folklore

Aaron Dessner, Sosok Penting di Balik Album 'Indie' Taylor Swift, ‘folklore’

  • By: NND
  • Selasa, 28 July 2020
  • 204 Views
  • 0 Likes
  • 2 Shares

Salah satu nama terbesar kancah pop dunia, Taylor Swift, baru saja meluncurkan album terbarunya pada hari Jumat (24/7) kemarin. Folklore judulnya, dan seperti kebanyakan musisi aktif lain, ia merupakan sebuah album yang keutuhannya dikerjakan selama menjalani proses karantina. Namun berbeda dari album-album Swift sebelumnya, folklore dicanangkan jadi album “indie” sang popstar.

Kita semua telah (dan masih) merasakan masa-masa karantina. Banyak yang terjadi ketika terpaksa mengisolasikan diri; pergantian jadwal dan rencana, ide-ide liar bermunculan, hingga membangun koneksi baru. Ya koneksi baru--meskipun serba daring. Itupula yang terjadi pada Taylor Swift hingga bermuara pada album nomor delapannya ini.

Berbicara koneksi baru, adalah Aaron Dessner, gitaris dan penulis lagu dari grup indie rock kenamaan The National. Bersama Jack Antonoff (Bleachers, fun, salah satu produser folklore), sosok Aaron cukup penting dalam folklore, ia terlibat dalam 11 dari total 16 track yang mengisi repertoarnya. Singkat kata, barangkali masuk akal jika menyatakan bahwa kehadiran Aaron Dessner dalam proses penulisan album ini jadi titik sentral yang memberikan suntikan “indie” ke dalamnya.

Hasilnya? Sebuah album yang karismatik. Membandingkannya dengan album-album Swift sebelumnya, folklore terkesan minimalis. Nuansanya lebih gloomy dan dingin, menampilkan estetika yang berbeda dari Swift dan musiknya yang awal dikenal melalui sajian musik country, lalu menjadi singer-songwriter/popstar kelas dunia melalui musik pop yang festive.

Folklore menampilkan banyak ruang mendalam dari strings, petikan gitar yang terisolir, dan suasana yang lebih gelap. Meskipun gaya songwriting Swift--terutama pada skema lirik--tidak banyak berubah, folklore menjadi warna baru dalam diskografi sang popstar. Suara-suara drone/ambient, estetika muram, dan musik yang personal--inilah yang hadir dari Taylor Swift ketika bermain dengan aturannya sendiri.

Dalam wawancaranya dengan Pitchfork, Aaron Dessner mengaku sudah mulai berkolaborasi dengan Swift untuk folklore semenjak awal Maret, bersamaan dengan proyek Big Red Machine-nya dengan Justin Vernon (Bon Iver, yang juga turut menyumbang vokal di folklore). Ketika masuk masa karantina, Aaron mulai menulis banyak lagu di studionya, sehingga ketika Swift menghubunginya untuk bekerja sama, ia sudah memiliki segudang materi di kantong.

Aaron dan Swift berhubungan tiap hari selama tiga sampai empat bulan melalui pesan teks dan jaringan telepon. Mereka membahas apapun itu dari produksi hingga struktur lagu. “Kita merasa inilah karya terbaik kita masing-masing. Rasanya aneh dan surreal, terutama di waktu-waktu seperti ini,” terangnya.

Penggarapan folklore berjalan di balik layar. “Tidak ada pengaruh luar sama sekali,” ujar Aaron ketika ditanya bagaiman rasanya bekerja dengan Swift secara rahasia. “Bahkan, tidak ada yang tahu, termasuk labelnya, hingga beberapa jam sebelum albumnya meluncur. Untuk seseorang yang sudah berada di bawah sorotan dunia selama 15 tahun penuh, mungkin rasanya sangat lega untuk bisa bekerja dengan privasi dan aturannya sendiri. Dia berhak atas ini semua.”

Aaron menambahkan: “Ada waktunya saat saya ingin memperdengarkan materinya kepada teman-teman. Jadi agak sulit karena tidak bisa mengirimkan file dengan vokalnya. Sedikit seru juga, semua mulai menebak-nebak proyek ini dan menjadi seperti sebuah permainan.”

Dengarkan keutuhan folklore di kanal YouTube Taylor Swift, atau di layanan streaming musik favorit kalian. Pantau terus SUPERMUSIC untuk artikel-artikel seru seputar musik pop lainnya!

 
0 COMMENTS