Electronica

Block Rockin' Beats: Persilangan Musik Rock dengan Electronic

  • By: NND
  • Senin, 25 March 2019
  • 437 Views
  • 0 Likes
  • 0 Shares

Belum lama ini kancah musik kehilangan salah seorang sosok besar, Keith Flint dari The Prodigy. Sosok ikonik ini pergi pada 4 Maret lalu, sontak kabar ini tentu mengejutkan dunia permusikan.

The Prodigy, merupakan raksasa musik elektronik yang masa kejayaannya berkisar pada era 90-an. Dibentuk pada 1990, The Prodigy di awal karirnya memanjat kesuksesan melalui kancah rave bawah tanah di Inggris. Mereka tidak memainkan musik yang ringan di telinga, tidak. The Prodigy menyuguhkan musik keras yang menghantam kepala. Musik mereka adalah perpaduan lintas genre, di antara limpahan bumbu dasarnya, tersematlah musik rock.

The Prodigy adalah salah satu pionir berkembangnya musik elektronik menuju bentuk hibrid. Musik mereka bisa dikategorikan dalam kandang big beat, sebuah sub-genre yang berkembang dari genre elektronik, breakbeat. Sound ini lebih mengedepankan gebukan drum berat dengan tempo berkisar dari 120-140 BPM, serangan synth acid house, dan sample loop musik era 60-80-an, serta vokal dalam karakter punk. The Prodigy berhasil mencampurkan elemen musik-musik elektronik yang keras dengan karakter, penjiwaan dan mentalitas punk.

Tidak hanya mereka yang menggunakan formula tersebut, beberapa unit lain seperti The Chemical Brothers juga naik ke permukaan. Duo elektronik asal Inggris ini juga memulai karirnya pada era yang sama dengan The Prodigy. Selain menciptakan karya orisinal, tak jarang juga Chemical Brothers melakukan remix lagu band-band rock dan berkolaborasi bersama personilnya. Mereka pernah me-remix lagu Primal Scream, dan melibatkan Noel Gallagher di vokal pada single "Setting Sun" dan "Let Forever Be".

Pada era kejayaannya, Chemical Brothers menjadi nama yang sudah tidak asing lagi di kalangan musik--baik musik dansa, pun juga musik rock--circa 90-an di Inggris. Terbukti secara fakta bahwa musik mereka masih relevan hingga sekarang, konser duo ini masih sangat ditunggu oleh para penggemar musik di penjuru dunia.

Lajunya kembangnya didorong oleh perkembangan zaman: Adanya kemajuan teknologi, perubahan sosial dan budaya, atau isu-isu politik. Perkembangan tersebut jelas berdampak pada pembentukan sebuah kultur dan sub-kulturnya, lantas berdampak juga pada pergerakan skena musik pada tiap-tiap zaman.

Pada dasarnya, begitulah nampaknya, persilangan antara genre elektronik dengan rock merupakan sebuah produk perkembangan zaman, dan jelas itu tidak bisa dihindarkan.

Big beat yang diusung oleh The Prodigy dan Chemical Brothers tentu bukan satu-satunya persilangan musik elektronik dengan rock. Ada juga istilah industrial dan EBM, yang kerap sering dielu-elukan oleh skena pesta dan para pencinta musik dansa.

Lalu, apakah sebenarnya dua genre itu? Tidak jauh berbeda dengan big beat, industrial dan EBM merupakan sub-genre yang berada di bawah bayang-bayang elektronik, tapi sangat tertular sedikit pengaruh rock.

Industrial merupakan sebuah aliran musik yang kerap diasosiasikan dengan sound futuristik nan "keras", bak yang sering terdengar di sebuah pabrik (industri/kawasan industri). Nama ini diangkat dari label grup musik dan visual eksperimental dari tanah Inggris, Throbbing Gristle, yang bernama Industrial Records.

Musik ini kembali menarik beberapa komponen punk dan mencampurnya pendekatan elektronik eksperimental. Karakteristik yang umum untuk perihal musik industrial itu cukup buram. Pada awalnya musik industrial dirancang untuk "menciptakan ulang" musik rock, melalui suara-suara aneh via instrumen rock seperti gitar, synth, bass dan drum.

Penggunaan efek untuk menghasilkan bebunyian yang berbeda juga kerap digunakan. Konten liriknya kasar dan penuh hal-hal tabu. Dewasa ini, musik industrial tidak lagi terikat dengan hal-hal demikian, mereka lebih diasosiasikan dengan musik 4 to the floor (ketukan 4/4) yang keras, kadang diiringi oleh suara-suara macam hentakan besi atau deru mesin.

Serupa dengan industrial, EBM, atau Electronic Body Music, adalah sub-genre dari pohon keluarga elektronik dan rock. Awalnya berasal dari istilah body music, yang diterapkan kepada musik rock keras era tahun 60-70an milik Led Zeppelin, Black Sabbath. Musik mengajak badan untuk bergerak tapi tidak berdansa, melainkan mengikuti dentuman agresif.

