Bjork Siap Berakting dalam Film Berlatar Sejarah Viking

Bjork Siap Berakting dalam Film Berlatar Sejarah Viking

  • By:
  • Minggu, 13 June 2021
  • 122 Views
  • 0 Likes
  • 0 Shares

Apik dalam bermusik bukanlah satu-satunya talenta yang dimiliki oleh Bjork. Musisi asal Islandia ini juga dikenal sebagai seniman serba bisa dan juga aktor yang cukup mumpuni. Keahlian Bjork dalam berakting juga diakui oleh industri film dunia berkat berhasilnya sang musisi menyabet penghargaan sebagai Best Actress untuk festival film Cannes di tahun 2000. Gelar tersebut diambil oleh Bjork berkat aksi perannya yang ditampilkan dalam film Dancer In The Dark karya Lars Von Trier.

Kepiawaian Bjork dalam berakting ini akan kembali segera bisa dinikmati oleh para penggemarnya dalam waktu dekat. Beberapa saat lalu, Bjork sempat dikabarkan menjadi salah satu sosok yang ikut serta dalam produksi film bertemakan viking berjudul The Northman. Film ini menjadi film keempat dengan budget produksi besar yang Bjork bintangi selama perjalanan kariernya. Dalam film berjudul The Northman ini, Bjork akan beradu peran dengan bintang film ternama, seperti Nicole Kidman, Alexander Skarsgård, Willem Dafoe, dan Ethan Hawke.

Untuk film terbaru Bjork ini, The Northman merupakan sebuah karya yang disutradarai oleh Robert Eggers dan rencananya akan rilis pada musim semi 2022 mendatang. Mengambil latar belakang sejarah dan mitologi viking, sang sutradara juga bekerja sama dengan Sjón, seorang sastrawan Islandia yang ikut berperan dalam menulis naskah film yang dibintangi Bjork ini. Sjón juga sebelumnya sempat berkolaborasi bersama Bjork untuk beberapa lagu yang terdaftar dalam daftar diskografi sang musisi, di antaranya adalah Jóga, Cosmogony, Oceania, dan masih banyak lainnya. Rumah produksi raksasa, Universal menjadi salah satu nama yang memegang hak siar film The Northman yang dibintangi Bjork ini untuk regional Inggris Raya. Sedangkan untuk di Amerika Serikat sendiri, lisensi film The Northman akan ditayangkan di bawah bendera Focus Features. 

Di luar film dan musik, Bjork baru-baru ini juga hadir sebagai penyiar tamu untuk Sonos Radio dalam program Sonos Radio Hour Mix. Dalam program radio yang dipandu oleh musisi asal Islandia tersebut, Bjork memainkan sebuah kumpulan lagu khusus yang telah dikurasi secara mendalam. Bjork menganggap bahwa lagu 21 lagu pilihannya ini merupakan lagu-lagu yang memengaruhi kehidupan personalnya. Bahkan Bjork mengakui di antara 21 lagu tersebut ada beberapa lagu yang berhasil menjadi penyelamat dalam kehidupannya. Sesuai dengan citra dan karakteristik yang unik, pilihan lagu-lagu dari Bjork untuk program radio tersebut juga memiliki warna musik yang unik. Untuk judulnya sendiri, Bjork memberi nama 21 Years Worth Of Wave Files Liquidated Into A Stream untuk kumpulan lagu yang telah dikurasinya. Kumpulan lagu pilihan Bjork tersebut diisi oleh lagu-lagu dari musisi dengan latar belakang yang beragam, seperti Alim Qasimov, Jeremiah, Oui, LFO, Aby Ngana Diop, hingga ML Buch.

Dalam program radio tersebut, Bjork juga menceritakan tentang bagaimana dirinya menjaga pembendaharaan lagunya secara apik. Bjork mengakui bahwa hingga saat ini dirinya masih memiliki sebuah laptop yang telah berumur 21 tahun dan laptop tersebut dianggap sebagai tempat penyimpanan koleksi lagu-lagunya. Koleksi lagu tersebut tidak seluruhnya berasal dari sumber audio digital. Bjork mengakui bahwa banyak koleksi lagu miliknya yang ada di dalam laptop tersebut berasal dari rilisan fisik, seperti CD, kaset, serta piringan hitam. Seluruh lagu yang berdasarkan dari rilisan fisik tersebut konversi menjadi audio dalam format WAV untuk menjaga kualitasnya tetap terjaga dan baik saat didengarkan. Lagu-lagu dari rilisan fisik yang didapatkan oleh Bjork ini juga diakui menghadirkan cerita tersendiri. Pasalnya, setiap dirinya melakukan perjalanan seperti tur maupun liburan, Bjork selalu menyempatkan untuk mengunjungi toko musik secara diam-diam.

Meskipun awalnya didedikasikan sebagai bagian dari perjalanan hidupnya, Bjork mengakui bahwa ada kalanya sang musisi ingin menyebarkan lagu-lagu favoritnya tersebut. Menurut Bjork, setelah 21 tahun, tampaknya menjadi penyiar tamu adalah waktu yang tepat untuk membagikan lagu-lagu yang penting dalam hidupnya. Bjork juga mengakui bahwa dirinya tidak juga melakukan kurasi lagu sesuai kebutuhan. Hingga saat ini, Bjork melakukan klasifikasi lagu untuk kebutuhan pesta pernikahan, bermain catur, menyendiri, serta perjalanan. Oleh karena itu, Bjork merasa lagu yang dipilihnya saat ini bisa menjadi bagian dari hidup para penikmat musik lainnya.

Akhir tahun 2020 lalu, Bjork juga baru saja merampungkan proyek musik kolaboratif terbarunya. Bjork memutuskan untuk merilis karya kolaborasi bersama kelompok paduan suara yang dirinya pernah ikut tergabung kala masih remaja bernama Hamrahlíð Choir. Proyek kolaborasi tersebut dilakukan oleh Bjork dalam rangka membantu proses penggarapan album terbaru dari paduan suara Hamrahlíð Choir berjudul Come and Joyful yang rilis pada 4 Desember 2020 lalu. Dalam kesempatan kolaborasi tersebut, Bjork menyumbangkan suaranya untuk dua buah lagu berjudul Cosmogony dan Sonnets dalam album baru milik Hamrahlíð Choir. Hadir dalam format akapela, lagu kolaborasi antara Bjork dan Hamrahlíð Choir ini memaksimalkan potensi dari suara manusia untuk membangun nuansa yang penuh misteri dan luas layaknya representasi dari judul lagunya yang berjudul Cosmogony. Sedangkan untuk lagu keduanya yang berjudul Sonnets, Bjork dan Hamrahlíð Choir menghadirkan nuansa yang lebih ringan dan terdengar optimis dan masih direkam dalam format akapela.

Lagu Sonnets yang direkam oleh Bjork dan Hamrahlíð Choir merupakan versi musikalisasi dari puisi karangan E.E. Cummings dengan judul yang sama. Secara sekilas, jika didengarkan, kedua lagu tersebut seakan memiliki karakteristik yang identik dengan karya-karya orisinil Bjork yang kerap kali dibalut teknik bernyanyi yang unik.

 

Image courtesy of Bjork

0 COMMENTS