Anoa Records: Konsistensi Dalam Merilis Musik Berkualitas

Anoa Records: Konsistensi Dalam Merilis Musik Berkualitas

  • By:
  • Selasa, 23 February 2021
  • 445 Views
  • 0 Likes
  • 3 Shares

Seni tampaknya jadi hal yang selalu lekat di dalam kehidupan dari Ritchie Ned Hansel. Sempat jadi salah satu sosok penting dalam pergerakan musik pop independen Jakarta bersama The Sastro di awal tahun 2000-an, kini Ritchie Ned Hansel juga masih mempertahankan posisinya tersebut namun dalam role yang berbeda dari sebelumnya. Selain masih aktif sebagai gitaris di dalam tubuh The Sastro, Ritchie Ned Hansel kini merupakan salah satu co-founder untuk Anoa Records. Dalam mendirikan Anoa Records, Ritchie Ned Hansel juga didukung oleh kehadiran Peter Andriaan Walandouw dan Andri Rahardi. Peter Andriaan Walandouw juga bukan nama asing lagi di skena musik independen. Salah satu pendiri Anoa Records ini juga sudah sering malang melintang di skena musik independen lokal. Peter Andriaan Walandouw merupakan salah satu motor di balik band shoegaze yang terbentuk di tahun 2007 bernama Damascus. 

Ritchie Ned Hansel bersama Peter Andriaan Walandouw dan Andri Rahardi mendirikan Anoa Records. Anoa Records merupakan sebuah label rekaman independen yang kerap kali merilis karya-karya terbaik dari band pop dan rock independen Indonesia berkualitas. Terbentuk di tahun 2013, Anoa Records yang diinisiasi oleh Ritchie Ned Hansel, Peter Andriaan Walandouw, dan Andri Rahardi ini langsung meluncurkan dua buah rilisan di tahun yang sama. Pertama ada Sullen EP milik Barefood dan sebuah album penuh dari Seaside berjudul Undone. Diketahui bahwa ide lahirnya Anoa Records berasal dari sebuah film dokumenter berjudul Upside Down yang ditonton oleh Peter Andriaan Walandouw. Upside Down merupakan sebuah film dokumenter yang menceritakan tentang lahir dan tumbangnya Creation Records, sebuah label independen yang cukup berpengaruh di Inggris Raya pada tahun 1980-an. Melalui film dokumenter tersebut, Peter melihat uniknya geliat Alan McGee dalam mendirikan serta mempromosikan Creation Records. Ide tersebut akhirnya Peter ungkapkan dan disambut dengan baik oleh Ritchie Ned Hansel dan Andri Rahardi hingga lahirlah Anoa Records.

Nama Anoa Records sendiri diambil dari keinginan para pendirinya untuk menghadirkan nama yang unik, khas Indonesia, namun tetap memiliki kesan jenaka. Akhirnya Anoa pun dipilih jadi nama label rekaman milik Ritchie Ned Hansel, Peter Andriaan Walandouw, dan Andri Rahardi ini. Di luar Anoa Records, Ritchie Ned Hansel, Peter Andriaan Walandouw, dan Andri Rahardi merupakan pekerja kantoran dan label rekaman yang mereka buat awalnya dianggap sebagai pelepas penat di waktu luang dari aktivitas perkantoran mereka. Namun, lambat laun geliat Anoa Records pun semakin terlihat di skena musik independen lokal, sehingga mereka bertiga pun mulai serius melengkapi aspek-aspek yang dibutuhkan untuk menyempurnakan Anoa Records. Dari Anoa Records, Ritchie Ned Hansel, Peter Andriaan Walandouw, dan Andri Rahardi pun mengakui bahwa mereka merasakan keseruan dalam mengelola sebuah label rekaman bersama para band yang masuk ke dalam rosternya dari balik layar. Dari Anoa Records juga, mereka menemukan tantangan dalam menjalankan bisnis mikro dalam bentuk sebuah label rekaman.

Dalam menjalankan bisnis label rekaman, Ritchie Ned Hansel, Peter Andriaan Walandouw, dan Andri Rahardi cukup memiliki pedoman yang simpel. Motto dari Anoa Records sendiri adalah “If we believe in something we hear, it’s better to record it”. Motto tersebut merupakan landasan utama bagi Anoa Records dalam merilis album-album terbaik dari para musisi independen lokal. Ritchie Ned Hansel, Peter Andriaan Walandouw, dan Andri Rahardi menjalani perannya di dalam Anoa Records dengan santai. Mereka cenderung merilis album atau EP dari band yang mereka anggap keren atau layak untuk didengar melalui Anoa Records. Hal tersebut didasari karena Anoa Records tidak terlalu memusingkan konsep atau artistik dari label rekaman yang dijalani tersebut. Ritchie Ned Hansel, Peter Andriaan Walandouw, dan Andri Rahardi hanya ingin memberikan alternatif musik yang menurut mereka pantas untuk disiarkan kepada para penikmat musik di Indonesia.

Dalam menjalani Anoa Records, Ritchie Ned Hansel, Peter Andriaan Walandouw, dan Andri Rahardi pun juga tidak mengalami kesulitan dalam memilih band apa saja yang perlu mereka rilis di bawah Anoa Records. Pasalnya, ketiga pendiri dari Anoa Records ini juga cukup dikenal aktif di skena independen. Jadi, para pengelola Anoa Records ini lebih dulu menggunakan pendekatan personal kepada band atau musisi yang hendak mereka rilis karyanya nanti. Di awal kariernya, Anoa Records fokus untuk memperkenalkan kelompok musik independen lokal yang fresh dengan potensi yang berkualitas, di antaranya ada Barefood, Seaside, Gascoigne, Dive Collate, serta Texpack. Selain itu, Anoa Records juga mengaplikasikan motto yang mereka bawa untuk merilis ulang karya-karya dari band veteran berkualitas di kancah musik independen, seperti Themilo dan The Sastro. Anoa Records juga pernah merilis sebuah kompilasi yang diisi oleh para musisi shoegaze Tanah Air berjudul Holy Noise di tahun 2015.

Di dunia digital seperti sekarang ini, Anoa Records juga cukup memberi kebebasan bagi para band yang bernaung di bawah label rekamannya. Anoa Records merasa sebagai label rekaman dan para band di dalam roster-nya harus bisa saling melengkapi satu sama lain. Promosi tidak serta merta hanya diarahkan oleh label rekaman saja menurut Anoa Records. Peran media sosial dari band itu sendiri juga dianggap sebagai salah satu senjata ampuh dalam menjalankan promosi untuk memperkenalkan karya-karya terbaik dari band itu sendiri. Dalam hal ini, Anoa Records senang untuk melakukan berkolaborasi demi menghasilkan dampak promosi yang baik bagi para band yang berada di dalam naungan label milik Ritchie Ned Hansel, Peter Andriaan Walandouw, dan Andri Rahardi tersebut.

Image courtesy of Anoa Records

0 COMMENTS