Bad Religion

Bad Religion Ajak Perangi Rasisme Lewat Single ‘What We Are Standing For’

  • By:
  • Sabtu, 14 November 2020
  • 1116 Views
  • 2 Likes
  • 1 Shares

Sebagai unit veteran punk rock, Bad Religion tak mau ketinggalan dalam euforia pemilihan Presiden Amerika Serikat dan peperangan melawan rasialisme. Dalam rangka menyambut pesta demokrasi di Negeri Paman Sam itu, Bad Religion merilis anthem berbau politik mereka berjudul What Are We Standing For.

Sejak pertama kali berdiri pada 1980, Bad Religion memang secara konsisten menguliti masalah sosial-politik-budaya hingga isu rasialisme sebagai makanan sehari-hari mereka. Lantas, melalui single What Are We Standing For, Bad Religion kembali menunjukkan identitas mereka.

Menurut siaran persnya, What We Are Standing For yang rilis pada 14 Oktober 2020 adalah bentuk edukasi Bad Religion kepada masyarakat tentang pilihan politik mereka yang akan menentukan dampak di masa depan. Selain itu, lagu ini adalah bentuk solidaritas Bad Religion terhadap atlet-atlet yang memperjuangan keadilan dan mengharamkan rasialisme.

Beberapa bulan dan tahun-tahun ke belakang, di Amerika Serikat beberapa kali terjadi isu rasialisme. Paling baru adalah tewasnya seorang Afrika-Amerika, George Floyd, di tangan polisi bernama Derek Chauvin di Minneapolis. Berangkat dari peristiwa itu, seruan Black Lives Matter menggema, mengutuk setiap aksi rasialis di Amerika Serikat dan dunia.

Protes dilakukan berbagai kalangan termasuk para atlet di seluruh penjuru dunia dan lintas cabang. Di NFL (Liga Football Amerika), misalnya, penolakan berdiri selama lagu kebangsaan diputar dilakukan banyak atlet. Sementara di sepak bola, para atlet di berbagai liga kelas dunia serentak melakukan gesture berlutut sebagai bentuk protes atas penindasan polisi terhadap minoritas.

"Di masa nasionalisme kesukuan ini, perbedaan pendapat, sebagai bentuk pidato politik, sangat penting bagi demokrasi,” kata penulis lagu dan gitaris Bad Religion Brett Gurewitz.

An adventure in secular morality shouldn't be an insurrection to us all

And a counterfeit political currency shouldn't stand as a patriotic call

All the vitriol and hyperbole testifies to vacant humanity

And the rabble that's pounding at the door

Don't know what they're standing for anymore

Show some understanding for

Those who kneel to implore know just what they're standing for

What's the lasting legacy of the humanistic progress that we made?

Or the blood that spilled for someone else's profit but would never be repaid?

There's a useless hope of the afterlife but it can't assuage all the toil and strife and the pious who were promised so much more

What Are We Standing For hanyalah satu dari sekian banyak lagu dari Bad Religion yang membahas tentang fenomena di masyarakat. Musik di lagu ini masih mengedepankan ciri khas Bad Religion melalui getaran rock yang keras dari suara gitar dan drum serta lirik yang tajam.

Lagu tersebut direkam pada sesi yang sama dengan album terbaru mereka Age Of Unreason pada 2019. Sebelum merilis single baru What Are We Standing For, Bad Religion lebih dulu mengeluarkan versi baru dari lagu lawas mereka, Faith Alone, yang berasal dari album Against The Grain (1990).

Pengerjaan ulang lagu ini mengubah musik aslinya yang bertempo musik punk rock menjadi didominasi instrumen piano. Meski begitu, lirik lagu tersebut dianggap sangat relevan dengan kondisi dunia saat ini yang sedang dilanda pandemi COVID-19 dan segala fenomena sosial politik yang terjadi.

“Menurut saya pesan dari Faith Alone benar-benar selaras dengan semua yang terjadi saat ini. Ketidakadilan ras, Donald Trump, pandemi COVID-19, tidak ada satupun dari hal-hal ini yang bisa diselesaikan jika kita hanya berdiam diri. Kami selalu percaya bahwa masalah bisa diselesaikan melalui akal dan tindakan, bukan hanya iman dan doa. Itulah yang kami selalu tuliskan sejak band ini pertama berdiri," ujar Brett.

Konsistensi Bad Religion di Musik Punk Rock

Selama perjalanan 40 tahun di industri musik, Bad Religion terhitung sudah merilis 17 album studio dengan lebih dari 250 lagu, pergantian personil, dan kerusuhan punk rock lainnya. Satu yang tak pernah berubah dari mereka adalah konsistensi menyuarakan isu-isu kemanusiaan dan sosial-politik.

Jika album ke-17 hingga single What We Are Standing For dianggap sebagai titik akhir perjalanan Bad Religion, opini tersebut jelas salah besar. Band yang kini digawangi oleh Greg Graffin (vokal), Brett Gurewitz (gitar), Jay Bentley (bass), Brian Baker (gitar), Mike Dimkich (gitar), dan Jamie Miller (drum) masih aktif berkarya.

Dua bulan lalu, atau pada Agustus 2020, Bad Religion merilis buku biografi yang mengemas sejarah, perjalanan, juga kegilaan karier musik mereka. Semua itu tertuang dalam buku berjudul Do What You Want: The Story of Bad Religion, buku biografi yang ditulis oleh keutuhan bandnya, juga menggaet penulis Jim Ruland.

Lewat buku ini, para pembaca diajak mengunjungi kembali masa-masa formatif Bad Religion, dari remaja-remaja San Fernando Valley, hingga menjadi pahlawan punk rock yang kenamaan.

Berbekal masukan dari vokalis Greg Graffin, gitaris Brett Gurewitz, bassist Jay Bentley, serta jajaran bintang punk rock yang melegenda, Do What You Want memberikan kita 40 tahun karier sebuah band yang berjalan menyusuri sejarah dengan cara mereka sendiri.

Secara khusus, buku tersebut menggambarkan perjalanan Bad Religion mempertahankan eksistensi musik punk. Skena punk begitu besar ketika Sex Pistols lahir di medio 70-an, namun punk mulai redup di era 80-an seiring bubarnya Sex Pistols.

Musik punk memang kembali hidup dengan munculnya Nirvana di tahun 1992, namun ada jeda 10 tahun di antara 1982-1992 yang menjadi medan peperangan Bad Religion menghidupkan eksistensi genre musik ini.

"Punk mulai dari Sex Pistols, lalu pindah ke New York. Di New York skenanya jadi besar. Lalu, pada tahun 1982, punk pun mati. Setelah itu di tahun 1992, Nirvana lahir. OK, ada jeda 10 tahun antara tahun 82 dan 92 yang sangat minim dibahas oleh semua itu. Itulah tahun-tahun di mana Bad Religions sangat aktif. Tahun formatif kita dimulai dari tahun 1980, tepat di tengah-tengah era tersebut,” ujar Graffin.

0 COMMENTS