Album Review: Converge - The Dusk In Us

  • By: NTP
  • Selasa, 14 November 2017
  • 2233 Views
  • 0 Likes
  • 0 Shares

Epitaph & Deathwish

Nilai: 8.4/10

"We’re too punk for the hardcore kids. We’re too hardcore for the metal kids. We’re too weird for the punk kids."

The Dusk in Us adalah langkah Converge untuk mendorong batas sound yang mereka ciptakan sendiri. Sejak Jane Doe (2001), sound Converge berkembang pesat, menjadi semakin bertenaga dari album ke album dan fokus pada titik krusial persilangan hardcore, mathcore, serta sludge.

Kali ini Converge tetap berhasil menjaga konsistensi sound sekaligus mengintensifkan beberapa area baru seperti drone, dan instrumen akustik. Penjelajahan ini secara konstan melibatkan kegilaan komposisi hibrida punk-metal yang telah menjadi ciri khas Converge.

[bacajuga]

Di album ini, struktur lagu-lagu Converge lebih lugas dan sederhana dibanding rumitnya Axe To Fall (2009) serta megahnya produksi All We Love We Leave Behind (2012). Melalui kerangka ini, mereka melepaskan agresi dengan tepat, pula menjembataninya dengan komposisi akustik/drone. Walau akhirnya langkah ini mengikis sound masif yang melatari keganasan dua album tersebut. 

13 lagu di album ini bergerak sebagai kesatuan yang mengait kebrutalan dengan sisi gelap dan murung atmosfer The Dusk In Us. Modus Converge mempertemukan energi dan akselerasi yang tak terbendung dengan atmosfer pekat (mereka sudah jajal di Axe To Fall) menghasilkan kekuatan  menolak dikerangkeng. Kekacauan dan kegelapan berakhir menjadi euforia.

Konflik, yang menjadi tema utama lirik lagu-lagu The Dusk In Us, terasa hingga ke sudut tersempit komposisi album ini. Lagu-lagu album ini disesaki konfrontasi hingga ke tulang-belulangnya. Emosi ini digunakan oleh Converge sebagai tenaga penggerak album, mereka menerjemahkan elemen ini menjadi struktur lagu yang menusuk dan sound tegas. Produser sekaligus gitaris, Kurt Ballou pun berhasil meracik atmosfer pekat dengan porsi tepat sebagai pelapis terakhir.

Pendekatan lugas yang ditempuh Converge jauh dari kesan kacangan, atau pembelaan ‘kembali ke dasar’ alias melemahnya kemampuan menulis lagu. Pada bagian-bagian terkecilnya, The Dusk In Us merangkum kompleksitas dalam struktur yang lebih sederhana. Mudah diikuti untuk ukuran Converge, dan tetap memiliki organ dalam yang kerap bergolak ke berbagai arah.

Pada akhirnya berbagai elemen dari bagian struktur The Dusk In Us terintegrasi menjadi unit yang bekerja untuk menghasilkan tenaga seefektif mungkin. Struktur ini dirangkai dari kekuatan bagian ritmik drum dan bass Koller-Newton, akrobat gitar Ballou dan gaya bernyanyi Bannon yang kerap berubah.

Kombinasi Koller-Newton terus mencengangkan kita dengan konsisten maju ke depan di tengah pergeseran time signature, dan pergantian mood dari lagu ke lagu. Di album ini vokal Bannon terdengar menyatu dengan instrumen lain, kali ini ia lebih terdengar sebagai penjaga tempo. Sementara itu Ballou memuntahkan labirin riff dan feedback yang sulit ditebak (dan sulit dilupakan).

The Dusk In Us mungkin merupakan album Converge terdingin pasca Jane Doe. Mereka menunjukkan bahwa agresi bisa tidak harus dilepaskan sekaligus. Peran agresi beberapa kali digantikan oleh atmosfer pekat menjadi medium Converge untuk menyampaikan emosi. Penghancuran dan kekacauan mereka salurkan melalui berbagai komposisi, pendekatan ini memungkinkan sound noise dan post-rock lebih meramaikan The Dusk In Us.

Salah satu ciri dari band dan musisi unggul, yaitu perkembangan tanpa mengorbankan kekhasan sound, masih menjadi praktek Converge. Melalui kelugasan struktur, lagu-lagu Converge menjadi agak lebih mudah dinikmati dan emosi mereka (lewat vokal Bannon) pun kerap meluap. Kali ini Converge bahkan terdengar lebih manusiawi, lemah dan rentan. Pendekatan ini sudah mereka gunakan di All We Love We Leave Behind, di mana agresi hanyalah satu dari sekian motif emosi yang menggerakkan album. Mereka menggunakan pisau ini untuk membongkar kegelapan lebih lanjut.

Jika All We Love We Leave Behind banyak melibatkan emosi cerah seperti harapan dan kekuatan, maka justru kegelapan yang kerap hadir dalam The Dusk In Us. Converge mewujudkan dan menghadapi kegelapan di album ini. Namun, mereka tidak meninggalkan kita sendirian, setidaknya kuartet ini menjadi karib yang selalu hadir dan menwarkan kekuatan untuk menghadapi esok hari. Di dalam dunia Converge, perubahan adalah bibit harapan.

0 COMMENTS

Info Terkait

superbuzz
1124 views
superbuzz
509 views
superbuzz
891 views
superbuzz
698 views
superbuzz
654 views
supershow
928 views