ALBUM REVIEW: Code Orange - Forever

  • By: NTP
  • Selasa, 24 January 2017
  • 3101 Views
  • 0 Likes
  • 0 Shares

Album Review: Code Orange - Forever

Nilai: 7.7/10

Forever adalah sebuah pernyataan tegas dari Code Orange (sebelumnya bernama Code Orange Kids). Album ini adalah rilisan pertama Code Orange setelah berpindah label dari Deathwish Inc. ke Roadrunner Records. Kuartet asal Pittsburgh, Pennsylvania, Amerika Serikat ini membangun komposisi hardcore yang dinamis, selagi mempertahankan sound intens dan berat.

Permainan duo gitaris Eric Balderose dan Reba Meyers menjadi titik pusat album Forever. Riff-riff berat hardcore berlumur crust dan sludge berpadu dengan mix bersih menghasilkan sound yang bertenaga. Perpaduan sound tersebut mengiringi variasi gaya vokal growl dan teriakan high pitch Eric, Reba dan Jami Morgan (drum) yang bersahutan.

Dalam rentang tiga album, dari Love is Love/Return to Dust (2012) dan I Am King (2014), sound dan gaya komposisi Code Orange bergeser secara perlahan. Sementara di album pertama Code Orange sering menggunakan sound bising power violence dan album kedua diisi oleh bebunyian abrasif dari synthetizer, maka Forever memadukan keduanya dengan dinamika struktur lagu yang bergerak ke segala arah.

Aspek paling mencolok dari gaya komposisi tersebut adalah penggunaan momentum yang khas. Awalnya riff-riff diangkat ke titik klimaks, kemudian tiba-tiba dihujam gitar yang berat dan disonan, sambil sesekali diselingi synth bergaya industrial. Keseluruhan mood dan atmosfer album dapat dikawal dengan tepat oleh permainan synth tersebut.

Setelah itu, Code Orange dengan efektif menggunakan breakdown  sebagai senjata andalan yang datang tanpa peringatan. Code Orange mampu memaksimalkan breakdown untuk menghadirkan klimaks yang tak terduga. Alur ini terdengar jelas di single perdana album ini, “Forever” dan “The New Reality.”

Namun, album ini bukan tanpa cela. Kelemahan terbesar dari beberapa komposisi di album ini, seperti lagu “Real,” “Kill the Creator,” dan “Mud” adalah jeda yang terlampau sering digunakan. Bahkan klimaks lagu “Hurt Goes On” yang diiringi getaran synth industrial, malah terasa dipaksakan. Penggunaan jeda tersebut mengakibatkan klimaks yang sedang dibangun tidak selesai dan terdengar setengah matang. Permainan synth yang cukup gelap pun tidak mampu meraih momentum lagu yang sudah terlanjur lepas.

Secara keselurahan, Forever menunjukkan kemampuan tinggi Code Orange dalam menulis komposisi. Kemampuan membangun riff demi riff untuk kemudian dijatuhkan breakdown senjata utama Code Orange. Namun penggunaan jeda yang terlalu banyak justru menunda klimaks dan akhirnya membuang percuma energi besar album ini.

 

0 COMMENTS

Info Terkait

supershow
188 views
superbuzz
242 views
superbuzz
379 views
superbuzz
390 views
superbuzz
523 views
superbuzz
988 views