ALBUM REVIEW: Monkey to Millionaire – Tanpa Koma

  • By: OGP
  • Minggu, 26 March 2017
  • 3460 Views
  • 0 Likes
  • 0 Shares

Binatang Records

Nilai: 7.0/10

Ada sebuah opini berbunyi: “Album ketiga adalah masa krusial bagi keutuhan unit band.” Ya, jika menelisik tafsiran dari pernyataan tersebut barangkali tak salah. Bagi kalangan yang menjunjung tinggi nilai musikalitas tentu sepakat jika di tahap vital itu seharusnya para band harus mencoba seabrek tantangan lewat eksplorasi maupun eksperimen di pembuatan album. Istilah populernya adalah “keluar dari zona aman.”

Berbicara tentang rilisan ketiga, duo rock alternatif asal Jakarta, Monkey to Millionaire baru saja melepas opus teranyarnya di awal bulan Maret kemarin. Dominasi warna merah gelap menyertai keseluruhan sampul pada album tersebut. Selain itu lembaran artwork bernuansa absurd terpajang acak di setiap kolase lirik. Muatan karya terdiri dari 10 jajaran track mumpuni yang siap untuk sekadar melepas rindu kepada pasukan monyet. Terakhir mereka melepas album Inertia sekitar empat tahun yang lalu.

Seiring waktu bergulir, tak terasa duo karib Wisnu Adji dan Aghan Sudrajat telah menempuh jejak album ketiga selama perjalanan kariernya di belantika musik tanah air. Dua album pertama yakni Lantai Merah (2009) dan Inertia (2013) seolah menunjukkan kalau kedua albumnya itu bersinggungan kutub secara musikalitas. Maka pro-kontra transformasi musik oleh Monkey to Millionaire kala itu sempat menuai protes dari kalangan penggemarnya.

Jika debut album perdana mereka terkesan manis selayaknya hidangan pembuka di restoran fancy ternama, lain halnya Inertia yang kentara dengan nuansa kelam nan ‘semau gue’ di dalamnya. Maka di album ketiganya kali ini, Monkey to Millionaire seperti ingin mendamaikan dua kutub berbeda itu tanpa mengurangi kedalaman kualitas pada album.

Dibuka dengan nomor agresif berjudul “Tular”. Tanpa ampun raungan distorsi tebal cukup terdengar menghujam keras di telinga. Skuad Monkey to Millionaire seolah tak segan untuk menaruh track tersebut di barisan terdepan repertoar. Wisnu dengan sigap hadirkan riff catchy ala pesohor grunge sebagai pemantik bara semangat yang efektif. Secara tegas Wisnu dan Aghan menyingkap alter ego identitas musik mereka sebenarnya, bukan semanis muatan yang ada pada di album perdana.

Sedikit bergeser ke barisan daftar lagu berikutnya. Secara naik-turun ‘The Monkeys’ menyisipkan berbagai fragmen sound yang cukup terdengar berbeda-beda beriringan. Untuk sentuhan indie rock dapat didengar di track “Peduli Puji”, “Kekal”, dan “Mengetuk Hati Benalu”. Pada melankolia ala ballad dapat ditemukan di lagu manis bertitel “Bencinya Untukmu”.  Sepasang track “Hujan” dan “Nista” pun dianggap tepat untuk merayakan kejayaan grunge di masa silam. Sedangkan “Malam Mangsa” dan “Teduh Hari Ini” terdengar mengguncang keras tetapi penuh luka.

Sementara itu, di departemen lirik mengalami perubahan yang signifikan. Tidak seperti kedua album sebelumnya, Tanpa Koma sepenuhnya berisi larik berbahasa Indonesia. Topik yang diangkat juga begitu pribadi dan gelap. Tampaknya Wisnu secara perlahan mulai ingin mencoba mengedepankan penggunaan bahasa nasional ke publik luas. Hal itu tentu tak banyak dilakukan oleh deretan band sejawat yang mayoritas masih senang menggunakan pelafalan bahasa asing.

Well, tampaknya Monkey to Millionaire sendiri mulai cukup beradaptasi dengan baik sejak merotasi peralihan dari Lantai Merah ke Inertia ke Tanpa Koma. Dan mereka tentunya lebih berhati-hati dalam mengonsepkan karya. Tanpa Koma setidaknya menjadi fase penting bagi skuad monyet untuk tampil nyaman dengan suasana baru selagi menapaki masa penyesuaian.

Jika ditelisik terdapat korelasi antara mitos album ketiga dan perjalanan karier Monkey to Millionaire. Pertama, mereka telah melewati hingga ke titik karya ‘ketiga’ yang lazimnya dipercaya orang sebagai awal mula kehancuran keutuhan sebuah band. Kedua, mereka berani keluar dari zona yang dianggap nyaman. Tak banyak jajaran band yang berani mengambil risiko tersebut. Bahkan untuk band tenar sekaligus. Angkat topi untuk Monkey to Millionaire!

Track-track esensial: “Kekal”, “Mengetuk Hati Benalu” dan “Malam Mangsa”

 

0 COMMENTS

Info Terkait

superbuzz
1643 views
superbuzz
646 views
superbuzz
1143 views
supernoize
4255 views
superbuzz
2317 views
superbuzz
12973 views