi Jimi dan aransemen megah dari Pandu Fuzztoni tetap menjadi nyawa tersendiri dari pasukan Morfem. 

 

4. Rajasinga – III

Lama tak muncul di muara permusikan nasional. Trio grindcore Rajasinga kembali menebar teror lewat album terbaru mereka III. Kelompok gahar asal Kota Bandung ini terakhir melepas Rajagnaruk di tahun 2011 silam. Lewat formulasi yang berbeda kini Rajasinga mencoba bereksplorasi habis-habisan di keseluruhan materi teranyarnya. Dijejali 14 nomor dengan kekuatan grind khas Rajasinga, serta artwork khas berestetika tinggi dari Morgg seolah membuat album III padu padan dengan tema yang diusung oleh Rajasinga.

Dipersenjatai lengkap oleh track-track mumpuni seperti – “Stoned Magrib”, “Weekend Rocker”, “Masalah Kami Di Negri Ini” dan “III : Dosa (Penghapusan)” menjadi titik balik sang raksasa grindcore nasional yang sempat tertidur pulas. Selain tentunya lantunan kebut-kebutan ala grind yang menggelegar, bagi para penggila rilisan fisik tentu hal yang wajib memiliki keseluruhan entitas album III milik Rajasinga.  

 

3. Taring – Orkestrasi Kontra Senyap

Trio hardcore asal Kota Kembang, Taring pun tak mau ketinggalan menyumbang album teranyarnya masuk ke jajaran podium rilisan lokal terbaik 2016. LP bertajuk Orkestrasi Kontra Senyap menjadi lanjutan album mereka sebelumnya. Eksplorasi di album terbaru kian terasa maksimal, terbukti dengan riff-riff buas pada struktur lagu, dan yang terpenting konsep lirikal yang lugas lekat dengan kehidupan sekitar kita.

Agresi penuh kemarahan kelompok Taring mengingatkan kita kembali dengan era hardcore punk 90’an dengan sentuhan metal khas Sworn Enemy, Throwdown dan Indecision. Orkestrasi Kontra Senyap merupakan album dengan penulisan lirikal yang eksplisit namun tetap peka terhadap isu sosial terkini. Diintrepertasikan secara fasih oleh unit Taring. Susunan narasi penuh emosi memunculkan kesan yang megah dipadu balutan aransemen yang terlampau powerful.

 

2. Efek Rumah Kaca – Sinestesia

Satu kata, ‘merinding.’ Tanpa banyak bicara, album terbaru ERK yang diberi titel Sinestesia ini seperti berhasil mengajak kita para pendengar bermain emosi dan cerita lewat warna. Dirilis di minggu penghujung 2015, tepatnya pada tanggal 18 Desember, daya magis mereka terus bergema hingga 2016. Dengan proses rekaman yang terbilang panjang, Sinestesia mengajak para penggemar ERK untuk merasakan perubahan mereka dari album pertama, kedua hingga gaya bermusik di album ketiga, di mana penggemar bisa mengembara lewat imajinasi mereka masing-masing.

Layaknya opus, 6 track berdurasi panjang ini juga diwakilkan lewat konsep kemasan album yang bermain. Dengan menggunakan konsep warna lewat track “Merah,” “Biru,” “Jingga,” “Hijau,” “Putih,” dan “Kuning,” kita bisa merasakan inspirasi band progresif rock yang identik dengan lagu berdurasi panjang seperti Yes, Genesis, dan Pink Flyod. Sebuah maha-karya yang semoga dapat muncul lagi di album ERK selanjutnya, walau mungkin tidak pakai lama.

 

1. Deadsquad - Tyranation

Garang, panas, membakar, album terbaru dari salah satu band Technical Brutal Death Metal terbaik nusatara Deadsquad berjudul Tyranation ini memang tidak bisa didengarkan sembarangan. Elemen magis dan distorsi seperti disulap menjadi satu kesatuan melodi, Deadsquad lagi-lagi kembali dengan tegas. Faktor produksi menjadi kunci sengatan album ini, dengan proses pembuatan musik underground dengan daya yang maksimal. Terlebih dengan nama besar musisi tamu seperti Sujiwo Tejo, Andra Ramadhan, Dewa Budjana, Adam Vladvamp (Koil), hingga Coki Bollemeyer

Sebagai album penting yang menggambarkan perjalanan Deadsquad, Tyranation positif menjadi jembatan bagi Deadsquad mengeruk pasar yang lebih luas. Dibuka dengan "Enter the Wall of Tyranation (Jancuk)", persiapkan telinga untuk terkesima dengan track "Natural Born Nocturnal,” “Menyangkal Sangkakala,” dan tentu saja “Tyranation.” Tidak salah kita akan ngeri mendengarkan rentetan distorsi Deadsquad, yang mungkin bisa mewakili pandangan publik terhadap tahun 2016 yang dipenuhi kejadian tragis.

 

Honorable Mentions:

AK//47 - 'Verba, Volant, Scripta, Manent

Tika and the Dissidents - 'Merah

Hellcrust – Kalamaut

Dead Vertical – Angkasa Misteri

Endank Soekamti – Soekamti Day

Elephant Kind – City J

0 COMMENTS

Info Terkait

superbuzz
236 views
supernoize
1142 views
superbuzz
800 views
supershow
1011 views
supershow
1993 views
supernoize
1189 views