Portal Music

Bad Religion

Bad Religion Sang Veteran Punk Rock: 17 Album Selama 40 Tahun Berkarier

  • By:
  • Rabu, 28 October 2020
  • 694 Views
  • 2 Likes
  • 0 Shares

Jumat, 3 Mei 2019, akan selalu menjadi hari yang diingat baik-baik oleh Bad Religion dan para penggemarnya. Tak ada konser mewah atau tur ke berbagai negara di dunia pada hari itu.

Namun, hari itu menjadi tapal batas yang mempertemukan Bad Religion dengan karya baru. Hari tersebut menjadi penanda bahwa di scene musik punk rock, selalu ada tempat bagi band lawas seperti Bad religion yang telah berdiri sejak 1980.

Maka istilah tua-tua keladi, semakin tua semakin menjadi sangat cocok disematkan kepada unit punk rock veteran asal Amerika Serikat itu. Di 3 Mei tahun lalu, Bad Religion merilis album ke-17 mereka dengan tajuk Age of Unreason.

Single Chaos From Within dirilis sebagai line-up pertama dari formasi di album Age of Unreason. Chaos From Within adalah serangan Bad Religion berbentuk pernyataan pribadi, kolektif sekaligus politis tentang garis ideologi mereka. Tak hanya berbicara dengan lantang, single ini juga menggunakan modus aransemen Bad Religion: cepat, berkekuatan tinggi dan melodis.

Selama aktif sejak 1980, menguliti masalah sosial-politik-budaya adalah makanan sehari-hari Bad Religion. Sejak 2016, mereka merespon gerakan anti-demokrasi dan fanatisme, khususnya di belahan bumi utara, dengan ketajaman lirik.

"Band ini selalu berdiri di atas nilai-nilai pencerahan. Hari ini, nilai-nilai seperti kebenaran, kebebasan, kesetaraan, toleransi dan ilmu pengetahuan sedang dirundung bahaya. Album ini adalah respon kami atas kondisi itu,” jelas Brett Gurewitz (gitar).

Jika album ke-17 dianggap sebagai titik akhir perjalanan Bad Religion, opini tersebut jelas salah besar. Band yang kini digawangi oleh Greg Graffin (vokal), Brett Gurewitz (gitar), Jay Bentley (bass), Brian Baker (gitar), Mike Dimkich (gitar), dan Jamie Miller (drum), melahirkan karya satu tahun kemudian.

Dua bulan lalu, atau pada Agustus 2020, Bad Religion merilis buku biografi yang mengemas sejarah, perjalanan, juga kegilaan karier musik mereka. Semua itu tertuang dalam buku berjudul Do What You Want: The Story of Bad Religion, buku biografi yang ditulis oleh keutuhan bandnya, juga menggaet penulis Jim Ruland.

Lewat buku ini, para pembaca diajak mengunjungi kembali masa-masa formatif Bad Religion, dari remaja-remaja San Fernando Valley, hingga menjadi pahlawan punk rock yang kenamaan.

Berbekal masukan dari vokalis Greg Graffin, gitaris Brett Gurewitz, bassist Jay Bentley, serta jajaran bintang punk rock yang melegenda, Do What You Want memberikan kita 40 tahun karier sebuah band yang berjalan menyusuri sejarah dengan cara mereka sendiri.

Secara khusus, buku tersebut menggambarkan perjalanan Bad Religion mempertahankan eksistensi musik punk. Skena punk begitu besar ketika Sex Pistols lahir di medio 70-an, namun punk mulai redup di era 80-an seiring bubarnya Sex Pistols.

Musik punk memang kembali hidup dengan munculnya Nirvana di tahun 1992, namun ada jeda 10 tahun di antara 1982-1992 yang menjadi medan peperangan Bad Religion menghidupkan eksistensi genre musik ini.

"Punk mulai dari Sex Pistols, lalu pindah ke New York. Di New York skenanya jadi besar. Lalu, pada tahun 1982, punk pun mati. Setelah itu di tahun 1992, Nirvana lahir. OK, ada jeda 10 tahun antara tahun 82 dan 92 yang sangat minim dibahas oleh semua itu. Itulah tahun-tahun di mana Bad Religions sangat aktif. Tahun formatif kita dimulai dari tahun 1980, tepat di tengah-tengah era tersebut,” ujar Graffin.

Perjalanan panjang Bad Religion tak akan pernah terjadi jika Graffin, Bentley, Jay Ziskrout, dan Gurewitz tidak bertemu pada 1980. Karier mereka dimulai dengan tampil pada pentas-pentas di kota Fullerton atau Santa Ana, California.

Satu tahun setelah terbentuk, Bad Religion bergabung dengan label rekaman Epitaph Records dan merilis album pertama bertajuk How Could Hell Be Any Worse? pada 1982. Selama proses rekaman album ini, Ziskrout yang berposisi sebagai penggebuk drum keluar dan digantikan Peter Finestone.

Bad Religion merilis album kedua pada 1983 dengan nuansa progressive hard rock dan temo yang lebih lambat dibanding album pertamanya. Namun, polemik mulai melanda yang berujung pada vakumnya Bad Religion pada 1985.

Perlahan tapi pasti, formasi Bad Religion mulai berkumpul kembali di 1986 dengan line-up Graffin, Bentley, Gurewitz, Pete Finestone, dan Greg Hetson. Formasi tersebut melahirkan album ketiga Bad Religion pada 1988 dengan nama Suffer.

Album Suffer sebagai penanda kembalinya Bad Religion memang tak terlalu tenar dari segi penjualan, tapi ini menjadi pembuka jalan bagi langgengnya karya-karya mereka. Ketika merilis album keempat, No Control, pada November 1989, Bad Religion mendapat penjualan terbaiknya dengan larisnya album No Control sebanyak lebih dari 80 ribu kopi.

Ciri khas hardcore punk Bad Religion kembali ditunjukkan di album kelima mereka pada 1990, Against the Grain. Sebelum Bad Religion merilis album ketujuh, Generator, Finestone memutuskan hengkang dan posisinya digantikan Bobby Schayer.

Memasuki era 90-an awal, pamor Bad Religion mulai melejit seiring makin tenarnya skena alternative rock dan grunge. Di 1993 mereka merilis album ketujuh, Recipe for Hate, yang membawa lagu Bad Religion akhirnya menembus posisi 14 di Billboard Heatseekers chart.

Kesuksesan itu berlanjut ketika album kedelapan, Stranger Than Fiction, yang rilis pada 1994 berhasil menembus Billboard 200 dan terjual lebih dari 500 ribu kopi. Bad Religion lantas menjadi kunci dari menanjaknya pamor punk rock di era 90-an bersama Green Day, The Offspring, Rancid, hingga NOFX.

Langkah Bad Religion terus berlanjut usai album penuh kesuksesan tersebut meski dalam perjalanannya mengalami sederet pergantian personel. Sebagai bukti langkah tetap tegak, Bad Religion mampu merilis 9 album baru dari 1996 hingga 2019.

Toh, setelah perjalanan 40 tahun di industri musik, merilis 17 album dengan 250 lagu lebih, pergantian personil, dan kerusuhan punk rock lainnya, Bad Religion tetap menolak menjadi tua.

0 COMMENTS