Hobbyground 2019

Apa Kata Para Musisi Soal Hobbyground 2019?

  • By: NND
  • Selasa, 5 November 2019
  • 233 Views
  • 10 Likes
  • 9 Shares

Kemarin, tepatnya pada tanggal 2-3 November 2019, tim Supermusic berkesempatan untuk ngobrol-ngobrol sama para musisi besar yang digaet oleh Hobbyground 2019—festival hobi dan komunitas gubahan Kaskus—yang digelar di Plaza Barat Senayan, Jakarta. Nongkrong di area backstage, kami ngobrol banyak dengan beberapa musisi yang udah ngga asing lagi dalam dunia musik Indonesia, tertuama dekat-dekat ini.

Penasaran sama siapa aja tim kami duduk dan ngobrol bareng? Langsung aja pantengin bacaan di bawah ini, ya! Ayo cari tahu, apa aja pendapat mereka terkait sebuah festival yang menggusung tema subkultur yang lahir dari berbagai macam hobi dan kamunitasnya masing-masing!

***

Di hari pertama Hobbyground 2019, sore hari tepat setelah hujan baru saja mereda, tim kami sudah berada di backstage panggung utama festival tersebut. Tenda-tenda musisi nampak ramai dan para musisi bersertakan crew-nya tengah asyik bercanda gurau. GH0$$ sedang bermain di atas panggung saat tim kami berkesempatan untuk duduk bersama Ramengvrl dalam tendanya. Di sana, kami ngobrol sedikit-banyak tentang Hobbyground 2019 dan pendapatnya.

Tim kami bertanya kepada rapper perempuan itu terkait pendapatnya tentang festival yang mengangkat beragam subkultur melalui hobi dan komunitas seperti yang dilakukan oleh Hobbyground 2019, dan untuk itu ia menjawab:

It’s about time! Kayak udah saatnya, gitu. Indonesia, gue rasa, udah keramean sama acara yang terlalu mainstream. Subkultur tetap diangkat sampai sekarang ini, and alive, tapi kita ngeliatnya mungkin kaya di internet dan di community, gitu-gitu aja dan nggak pernah di-celebrate oleh sebuah event gede. Nah, untung ada Hobbyground 2019, nih!” Ia juga lanjut menjelaskan bahwa banyak subkultur—seperti streetwear, contohnya—yang masuk dan berperan dalam membentuk musiknya, baik itu secara disadari, ataupun tidak.

Namun, tidak hanya Ramengvrl yang berada di balik panggung besar itu.  Adapula kehadiran Bam, Bayu, dan Kevin—alias Elephant Kind—yang belum lama tiba di Plaza Barat Senayan. Tak lama setelah itu tim kami pun diundang masuk ke tenda mereka. Trio tersebut terlihat cukup sibuk, namun mereka dengan ramah memberi waktu kepada kita untuk bersantai dan ngobrol bareng.

“Baik banget ada acara ini—acara yang menjaring komunitas-komunitas dan segala macem hobinya yang distinct, unik dengan gayanya masing-masing—agar mereka bisa lebih terekspos,” ujar Bayu. Dalam waktu singkat tersebut, tim kami sempat bertanya tentang perkembangan hobi dan komunitas lokal Indonesia, dengan segala macam subkulturnya itu. “Masif! Perkembangannya masif banget, ya. Itu juga sebabnya mengapa kita feel honored untuk bisa join di acara Hobbyground ini,” terang Bam Mastro.

Selanjutnya, giliran grup senior yang kami ajak ngobrol. Siapa lagi, selain White Shoes and the Couples Company? Ditemui di dalam tendanya, keutuhan grup beranggotakan enam personil itu duduk rapih dan menyambut kami dengan ramah. Menurut mereka—diwakili oleh Sari pada vokal—acara hobi dan komunitas yang menjaring bahasan subkultur cukup ideal.  Selanjutnya Ricky Virgana pada bas juga berpendapat terkait subkultur dan pengaruhnya terhadap musik mereka. “Pasti ada,” jawabnya. “Musik sendiri itukan berawal daru sebuah budaya, jadi dari spirit-nya pun jelas ada dan sangat berpengaruh—ini masih diluar dari proses bermusik, ya. Masih dari spirit-nya.

