ALBUM REVIEW: Full Of Hell - Trumpeting Ecstasy

  • By: NTP
  • Minggu, 14 May 2017
  • 2312 Views
  • 0 Likes
  • 0 Shares

Profound Lore Records

Nilai: 7.8/10

Trumpeting Ecstasy dibuka dengan “Deluminate”, yang berisi kutipan Werner Herzog di film dokumenternya, Burden of Dreams (1982) tentang kejinya kehidupan alam yang belum tersentuh manusia. Pada suatu adegan di tengah hutan, Herzog berkata bahwa sebetulnya harmoni yang kita lihat adalah kekejaman yang mengerikan. Kutipan tersebut tepat mencerminkan pendekatan Full Of Hell dalam mengeksekusi Trumpeting Ecstasy.

[bacajuga]

Di album ketiga mereka, Full Of Hell tetap berada dalam spektrum sound yang sudah mereka gunakan sejak album Roots of Earth Are Consuming My Home (2011). Padatnya agresi grindcore dieksekusi dengan kecepatan tinggi, dan dilatari jeritan serta geraman vokal, akhirnya dilapisi bebunyian noise/industrial/power electronics.

Formula tersebut bekerja dengan baik di album-album kolaborasi mereka, seperti Full Of Hell & Merzbow (2014), dan One Day You Will Ache Like I Ache (2016). Bersama Merzbow, bebunyian noise/power electronics secara efektif menyelimuti atmosfer album tanpa luput. Sedangkan kolaborasi mereka bersama The Body menarik Full Of Hell sedikit keluar dari spektrum tersebut ke arah drone dan sludge.

Trumpeting Ecstasy memperdengarkan Full Of Hell yang sudah tahu cara mematangkan sound agresif hingga tak menyisakan ruang sedikit pun untuk ketenangan. Bersama produser metal kenamaan, Kurt Ballou (Converge), kuartet ini berhasil menggunakan keterbatasan durasi grindcore menjadi efisiensi penggunaan ruang dan struktur lagu. Energi maksimum yang diterjemahkan menjadi agresi total khas Full Of Hell akhirnya menemukan bentuk paling efisien.

Bila di dua album sebelumnya Full Of Hell mengandalkan bebunyian noise/industrial untuk mengisi ruang-ruang kosong struktur lagu mereka, maka Ballou memadatkan ruang tersebut, dan mengurangi porsi bebunyian yang menghuninya. Hasilnya adalah 11 nomor tanpa jeda, tanpa ampun, dan tak sedikitpun membuang ruang. Noise, feedback, dan suara statis ‘berkarat’ secara efisien ditempatkan sebagai perpanjangan agresi Full Of Hell.

Riff-riff berat, cabikan bass agresif, dan blast beat ultra-cepat adalah komponen utama Trumpeting Ecstasy. Tak terdengar lagi dominasi noise/industrial/power electronics yang membungkus atmosfer album-album Full Of Hell sebelumnya. Ciri tersebut digantikan efisiensi struktur lagu, dan pertemuan beberapa subgenre metal/punk.

Sound Trumpeting Ecstasy tak lagi berada di dalam spektrum grindcore, melainkan heavy music yang menggabungkan death, black, dan sludge metal. Nuansa death metal hadir dari beratnya geraman vokal di seluruh lagu, sementara riff-riff tremolo khas black metal muncul di lagu “Cosmic Vein” dan “Digital Prison”. Sementara, dua elemen paling dasar yaitu tulang belakang grindcore dan punk (crust, hardcore), dengan solid menjadi pancang pertemuan berbagai sound tersebut.

Konsekuensi pertemuan berbagai sound tersebut adalah struktur lagu yang rapat dan variatif (bagi sebuah album grindcore). Variasi tersebut jelas terdengar di lagu “Trumpeting Ecstasy”, yang diisi oleh tiga musisi tamu Nicol Dollaganger (vokal), Kurt Ballou (bass), dan Lee Buford (music programming). Vokal angelic Dollaganger mengiringi momen paling cerah, yang dilatari drone bebunyian noise/industrial, sebelum ditimpa riff dan breakdown paling berat sepanjang album.

Berbagai formula di atas Full Of Hell adalah ciri band yang sudah tahu bagaimana cara menggunakan gaya dan sound mereka. Hasilnya adalah album eksplosif berdurasi singkat, memukul penuh agresi tanpa perlu membuang waktu. Trumpeting Ecstasy adalah kekejaman yang terdengar seperti harmoni, kekacauan elegan dari band yang sudah mencapai bentuk akhirnya.

 

0 COMMENTS