EBM adalah musik elektronik yang berisikan beat-beat keras yang dipadukan dengan bassline repetitif dan vokal berteriak atau growling. EBM juga dimainkan dengan ketukan 4/4 dan menggunakan suara synth seperti Korg MS-20, Emulator II, Oberheim Matrix dan Yamaha DX7. Struktur ritmiknya menyerupai komposisi rock.

Kedua genre tersebut kerap juga diangkat sebagai rujukan oleh para musisi yang berkecimpung dalam dunia techno dalam menciptakan karya. Contohnya Sunmantra, trio elektronik asal Jakarta yang sulit dikategorikan ke dalam kotak genre.

Tidak jarang mereka menghasilkan sound  EBM hingga industrial dalam set-set mereka yang bertenaga tinggi. Trio tersebut juga turut melibatkan instrumen gitar listrik untuk memperkaya musiknya yang gelap dan mistis. Contoh lain adalah Fisika Matematika. Duo dari Jakarta ini lebih secara gamblang memainkan sound EBM dan industrial.

Kemiripan dua sound musik ini adalah provokasi yang mereka hasilkan, keduanya tidak mengajak pendengar untuk hilang dalam kenyamanan, tapi menyentak badan dengan volume maksimum. Campur tangan sound rock yang hadir tidak hanya sound, seringkali atmosfer dan emosi yang terpantik juga memiliki karakteristik rock.

Sementara itu, tubrukan elektronik dengan punk, Britania Raya tentu memiliki sebuah bab khusus. Terjalinnya kedua hal tersebut nantinya akan menghasilkan sebuah genre musik besar yang menjadi tolak ukur, rujukan, dan kiblat dari sebuah genre yang unik: new wave.

Genre tersebut adalah perpaduan punk rock dengan ketukan disko yang catchy dan kuat sentuhan pop-nya. Era akhir 70-an dan awal 80-an, sound punk sudah bergeser menjadi post-punk dan new wave di kancah permusikan Britania Raya. Kedua genre ini memang sering diangkat secara bersamaan, karena era kemunculan dan kejayaannya juga beriringan.

New wave adalah gebrakan baru dari gelombang pertama musik punk (Sex Pistols, Ramones, dkk), berbeda dengan post-punk, yang umumnya terkesan dalam dan gelap, genre ini dihasilkan dari instrumen elektronik macam synthesizer, dan dibungkus aransemen yang lebih "pop".

Unsur pop yang kental inilah yang kemudian membuatnya menjadi pangkal bagi sejumlah genre lainnya. Lewat nama-nama besar seperti Depeche Mode, New Order, Public Image Ltd., dll; new wave disandang menjadi sebuah genre yang mendefinisikan era 80-an.

Di kancah musik indonesia, tentu new wave inspirasi bagi beberapa band veteran The Upstairs dan Goodnight Electric. Nada dan nuansa retro yang mereka tampilkan sebagai konsep bermusik sangat lekat new wave. Alunan synth beririsan dengan format band serta sound punk dalam kentalnya ramuan new wave. Alhasil? unsur pop seakan meleleh keluar dari musik mereka.

Menapak masuk ke era 90-an, tapi masih melibatkan peran new wave didalamnya, maka kita sampai di electroclash. Sound ini mencampurkan sentuhan electro dan new wave yang dipadukan dengan pop retro yang memiliki referensi dari video game (era kejayaan arcade, atau Atari-era) ini hadir dengan elemen pop dan elektronik dominan dibanding darah rock.

Perkembangan electroclash menghasilkan sejumlah nama segar dalam kancah rock ketika didaur dan diolah dengan format yang dengan rock. Hasilnya muncul unit seperti Justice, atau LCD Soundsytem. Melihat tumbuh kembangnya, electroclash merupakan upaya untuk menggunakan elemen pop yang lebih dominan.

Sementara di Indonesia, juga nama-nama seperti RNRM (Rock N' Roll Mafia) dan Agrikulture bising terdengar. Lewat sound elektronik dengan pop kental, mereka dengan lantang membuat kita bergoyang di lantai dansa. Dentum nada yang fun dan riang sanggup memanaskan suasana yang seakan mengajak berdansa. Topik lirik mereka tidak gelap seperti big beat, industrial, EBM, atau new wave sekalipun, justru ringan dan lebih dekat dengan keseharian kota.

Musik rock atau musik elektronik, sama seperti sejumlah jenis musik lainnya, tentulah akan saling digabung-gabungkan melalui rentetan eksperimen. Keduanya saling ditabrakkan ketika musisi mengangkat instrumen, mulai berkarya dan mencoba mencapai sesuatu yang baru. Ada baiknya kita bersifat terbuka dan menghargai hendaknya musisi mencoba menggabungkan beberapa referensi musik yang memang berbeda.

Jika memang tidak sejalan dengan selera kita, coba susun kritik yang membangun. Pegiat musik rock tidak sedikit merupakan individu yang menolak keras perpaduan musik rock itu dengan yang lainnya, yang adalah wajar, karena selera musik merupakan hak masing-masing orang, tapi cobalah untuk berpikiran terbuka dan menghargai mereka yang telah berusaha menggodok dan memeras otak untuk bisa menghasilkan hal baru. Lagi pula, perubahan merupakan sebuah hal yang tidak bisa dihindari.

0 COMMENTS