The Brandals

Nostalgia The Brandals, Album Pertama dan Single Baru

  • By:
  • Rabu, 4 November 2020
  • 501 Views
  • 3 Likes
  • 1 Shares

The Brandals harusnya memiliki sejumlah agenda di tahun 2020. Mulai dari jadwal manggung, perencanaan rilis album anyar, hingga merilis piringan hitam dari album debut mereka.

Tak semua dari rencana tersebut bisa direalisasikan dengan lancar, misalnya manggung, akibat pandemi COVID-19 yang melanda. Meski begitu, The Brandals tetap membuktikan ambisi mereka dengan merealisasikan beberapa rencana lain.

Rencana The Brandals yang bisa direalisasikan adalah perilisan single baru pada 15 Oktober 2020 dengan judul The Truth Is Coming Out. Lagu ini disebut-sebut sebagai bagian repertoire dari album baru The Brandals yang akan dirilis secepatnya.

Secara musikal, struktur lagu anyar ini menawarkan unsur organik tanpa ada lapisan elemen elektronik yang membalut materi album DGNR8 atau single terakhir Retorika yang rilis di tahun 2018. The Brandals back to basic, mengandalkan intuisi dan kreativitas dari 5 personel mereka dengan instrumen masing-masing.

Single ini ditulis dan diproduksi oleh personel sendiri, dengan aransemen gubahan gitaris Tony

Dwi Setiaji yang merubah tempo lagu menjadi lebih cepat dari versi aslinya. Proses mixing dan mastering kembali dipegang oleh Harmoko Aguswan (Moko) yang menjadi pemain kunci dalam pemolesan tata suara materi The Brandals di album berikut.

Di lagu terbarunya, The Brandals juga mencoba memberi kritik berbau politik dengan menyoroti beberapa fakta sejarah yang dikubur. Intinya, mereka ingin mengungkapkan bahwa kebenaran akan selalu bisa terungkap.

"Walaupun lirik ditulis oleh vokalis Eka Annash dalam bahasa Inggris, tapi secara implisit

menyorot tema tentang fakta-fakta sejarah yang banyak dikubur oleh para elit politik Indonesia.

Bagaimana banyak nyawa dikorbankan, sejarah dimanipulasi dan fakta dibelokkan. Tapi kami

yakin pada akhirnya kebenaran akan terungkap bagaimanapun juga," tulis The Brandals dalam keterangan persnya.

"Untuk proses kreasi video klip single, kami mempercayakan sutradara muda berbakat Catherine Delay untuk menginterpretasi tema lagu melalui visinya. Walaupun tergolong muda, tapi Catherine sudah mencapai sukses kritikal lewat karya videonya diantaranya adalah Rich Brian, Gabber Modus Operandi, Ras Muhamad, sedangkan untuk Artwork kami bekerjasama dengan seniman muda asal Yogyakarta yang bernama Isnandito Henri Saputro."

Di single ini The Brandals juga bekerja sama dengan KONTRAS (Komisi Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan) sebagai badan organisasi non-pemerintah yang bergerak menginvestigasi kasus-kasus penculikan aktivis politik dan kekerasan di Indonesia. KONTRAS memberikan data profil aktivis serta data kasus yang masih terbuka dan belum terselesaikan sampai sekarang.

"Profil tersebut kami tampilkan di video klip sebagai pengingat kepada publik bahwa masih banyak kebenaran yang belum terungkap di Indonesia," ujar The Brandals.

Selain merilis single baru, The Brandals juga merilis ulang salah satu album yang berperan dalam karier indie mereka di era 200-an ke dalam format piringan hitam. Buat kamu para penggemar The Brandals, jangan lewatkan benda wajib koleksi ini.

Piringan hitam ini dirilis pada 14 Oktober 2020. Album dengan tajuk yang sama seperti nama band, The Brandals, tersebut dipasarkan pertama kali pada 2003 dalam format kaset pita, kemudian ke dalam format cakram padat pada 2006. Akhirnya setelah 17 tahun sejak dirilis, album ini bisa dinikmati lewat piringan hitam.

Sejak perilisannya hampir dua dekade lau, album itu disambut baik oleh pasar musik Indonesia. Saat itu, album The Brandals mampu terjual hingga 7.500 kopi, jumlah yang dinilai cukup banyak untuk album dari musisi independen.

The Brandals mengaku sudah menawarkan proyek ini ke sejumlah label rekaman. Bahkan wacana perilisan album The Brandals ke piringan hitam sudah mencuat sejak 8 tahun lalu ketika reproduksi piringan hitam kembali marak di seluruh dunia.

"Tidak mudah untuk merilis ulang sebuah album dari katalog lama (Indonesia) ke dalam format piringan hitam. Berbagai hambatan sering ditemui," kata Johnny T dari Lamunai Records yang membantu produksi piringan hitam album The Brandals.

The Brandals menyediakan dua pilihan kemasan format piringan hitam pada album perdana The Brandals yaitu Deluxe dan Reguler berisi 10 lagu dengan bonus nomor “Ain’t Nobody’s Bitch”. Sementara untuk poster dan desain sampul ulang digarap oleh ilustrator Ahmad Rizzali, ada pula booklet 8 halaman berisi foto, lirik, dan album notes yang digarap oleh Reno Nismara di dalamnya set album piringan hitam The Brandals.

The Brandals yang berdiri di Jakarta sudah eksis berkarier sejak 2001. Awalnya band ini bernama The Motives yang beranggotakan Rully Annash (drummer), Mochammad Bayu Indrasoewarman (gitaris), Tonny Dwi Setiaji (rhythm gitar), Dodi Widyono (bassist), dan Edo (vokal).

Pada 2003, Edo memutuskan mundur dan posisinya digantikan oleh Eka Annash yang sekaligus menandai pergantian nama band menjadi The Brandals. Musik The Brandals kebanyakan merupakan pengaruh dari band-band lawas seperti The Rolling Stones, The Clash, The Who.

Setelah merilis album selftitled perdana pada 2003, The Brandals merilis album kedua pada 2005 dengan tajuk Audio Imperialist. Album ketiga The Brandals dengan nama Brandalisme lantas muncul pada November 2007. Mereka sempat meredup selepas album ketiga rilis karena kesibukan masing-masing personel.

Namun, pada 2010 The Brandals kembali muncul dengan melahirkan album studio keempat bertajuk DGNR8. Perjalanan karier The Brandals sempat diterpa badai kembali saat Rully Annash meninggal dunia pada November 2015 karena serangan jantung.

0 COMMENTS