AFI (A Fire Inside) Resmi Luncurkan Album Ke-11

AFI (A Fire Inside) Resmi Luncurkan Album Ke-11

  • By:
  • Minggu, 27 June 2021
  • 155 Views
  • 0 Likes
  • 0 Shares

Penikmat musik post-hardcore atau emo di akhir tahun 1990-an hingga awal 2000-an tentu tidak asing dengan nama AFI (A Fire Inside). AFI (A Fire Inside) merupakan band asal Amerika Serikat yang cukup berhasil mengangkat popularitas skena musik emo ke ranah mainstream berkat karya-karyanya yang diputar di berbagai media kontemporer, seperti televisi dan radio saat itu. AFI (A Fire Inside) yang dibentuk di tahun 1991 ini ternyata masih senantiasa aktif untuk bermusik. Hal tersebut dibuktikan oleh AFI (A Fire Inside) dengan merilis single baru pada akhir Mei lalu.

Single yang dirilis AFI (A Fire Inside) pada tahun 2021 ini hadir dengan judul Tied To A Tree yang juga digunakan oleh band emo tersebut sebagai penyambut album terbaru mereka yang baru saja rilis pada 11 Juni lalu berjudul Bodies. Beberapa media dan kritikus musik mancanegara cukup terkejut dengan karya baru yang dirilis oleh AFI (A Fire Inside). Tidak hanya datang secara tiba-tiba, single terbaru dari AFI (A Fire Inside) dianggap sebagai sebuah pesan penting yang ingin diutarakan oleh AFI (A Fire Inside) sebagai representasi dari kehidupan di dalam band tersebut. Jade Puget selaku gitaris di dalam tubuh AFI (A Fire Inside) menjelaskan bahwa Tied To A Tree dipilih bukan karena para anggota band sepakat bahwa lagu tersebut merupakan lagu favorit mereka. Alasan utama AFI (A Fire Inside) merilis Tied To A Tree karena lagu tersebut berhasil merepresentasikan perubahan yang terjadi di dalam band baik tentang arahan bermusik yang coba diusung maupun dinamika lain yang memengaruhi kehidupan para anggota di dalam AFI (A Fire Inside).

Jade Puget juga menyoroti selisih 4 tahun yang dibutuhkan oleh AFI (A Fire Inside) dalam merilis album baru. Sang gitaris mengungkapkan bahwa sudah jadi budaya dan tradisi dalam berkarya untuk AFI (A Fire Inside) tidak merilis album maupun lagu yang memiliki kesamaan dengan karya-karya mereka sebelumnya. Demi mendapatkan perbedaan yang diinginkan para anggota AFI (A Fire Inside) pun memerlukan waktu untuk mendapat pengalaman hidup baru secara personal yang dapat memperluas sudut pandang mereka dalam melihat kehidupan. Pengalaman hidup yang mendapat tempaan oleh waktu dan lingkungan itu juga yang kini diaplikasikan oleh AFI (A Fire Inside) dalam menggarap album ke-11 mereka. Jade Puget juga menyatakan bahwa penting bagi AFI (A Fire Inside) untuk menilai kualitas materi berdasarkan apa yang telah mereka lalui. Pasalnya, AFI (A Fire Inside) selalu menginginkan untuk membuat karya yang memiliki aspek relevansi tidak hanya pada lingkungan, tapi juga tentang hal yang berdampak kepada mereka sendiri. Hal tersebut juga yang membuat AFI (A Fire Inside) terus mencoba jadi unit yang konsisten hingga hari ini untuk selalu berjalan selaras dengan perubahan.

Dengan perubahan yang terjadi dalam aspek budaya dan kehidupan masyarakat di masa pandemi, Davey Havok selaku vokalis dan frontman bagi AFI (A Fire Inside) pun mencoba untuk terus belajar memahami dan menerima apa yang telah jadi kebiasaan baru di lingkungannya. Davey Havok dan AFI (A Fire Inside) menghabiskan kurang lebih 1 tahun untuk menyiapkan materi final yang masuk ke dalam album Bodies. Vokalis dari AFI (A Fire Inside) tersebut mengungkapkan bahwa hidup dalam isolasi selama 1 tahun sembari fokus menulis karya untuk album merupakan pengalaman yang melelahkan dan kerap kali membuat kreativitas menjadi buntu. Menjalani kehidupan sebagai musisi tanpa bepergian dalam tur konser cukup memberikan dampak buruk secara emosional bagi vokalis AFI (A Fire Inside). Selama menjalani kehidupan di dalam isolasi vokalis AFI (A Fire Inside) tersebut lebih banyak menghabiskan waktunya dengan membaca, menonton film, dan berkontemplasi. Davey Havok mengakui bahwa hanya sedikit waktu yang dirinya bisa proyeksikan untuk mengerjakan aktivitas kreatif seperti bermusik. Selain itu, terpisahnya ruang dan waktu antara anggota band AFI (A Fire Inside) lainnya juga menjadi salah satu pemicu mengapa terjadi kebuntuan dalam proses kreatifnya. Kesulitan bertemu anggota AFI (A Fire Inside) satu sama lain ini didasari dari domisili mereka yang berbeda-beda dengan Davey Havok yang memilih untuk tinggal di kota Los Angeles dan teman-temannya yang tinggal di kota lain. 

Selain itu, Davey Havok pun mau tidak mau harus berdamai dengan masih tertidurnya industri musik live. Vokalis AFI (A Fire Inside) tersebut menjelaskan bahwa dalam setiap menulis lagu atau merilis sebuah album, dirinya memiliki pola pikir bahwa lagu tersebut memiliki energi terpendam yang harus dikeluarkan di atas panggung. Menurutnya sebagai seorang performer, esensi dari sebuah karya adalah dipertunjukkan. Jika tidak ada hal yang dapat mengakomodasi tersebut, maka karya yang telah ditulis dengan susah payah tidak lagi memiliki esensinya sebagai karya. Meskipun mengalami keterbatasan akibat pandemi, Davey Havok pun berhasil menghadirkan sesuatu yang jauh berbeda dalam proses penggarapan lagu untuk album terbaru AFI (A Fire Inside). 

Sang vokalis menjelaskan bahwa lirik-lirik yang ditulisnya kini untuk album ke-11 AFI (A Fire Inside) memiliki pesan yang cukup lugas. Siapapun bisa langsung dapat menerima isi dari apa yang coba disampaikan oleh Davey Havok. Meskipun terkesan simple, nyatanya vokalis AFI (A Fire Inside) tersebut juga menghadirkan unsur dualitas untuk memperluas makna dan jangkauan pemahaman dari penggemarnya. Unsur dualitas tersebut digunakan oleh Davey Havok sebagai bentuk representasi solid yang ada di dalam kehidupan. Menurut sang vokalis AFI (A Fire Inside), hampir seluruh aspek kehidupan di dunia memiliki dua sisi yang saling bertolak belakang. Hal tersebut yang ingin diungkapkan sebagai tema utama dari album terbaru AFI (A Fire Inside).

Image courtesy of AFI (A Fire Inside)

0 COMMENTS