The Adams

'Agterplaas', Obat Kerinduan Fans The Adams

  • By: NND
  • Minggu, 31 March 2019
  • 643 Views
  • 2 Likes
  • 0 Shares

The Adams, unit fuzz-rock/power pop kawakan asal Jakarta kembali keatas permukaan dari rehat panjang dan merilis album terbaru pertama setelah hibernasi selama 13 tahun. Hadir dalam format CD dan box set, Agterplaas adalah album ketiga The Adams.

Kini berisi Ario (vokal/gitar), Saleh (vokal/gitar), Gigih (vokal/drums), dan Pandu (vokal/bass), The Adams membungkus 11 lagu dalam total durasi 47 menit. Kedua trek single, yaitu "Masa-Masa", dan "Pelantur", turut rilis dengan video lirik.

Nomor pembuka, “Agterplaas” merupakan anarsemen instrumental khas The Adams yang berkisar dua menit 21 detik. Gebukan drum yang menyentak menjadi instrumen pertama yang unjuk taring, selanjutnya distorsi gitar apik menyalip bersama siraman synth yang "bahagia".

Lagu upbeat ini berhasil menempatkan mood yang tepat untuk menikmati sepuluh lagu berikutnya. “Agterplaas” juga memuat progresi kord gitar sumbang-tapi-enak, berpadu synth yang mengajak berdansa.

Berikutnya, dua single Agterplass, "Masa-Masa" dan "Pelantur" dibariskan bergandengan. "Masa-Masa" memuat chorus yang catchy, sembari melanjutkan suasana girang trek pertama. Chorus ini menebarkan nuansa nostalgia, tumpah dari bebunyian synth--seperti sebuah pelengkap lirik yang memang bermain dengan konsep masa lalu, sekarang, dan masa depan.

Sedangkan "Pelantur" justru menggalak dengan gebrakan yang berbalapan dengan distorsi gitar. Irama synth sedikit disembunyikan sehingga menimbulkan efek kasar yang nikmat,  dan permainan gitar menjadi aktor utama lagu ini.

Lagu keempat Agterplaas dibuka dengan deru mesin. "Lingkar Luar" bercerita perihal jalanan kota yang sesak. Masih dengan tempo upbeat, lagu ini diisi permainan synth yang segar ketika verse dinyanyikan, dan setibanya di bridge kocokan gitar dibuat semrawut ala jalanan kota. Skema serupa juga diterapkan di bagian outro lagu ini.

Barulah di nomor kelima, The Adams menginjak rem dan menurunkan tempo. "Esok" dikemas sedikit dreamy, lengkap dengan vokal berlapis khas The Adams. Alunan gitar mengawang, tapi distorsi tidak dikandangkan dan masih terasa kuat. Memasuki separuh lagu, build-up digiring ke klimaks hanya untuk didaratkan dengan pas. Pembagian vokal yang saling saut-menyaut menjadi penutup dengan fade-out yang dibungkus reverb; pada akhirnya sebuah penutup yang halus.

"Dalam Doa" masih bergerak dalam denyut terukur, vokal berlapis kembali mendominasi seakan menjadi senjata pamungkas The Adams untuk meramu lagu bertempo rendah yang aduhai. Alunan gitar mendayu bersinergi manis dengan drum yang dibebaskan memukul apa saja dengan lemas. Kita digiring "menyeret", membuat kita terus menunggu kehadiran nada selanjutnya.

Merasa kenyang dengan tempo rendah, The Adams angkat kaki dari pedal rem. Lagu ketujuh, "Gelap Mata" mengembalikan ketukan cepat, seketika terasa akrab dengan album lama mereka: 'solo' keras dengan feedback memuncak ala Pavement yang dipotong seketika masuk kembali dalam chorus. Sangat disayangkan durasi “puncak” yang terlalu singkat, tapi chorus sederhana tampaknya cukup untuk menanggapinya.

Lagu kedelapan berisi sound fuzzy yang sangat kental, "Sinar Jiwa" adalah lagu paling "kasar" Agterplaas. Meski bertempo sedang, distorsi lagu ini benar-benar mencakar. Kocokan gitar rhythm renyah memaksa kepala maju mundur, irama vokal dan synth beri keseimbangan lewat alunan nada yang ringan. Mendekati ujung, aransemen dikemas semakin ramai hingga chorus terakhir yang dipupuskan perlahan.

Berikutnya "Sendiri Sepi", lagu tersingkat Agterplaas, diisi penuh oleh vokal dan piano. Laju kembang lagu ini membuahkan vokal yang dipecah macam Queen, yang cukup manis ditangkap telinga. Lagu tersingkat ini berhimpit dengan trek berdurasi paling lama, "Pespona Persona" yang masuk dengan drum roll dan lead ala classic rock. Intro yang berwujud build-up pecah saat gitar meraung, yang disambut vokal ciri khas The Adams. Waspada dengan solo di tengah trek ini, juga gebukan drum sembrono dan runutan nada yang disajikan saat gitar disorot; bagian ini adalah yang paling intens. Kompleksnya solo gitar ini juga dijadikan penutup layaknya sedang melepas improvisasi jazz progresif yang sungguh berada diluar karakter mereka.

Karakter asli The Adams benar-benar muncul di lagu terakhir album ini. Melandaskan penutup album mereka dengan paduan vokal memang terpatri sebagai ciri khas mereka. Mendayu ringan dengan dorongan distorsi yang pas seakan membuat kita mengingat ulang "kerinduan" yang kerap dirasa selama 12 tahun menunggu Agterplaas.

Album ketiga The Adams ini tidak menyuguhkan perubahan signifikan dalam segi sound dibanding dua album pendahulunya. Distorsi masih menjadi taring untuk chord-chord yang membuat pendengar terpukau, lirik-lirik dengan diksi mantap disuguhkan disalurkan via vokal berlapis. Intinya, apa yang sering digandrungi oleh The Adams, tampak jelas dalam album ini. Agterplaas, yang berarti "taman belakang" dalam bahasa Afrika Selatan, merupakan sebuah album yang sangat segar untuk menyikapi penantian akan album baru mereka.

0 COMMENTS

Info Terkait

supershow
1625 views
superbuzz
644 views
supernoize
886 views
superbuzz
387 views