Album Review: .Feast - Multiverses (2017)

  • By: NTP
  • Selasa, 10 October 2017
  • 5912 Views
  • 0 Likes
  • 1 Shares

Karma Records

Nilai: 7.5/10

.Feast tidak berada di dunia yang kita tempati. Di album Multiverses mereka berada pada semesta paralel, disertai hukum ruang-waktunya sendiri. Bahkan sang deitas tertinggi, atau Tuhan, semesta ini kerap mewujud (dalam bentuk fisik perempuan) dan biasa diajak berbicara, berdebat dan bernegosiasi.

Mereka tadinya belum berada di semesta ini (disebut sebagai ‘Earth 3’), mereka adalah pengelana waktu dari ‘Earth 2’, melancong ke ruang-waktu yang bukan habitat mereka. Konsekuensinya adalah efek kupu-kupu, berada di linimasa yang bukan asal mereka mengakibatkan .Feast terjebak di dalam Möbius strip. Terus memulai dan berproses lantaran tak bisa selesai.

[bacajuga]

Eksistensi dan pertanggungjawaban atas tindakan (berikut responsnya dari dunia luar) serta hakikat dualitas semesta adalah tema besar yang menggelayuti Multiverses. Monolog samar penuh metafor yang dilafalkan oleh Bhaskara Putra (vokal/synth) mengutarakan tema-tema tersebut, ia berjalan paralel dengan berbagai kejadian di Multiverses.

Tema ini dibangun di atas pertemuan .Feast dengan ‘musuh bersama’. Multiverses adalah cara mereka menghadapi realita sosial-politik Jakarta dan Indonesia hari ini, .Feast memilih membangun realita baru di ‘Earth 3’, mengambil jarak jauh dan mengirim komentar atas kondisi ‘Earth 2’. Mereka kerap mengawasi ruang-waktu ‘asal’ lantaran .Feast “tak kenal jam besuk.” Seberapa kerasnya mereka melepas diri dari ‘Earth 2’ dan membangun ‘Earth 3’, jarak keduanya justru lebih dekat dari urat leher mereka.

Menimbang beratnya hal-hal yang mereka bicarakan di album perdana, keberanian .Feast patut diapresiasi. Band Indonesia yang melepas album konsep sebagai debut hingga kini bisa dihitung jari. Multiverses adalah akumulasi .Feast sejak 2014 dan tiga tahun adalah waktu yang tidak sebentar.

Multiverses menampilkan identitas sonik yang cair. Agaknya .Feast sadar bahwa rock yang mereka mainkan perlu elemen lain. Sudah saatnya karat rock dibersihkan. Tak cukup distorsi keras, .Feast butuh derap hip-hop, halusnya gitar akustik dan selusin musisi tamu dari berbagai spektrum bunyi. Di atas awang konsep ini terbayang baik, tapi tidak untuk Multiverses.

Cairnya sound Multiverses tidak diimbangin dengan identitas solid di mana .Feast bisa berjejak. Bobot dan kedalaman konsep yang dibangun tak turut memperhitungan betapa rapuhnya pijakan mereka. Musik yang mereka mainkan membutuhkan soliditas sebelum memanggul beban konsep dan eksplorasi-eksperimentasi berbobot berat. Hasilnya musik .Feast seperti ditarik ke segala arah, menguras kekuatan mereka hingga berulang kali kepayahan. Ingat babak terakhir 2001: A Space Odyssey (1968)?

Eksperimen .Feast berbuah buruk di beberapa lagu. Sumbangan vokal Karaeng Adjie (vokal, Polka Wars) di “Kelelawar”, tak signifikan lantaran cukup terkubur. Sementara “Upside Down” memperdengarkan komposisi setengah matang, disalip monolog sebelum menemui konklusi logisnya. Sementara “Jerusalem” (sebetulnya menjadi cerminan hakikat dualitas bersama “Tel Aviv”) justru tidak dieksekusi dengan baik, lantaran vokal Rubina dan Bhaskara seakan tak menyanyikan lagu yang sama. Nomor terakhir, “Man of God” mencoba membungkus konsep Multiverses secara keseluruhan, namun masih terlalu samar sebagai pamungkas.

Kasus khusus Multiverses adalah ketidakjelasan pelafalan monolog yang menghantui album ini. Jika saja .Feast memilih narator lain yang memiliki pelafalan lebih jernih maka tulang belakang Multiverses ini tak akan terlalu ‘kena tanggung’. Pilihan untuk menyampaikan monolog ini dalam bahasa Inggris juga memunculkan masalah baru; apakah .Feast menyasar mereka yang mengerti bahasa Inggris saja, atau ada maksud lain dalam penggunaannya?

Kerugian terbesar Multiverses selain itu adalah ketidakmampuan .Feast mengimbangi kekuatan nomor pembuka “Riphunter” (menampilkan produser Mardial, rapper Ramengvrl, dan Bam Mastro, vokalis Elephant Kind). Ironis bahwa komposisi paling inovatif di Multiverses (pula menampilkan rima dan produksi terbaik Mardial-Ramengvrl) justru tak menghadirkan .Feast. Dari sini intensitas album mengalami fluktuasi yang cukup tajam.

Catat struktural Multiverses tentu saja tak mengubur dalam-dalam kemampuan .Feast memainkan hibrida rock dan blues. Solidnya identitas .Feast sebetulnya bisa dimulai di sini. Lagu-lagu seperti “Wives of Gojira (We Belong Dead)”, “Blackwater/Multiverses”, “Fastest Man Alive”, dan “Sectumsempra” menunjukkan sisi .Feast yang lebih menarik dan solid. Nomor terbaik Multiverses tepat diberikan pada “Watcher of the Wall”, yang berisi komposisi terkuat, eksekusi paling bertenaga dan monolog terbaik (dibacakan Oscar Lolang, berkutat dengan konsep dualitas dan keseimbangan) di album ini.

Dengan ini sudah jelas bahwa kekuatan .Feast sebetulnya terletak di komposisi bertenaga, apapun genre-nya. Di album Multiverses, jelas sound blues dan rock lah yang dapat menyalurkan tenaga ini. Anggaplah blues dan rock sebagai ‘Earth 1’, tempat asal para personel .Feast, tujuan akhir dari eksplorasi dan eksperimentasi mereka. Hal ini agaknya luput mereka perhatikan lantaran sibuk bertualang di ‘Earth 2’ dan ‘Earth 3’. Proses sirkuler (loop dari lagu terakhir hingga pertama dan seterusnya) Multiverses membuat .Feast tidak terdengar solid, alih-alih mereka berada dalam lingkar labirin, berputar-putar tanpa akhir.

0 COMMENTS

Info Terkait

superbuzz
1756 views
supernoize
2828 views
superbuzz
4122 views
supernoize
2682 views