Perkembangan hobi dan komunitas yang ada di Indonesia pun turut mereka akui. “Berkembangnya, kalo menurut gue udah berkembang banget karena komunitasnya udah ngga lagi nongkrong doang tapi udah lebih dari itu. Ada acara kayak (Hobbyground 2019) itu buat ngasih tau kalau semua itu hobi ini udah bisa jadi industri—udah ada marketnya,” tutur Saleh menambahkan.

Sari sebagai vokalis merangkum obrolan kami, “Menghargai budaya sendiri itu udah wajib hukumnya, tapi memeluk hobi seperti subkultur yang diangkat di sini itu penting juga karena berfungsi untuk menandakan bahwa kita ini orang beradab. Subkultur sudah sepantasnya diangkat sekarang. Kita butuh itu untuk mengusung equality of intellectual common, intelektualitas lahir juga dari subkultur!”

Tak terasa juga hari sudah semakin malam. Backstage sudah semakin sepi, mungkin karena musisi terakhir sedang bermain. Yang lain? Asyik joget di depan panggung. Setelah menyelesaikan set-nya bersama Monica, kami juga berkesempatan untuk menyapa Dipha di selang rehat singkatnya.

Masih bersimbang keringat lepas membawakan set penutup yang meriah, Dipha meluangkan waktu untuk memberikan pesan terkait salah satu hobi yang ia gemar—hobi yang juga ada dalam Hobbyground 2019, tepatnya di zona Super Street persembahan Supermusic! Ya, Dipha nyempetin untuk ngobrol-ngobrol tentang skateboarding!

Sebelum terjun ke skate,Dipha menyatakan bahwa “energi dari crowd-nya keren banget”. Tak lupa, ia juga terus terang akan kesukaannya terhadap lineup yang digaet oleh Hobbyground. Ketika ditanya salah satu hobi yang ia sukai, Dipha—dengan atusiasme tinggi—langsung mengangkat skateboard:

Indonesia itu nggak cuman kayak culture tradisional doang. Yang mendukung kemajuan masyarakat juga subkultur yang berawal dari  hobi dan para komunitasnya ini. Itu yang nge-shape taste anak-anak muda di Indonesia.

“Gue juga seneng banget karena ada skate community di sini. Yang di mana gue besar dari sana, dari scene itu. Cempaka Tiga—Cemtig Senayan di pintu satu. Di sini gue jadi buktinya. Gue anak muda yang tau banyak banget hal—tau banyak banget musik—semua awalnya dari skateboarding culture!” sambungnya.

Untuk hari kedua pun sama, para musisi mengaku senang ada aksi sederet subculture yang ditampilin di Hobbyground 2019. Berikut rangkumannya:

Club Dangdut Racun: "Keren banget! Gokil, tadi sepi gitu di depan panggung, terus kita naik di luar ekspektasi langsung pada nyanyi, joget bareng.Ini acara keren, merangkul semua kalangan."

Endank Soekamti: "Acara ini harus sering-sering diperbanyak, karena bisa menjadi wadah anak muda mengekspresikan dirinya. Soalnya di tempat lain, anak muda mau menyalurkan hobinya itu gak bisa karena kurang tempat."

Mocca: "Harus dibikin setiap tahun. Karena bagusnya mengumpulkan community yang besar di millenials."

0 COMMENTS

Info Terkait

superbuzz
377 views
supershow
6479 views

Bersiap Menyambut HELLPRINT 2019!

superbuzz
434 views
supershow
256 views
superbuzz
956 views

HobbyGround: Rap Name Quiz!